
Tepat Jam tiga sore Haiden tiba di kantor Panca Karya pusat bersama Aryo dengan sepuluh orang pengawalnya, termasuk Imam, Bimo dan Indra. Di luar area kantor Panca Karya, para pengawal Haiden berjaga-jaga secara rahasia.
Saat turun dari mobil, Haiden beserta rombongan nya langsung di hampiri oleh dua orang pemuda bertubuh penuh tatto. Haiden dan rombongannya tampak berdiri didekat mobil mereka, menanti kedua pemuda bertatto itu mendekati mereka.
"Siapa kalian, dan ada perlu apa ke sini?" Tanya salah seorang dari dua pemuda bertatto itu kepada Haiden.
Haiden tersenyum lalu menjawab "Kami datang kesini atas undangan ketua Johan. Jadi tolong sampaikan kepada ketua Johan, Haiden sudah datang".
"Baik. Tunggu di sini dulu sebentar. Gue sampaikan dulu pada ketua Johan" Kata pemuda bertatto itu, membalas jawaban Haiden, kemudian melangkah meninggalkan Haiden beserta rombongan nya.
Pemuda bertatto itu tampak berlari kecil hingga masuk kedalam gedung kantor Panca Karya. Sesampainya di depan pintu ruang kerja Johan, pemuda brrtatto itu mengetuk pintu beberapa kali.
"Masuk saja" Kata Johan yang berada di dalam ruang kerjanya.
Setelah masuk kedalam ruang kerja Johan, anggota Panca Marga itu langsung mengatakan "Lapor ketua. Haiden sudah ada dibawah".
Johan mengangguk anggukkan kepalanya sebelum mengatakan "Bawa mereka ke Aula kita".
Sebenarnya Johan sudah tahu ada dua puluh dua orang yang baru saja keluar dari mobil mereka masing-masing saat melihat monitor CCTV di atas meja kerjanya. Tapi Johan tidak mengetahui dengan pasti, siapa dua belas orang yang baru saja datang itu, sebelum di beritahu oleh anggotanya tadi.
Stelah menerima perintah untuk membawa Haiden dan rombongannya, anggota Panca Karya itu langsung bergegas meninggalkan ruang kerja Johan untuk menjemput dan mengantar Haiden ke Aula yang terletak di lantai dua dalam di gedung kantor Panca Karya itu.
"Kalian semua ikut Gue. Kita ke Aula, bertemu dengan dengan ketua Johan di sana" Kata anggota Panca Karya itu, yang baru saja melapor kepada ketuanya tadi kepada Haiden dan rombongannya.
Haiden dan rombongannya mengikuti langkah anggota Panca Karya itu dari belakangnya. Setelah menaiki tangga dari lantai dasar sampai lantai dua, anggota Panca Karya itu langsung membawa Haiden beserta rombongannya masuk kedalam Aula yang cukup luas itu.
Saat Haiden beserta rombongan di bawa masuk ke dalam Aula oleh anggota gangster Panca Karya itu, Aula dalam keadaan sepi tdak orang satupun. Anggota gangster Panca Karya itu mempersilahkan duduk Haiden beserta rombongannya di kursi yang biasa di pakai untuk tamu undangan bila ada acara.
__ADS_1
Haiden, Aryo, Bimo, Indra, Imam dan beberapa Pengawalnya yang bertugas di Jakarta itu duduk di barisan paling depan. Sisanya duduk dibelakang barisan Haiden. Di hadapan Haiden dan rombongannya terdapat meja dan kursi yang bila di duduki oleh beberapa orang disana, maka orang-orang tersebut akan terlihat seperti Hakim yang sedang menghadap peserta sidang di pengadilan.
Setelah beberapa saat menanti, Akhirnya Haiden beserta rombongan melihat sosok Johan sedang berjalan menuju kursi dan meja yang ada di hadapan mereka. Johan duduk di tengah diantara empat orang bawahannya.
Puluhan anggota Panca Karya berdiri dibelakang Johan. Suasana di dalam Aula itu hening namun tampak sangat menegangkan.
"Selamat datang tuan muda Haiden" Kata Johan yang berda dihadapan Haide.
"Termasuk kasih atas penyambutannya ketua Johan" Balas Haiden sembari tersenyum.
Johan tersenyum mendengar ucapan Haiden lalu berkata "Anggota saya mengatakan anda ingin bertemu saya. Ada perlu apa kira-kira tuan muda Haiden?".
Haiden tersenyum mendengar ucapan basa basi Johan, lalu membalas "Begini ketua Johan. Sebelum ketua Panca Karya SUMUT mati dibunuh, kami sempat bertemu dan bertarung. Karena kalah bertarung, ketua Boy harus mengatakan siapa yang telah menugaskan dia untuk mengincar Melani dan apa tujuannya".
"Dia menjawab, Ketua Johan lah yang telah menugaskan dia untuk membuat Melani harus mau menjauhi saya. Tapi dia tahu kenapa anda ingin memisahkan Melani dengan saya. Benar begitu ketua?" Kata Haiden melanjutkan penjelasannya, sembari bertanya balik kepada Johan.
Haiden tersenyum mendengar ucapan Johan lalu berkata "Kalau benar, apa tujuan ketua Johan sebenarnya. Untuk apa anda ingin memisahkan Melani dengan saya?".
"Kalau saya tidak mau mengatakannya anda bisa apa tuan muda Haiden?" Balas Johan sembari balik bertanya.
Haiden diam sejenak sebelum menjawab "Saya menantang anda bertarung satu lawan satu. Bila anda kalah, anda harus mengatakan semua nya. Dan kalau saya kalah, silahkan ajukan tawaran anda".
Mendengar jawaban Haiden itu, Johan kembali tertawa lebar sebelum berkata "Anda benar-benar memiliki nyali. Anda memang layak menjadi menantu saya".
Haiden langsung mengernyitkan dahinya setelah mendengar ucapan Johan barusan. Dalam hatinya Haiden bertanya "Menantu?".
"Apa maksud anda saya layak menjadi menantu anda?" Tanya Haiden.
__ADS_1
"Anda tidak usah banyak tanya dulu. Saya akan mengajukan tawaran saya sebelum kita bertarung" Kata Johan menjawab pertanyaan Haiden.
"Baik. Katakan" Balas Haiden.
Johan tersenyum lalu berkata "Kalau anda kalah, maka anda harus mau menikah dengan putri saya" Kata Johan mengajukan tawaran untuk taruhan pertarungan mereka.
"Siapa putri anda" Tanya Haiden spontan mendengar ucapan Johan barusan.
Johan tertawa lebar sebelum menjawab "Nanti usai pertarungan kita, saya akan memberi tahu anda" Kata Johan menjawab pertanyaan Haiden.
"Baik. Ayo kita mulai pertarungan kita" Kata Haiden membalas jawaban Johan.
"Baiklah" Kata Johan sebelum dia memerintahkan anggota nya untuk menyingkirkan meja dan kursi yang di duduki nya dengan pembesar Gangster Panca Karya yang mendampingi dia tadi.
Haiden beserta rombongannya bangkit dari duduknya masing-masing karena kursi mereka juga akan disingkirkan agar arena pertarungan Haiden dengan Johan cukup luas. Setelah kursi dan meja disingkirkan, seluruh anggota gangster Panca Karya dengan seluruh rombangan Haiden berdiri ditepi ruangan.
Kini hanya Haiden dengan Johan saja yang berada ditengah Aula itu. Johan membuka kemejanya sehingga tampaklah seluruh tatto yang menutupi tubuhnya kekarnya.
Haiden juga membuka kemejanya sehingga terlihat tubuh atletis Haiden, putih mulus tanpa adanya tatto. Melihat sosok Haiden dalam hati Johan berkata "Pantas putrimu tergila-gila pada bocah ini".
Haiden dan Johan tampak sama-sama memasang kuda-kuda sebelum Johan tiba-tiba melangkah kan kakinya sebanyak tiga kali lalu melompat untuk menerjang dada Haiden dengan kakinya. Kecepatan Johan ternyata luar biasa sehingga kaki Johan berhasil mendarat di dada Haiden.
Haiden memang tidak sempat menghindari serangan kaki Johan karena kecepatan gerakan Johan yang luas biasa tadi. Karenanya Haiden sampai mundur beberapa langkah.
Meskipun mengenai sasaran dan membuat lawannya mundur beberapa langkah tapi Johan terlihat kaget. Dalam hatinya dia berkata "Kuat juga bocah ini".
Kalau bukan Haiden yang menjadi lawan Johan saat ini, besar kemungkinan lawannya itu akan muntah darah setelah menerima serangannya tadi. Itu yang membuat Johan Heran mengetahui bahwa lawannya saat ini tidak bisa dianggap remeh.
__ADS_1