
Usai makan, Melani langsung beranjak ke kamar nya untuk bersiap-siap. Haiden menunggu diruang tamu di temani Papi dan Mami Melani.
"Ngomong-ngomong apa kabarnya Jenderal Sulistyo Den?" Tanya Papi Melani kepada Haiden.
Haiden mengernyitkan dahinya lalu berkata "Baik Om. Om kenal Om Sulistyo juga?".
"Kenal. Tuan besar dulu memperkenalkan Om dengan anak angkatnya itu. Ada beberapa kali kami bertemu. Tapi sudah cukup lama juga kami tidak pernah bertemu lagi" Jawab Papi Melani menjelaskan kepada Haiden.
Haiden menganggukkan kepalanya beberapa kali lalu berkata "Sudah lama dong berarti Om kenal Om Sulistyo".
"Lumayan" Kata Papi Melani membalas ucapan Haiden.
"Ayok yank. Aku sudah siap yank" Kata Melani tiba-tiba sudah berdiri dihadapan Haiden, Mami dan Papinya tanpa mereka sadari.
"Oke tan, Om. Haiden sama Melani pergi dulu ya" Kata Haiden berpamitan dengan Mami dan Papi Melani sembari mencium tangan Papi dan Mami Melani bergantian.
Papi Melani tersenyum sambil Mengangguk. Mami Melani tersenyum dan Menjawab "Hati-hati dijalan ya".
Setelah Haiden, Melani pun mencium tangan kedua orang tuanya bergantian dan ber kata "Melani pergi dulu ya Pi, Mi".
Kedua orang tua Melani mengikuti langkah Haiden dan Melani dari belakang saat Haiden dan Melani melangkah keluar dari dalam rumah. Langkah kedua orang tua Melani berhenti sampai teras rumahnya, sedangkan Haiden dan Melani tetap melangkah menuju Mobil Haiden.
Saat mobil Haiden keluar melewati pintu gerbang rumahnya, barulah Papi dan Mami Melani kembali masuk ke dalam rumahnya. Melihat mobil Haiden keluar dari rumah Melani, dua mobil pengawal Haiden dan dua mobil pengawal yang ditugaskan untuk mengawal Melani pun ikut melaju.
Dua mobil pengawal melaju mendahului mobil Haiden untuk mengawal di depan. Sedangkan dua mobil pengawal lainnya tetap melaju mengawal di belakang mobil Haiden.
Di perjalanan Handphone Haiden berdering tanda panggilan masuk. Haiden langsung mengangkat telepon nya setelah melihat siapa yang sedang menghubungi di layar Handphone nya.
"Ya Hallo Om" Kata Haiden kepada Jenderal Sulistyo, kemudian diam mendengarkan ucapan Jendral Sulistyo lewat Handphone nya.
"Ini Haiden lagi di jalan menuju Hotel. Kita ketemu di kamar Om atau di Resto?" Tanya Haiden kepada Jendral Sulistyo, kemudian diam sejenak mendengarkan jawaban Jenderal Sulistyo.
Melani tidak mendengar ucapan Jenderal Sulistyo, tapi dia dapat menebak bahwa yang sedang menghubungi Haiden adalah Jenderal Sulistyo. Dia hanya bisa mendengarkan Haiden berbicara dengan Handphone nya dan sesekali melirik kekasihnya itu sedang berbicara sendiri.
__ADS_1
"Oke om" Kata Haiden kepada Jenderal Sulistyo kemudian menutup Handphone nya.
"Om Sulistyo yank?" Tanya Melani kepada Haiden untuk memastikan apakah tebakan nya itu benar atau tidak.
"Iya yank. Sudah nungguin dia" Jawab Haiden sembari tetap Fokus menyetir mobilnya.
"Ngomong-ngomong kamu kok mau ajak aku ketemu Om Sulistyo yank?" Tanya Melani.
"Aku mau bahas soal masalah kita saat ini dengan Om Sulistyo, makanya aku pikir kamu juga harus ada" Jawab Haiden.
Melani hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali tanda memahami penjelasan Haiden. Keperdulian Haiden padanya dan pada hubungan mereka membuat cinta Melani semakin bersemi terhadap Haiden.
Melani menoleh menatap wajah Haiden berkata "I Love You Yank".
Mendengar ucapan Melani itu, Haiden pun menoleh menatap wajah Melani sembari menjawab "I Love You To", lalu kembali lagi menatap kedepan, fokos menyetir mobilnya.
Sesampainya di parkiran Hotel Admadja Residance, Haiden dan Melani langsung keluar dari dalam mobil setelah Mobil Haiden itu terparkir di tempat parkir khusus.
Sambil tetap berjalan, Haiden hanya membalas dengan senyuman ramahnya setiap ada yang memberi hormat padanya. Melani juga turut tersenyum karena rasa bangganya bisa mendampingi seseorang Haiden saat ini.
Haiden dan Melani terus bergandengan tangan sepanjang jalan menuju Restoran di Hotel itu. Jenderal Sulistyo sudah menanti kedatangan Haiden di Restoran Hotel Admadja sejak ia menghubungi Haiden tadi saat di perjalanan.
Sesampainya di dalam Restoran, Haiden mengambil Handphone dari dalam saku depan celananya untuk menghubungi Jenderal Sulistyo. Haiden belum tahu seperti apa sosok Om angkatnya itu.
Saat Haiden memanggil nomor Jenderal Sulistyo, ada suara orang yang memanggil namanya. Dia menoleh kearah suara itu berasal.
Haiden melihat seorang pria tampan bertubuh tinggi tegap sedang melambaikan tangannya, berdiri dibalik meja makan dan berkata "Ini Om Sulistyo Den".
Haiden tersenyum kemudian berjalan mendekati Jenderal Sulistyo bersama Melani. Setelah Haiden langsung menyalami dan mencium tangan Jenderal Sulistyo.
Melani juga mengikuti jejak Haiden. Dia menyalami dan mencium tangan jenderal Sulistyo sebagai etika yang muda menghargai yang tua dalam kekeluargaan.
"Om Kok bisa langsung mengenali Haiden Om?" Tanya Haiden setelah duduk di kursi nya bersama Melani disampingnya.
__ADS_1
"Ya tahulah. Kakek kan sudah mengirim foto-foto kamu sama Om" Jawab Jenderal Sulistyo sembari tersenyum.
Jenderal Sulistyo melirik Melani lalu bertanya pada Haiden "Jadi ini yang namanya Melani Den?".
"Iya Om" Jawab Haiden sembari tersenyum.
"Oh iya Om. Om kenal dengan Ketua pusat gangster Panca Karya?" Tanya Haiden kepada Jenderal Sulistyo.
"Johan?" Kata Jenderal Sulistyo balik bertanya pada Haiden.
"Iya Om" Jawab Haiden.
Jenderal Sulistyo terdiam sejenak kemudian berkata "Dia Gembong nomor satu di Indonesia saat ini. Dia Presiden di dunia hitam saat ini".
Haiden mengernyitkan dahinya lalu bertanya "Kalau Om tahu dia gembong Narkoba, kenapa Om tidak menangkapnya?".
Mendengar pertanyaan Haiden itu Jenderal Sulistyo tertawa lalu berkata "Tidak semudah itu Den. Kamu ini masih sangat polos".
"Dia bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan di Negara ini. Bahkan sebagian Oknum Polisi berpangkat tinggi juga bekerja sama dengannya" Kata Jenderal Sulistyo menjawab pertanyaan Haiden.
"Emang kenapa kamu kok tiba-tiba bertanya soal Johan?" Tanya Jenderal Sulistyo kepada Haiden.
"Menurut informasi dari Boy ketua Panca Karya Sumatera Utara, Johan lah yang telah menugaskan dia untuk memisahkan Melani dengan Haiden Om. Tapi dia mengaku tidak mengetahui apa sebabnya Johan itu ingin memisahkan kami" Jawab Haiden.
Jenderal Sulistyo tampak mengernyitkan dahinya lalu bertanya pada Melani "Kamu mengenal Johan Mel?".
"Enggak Om" Jawab Melani spontan setelah mendengar pertanyaan Jenderal Sulistyo padanya.
"Ini kasus yang sulit Om tembak Den" Kata Jenderal Sulistyo kepada Haiden.
"Lalu kira-kira apa yang bisa kita lakukan selanjutnya menurut Om?" Tanya Haiden kepada Jenderal Sulistyo.
"Kamu tenang dulu. Biar Om perintahkan anggota Om yang sedang menyamar untuk menyelidiki, apa Motif si Johan untuk memisahkan kalian sebenarnya" Jawab Jenderal Sulistyo.
__ADS_1