SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
LEDAKAN MAUT


__ADS_3

"Serius Ketua?" Tanya Gubernur A Cin menanggapi ucapan Haiden.


Haiden tersenyum sebelum menjawab "Serius pak Gubernur. Ini demi keselamatan pak Gubernur dan keluarga bapa".


"Selain itu agar mereka lengah, tidak curiga kalau kita akan memburu mereka balik. Kita akan menghapus penjajahan Oligarki terhadap bangsanya sendiri" Lanjut kata Haiden menjawab pertanyaan Gubernur A Cin.


Mendengar jawaban Haiden atas pertanyaan nya, Gubernur A Cin mengangguk anggukkan kepalanya sebelum berkata "Kalau menurut ketua itu yang terbaik untuk saya lakukan maka akan saya lakukan ketua".


"Dan ingat, berhati-hati dengan anggota TNI di sekitar pak Gubernur. Kita tidak tahu anggota TNI yang tetap setia kepada Presiden Purwanto dan mana yang berpihak pada Oligarki" Kata Haiden mengingatkan Gubernur A Cin.


"Siap ketua" Kata Gubernur A Cin membalas ucapan Haiden.


"Artinya, sosialisasi untuk menaikkan elektabilitas kami berdua di hentikan dulu bro?" Tanya Mardan kepada Haiden.


"Sosialisasi tetap berjalan namun jangan terlalu mencolok. Yang biarkan kader Partai Panca Karya saja yang bergerak, kalian berdua senyap dulu sementara" Kata Haiden menjawab pertanyaan Mardan.


Mendengar dan memahami maksud dari ucapan Haiden, Mardan hanya mengangguk anggukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dan jawaban Haiden tersebut sebagai penutup pembicaraan mereka bertiga.


Usai berpamitan dengan Gubernur A Cin, Haiden dan Mardan langsung langsung berpisah dari rumah dinas Gubernur Sumatera Utara menuju rumah masing-masing.


Malam ini Haiden dan Melani akan membawa Irjen Aryo beserta Wanda ke rumah papi dan mami Melani. Mami Melani sudah menyiapkan makan malam spesial untuk menyambut kedatangan keponakannya.


Tiba di rumah, Haiden menyempatkan untuk mengobrol dengan Irjen Aryo dan ketiga bawahannya sebelum mandi dan berganti pakaian. Saat Haiden sedang asyik ngobrol dengan Irjen Aryo dan ketiga bawahannya, Melani dan Wanda sedang bersiap-siap di kamar masing-masing.


"Oligarki sudah semakin biasa mas. Gubernur A Cin pun sudah mulai di teror" Kata Haiden kepada Irjen Aryo.


"Terus langkah apa yang kamu berikan pada nya Den?" Tanya Irjen Aryo kepada Haiden.

__ADS_1


"Saya suruh dia berpura-pura tetap di dalam lingkaran Oligarki dan akan membatalkan rencana berpasangan dengan Mardan di Pemilihan Gubernur nanti Mas" Jawab Haiden.


Mendengar penjelasan Haiden barusan, Irjen Aryo tersenyum sembari mengangguk anggukkan kepalanya sebelum berkata "Bagus itu. Demi keselamatan dia dan keluarganya. Juga bagus untuk mata-mata Den".


"Saya tidak mau menjadikannya mata-mata Mas. Kalau ketahuan malah bisa berantakan semuanya" Kata Haiden menanggapi ucapan Irjen Aryo.


"Benar yang kamu katakan Den. Tapi alangkah bagusnya kalau kita punya mata-mata yang bisa menyusup ke Oligarki" Kata Irjen Aryo menanggapi ucapan Haiden.


Haiden tersenyum mendengar ucapan Irjen Aryo lalu berkata "Kita tidak perlu mata-mata Mas. Sebab kita punya Hacker yang cukup hebat. Dia mampu mencuri segala informasi penting yang kita butuhkan".


Irjen Aryo mengernyitkan dahinya sebelum bertanya "Hancker?".


"Iya Mas. Semua informasi Oligarki berencan mengkudeta Presiden Purwanto dan berniat menghabisi saya itu dari Hacker yang saya bayar untuk membobol Data jaringan Oligarki. Om Sulistyo belum cerita ke Mas ya? Jawab Haiden sembari bertanya balik pada Irjen Aryo.


"Belum. Om Sulistyo belum ada cerita ke saya. Soal Hacker yang kamu bayar itu, berarti dia cukup Profesional Den. Tapi nyawanya bisa terancam loh" Jawab Haiden sembari memberi tanggapan pada Hacker yang dibayar Haiden.


"Tenang Mas. Dia berada di luar Negeri. Dan keberadaan nya sangat sulit di pantau" Kata Haiden menanggapi ucapan Irjen Aryo.


"Mami sudah siap loh Pi. Papi ga mandi?" Kata Melani tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Haiden.


"Oh iya, maaf ya mi. Papi keenakan ngobrol ni" Balas Haiden sebelum beranjak dari ruang tamu ke kamarnya.


Beberapa menit setelah Melani duduk dan mengobrol dengan Irjen Aryo beserta ketiga bawahannya, Wanda dan kedua anaknya terlihat berjalan menuju ruang tamu. Tiba di ruang tamu Wanda langsung duduk disebelah Irjen Aryo bersama anak-anaknya, berhadapan dengan Melani.


"Haiden mana Mel?" Tanya Wanda kepada Melani.


"Baru saja masuk ke kamar untuk mandi dan siap-siap" Kata Melani menjawab pertanyaan kakak sepupunya itu.

__ADS_1


"Oalah. Kirain uda siap. Si kembar mana? Kata Melani menanggapi jawaban Melani sembari bertanya.


"Ada di kamar mereka bersama babysitter kak" Jawab Melani.


"Mereka ga ikut?" Tanya Wanda


"Ikutlah kak. Mana mungkin ga ikut. Mereka sudah siap, tinggal berangkat saja" Jawab Melani.


Sementara itu, di rumah papi dan mami Melani, para asisten rumah tangga terlihat sedang menyiapkan hidangan untuk keluarga kecil Haiden dan keluarga kecil Irjen Aryo di meja makan. Sedangkan papi dan mami Melani tampak asyik menonton Tv sembari menanti kedatangan, anak, keponakan, menantu dan juga cucu-cucu mereka.


"Sudah jam delapan kok mereka belum nyampek juga ya pi" Kata Mami Melani kepada papi Melani yang sedang duduk sambil memeluknya dari belakang.


"Ya sabarlah Mi. Mami kan tahu, mantu mami itu orang super sibuk" Balas papi Melani menenangkan perasaan istrinya.


Dirumahnya, Haiden dan Melani baru saja terlihat masuk kedalam mobil bersama Irjen Aryo, Wanda dan empat orang babysitter yang menjaga anak-anak mereka. Satu mobil pengawal Haiden terlihat berjalan keluar terlebih dahulu dari pelataran rumah megah itu.


Mobil Haiden menyusul di ikuti satu mobil pengawal lagi untuk mengawal dari belakang. Irjen Aryo duduk di jok depan disebelah Haiden yang terlihat fokus menyetir mobilnya.


Melani, Wanda dan anak-anak mereka duduk di jok tengah. Sedangkan empat babysitter yang sehari-harinya menjaga anak-anak Haiden duduk di jok belakang.


Disepanjang jalan, Haiden, Melani, Irjen Aryo dan Wanda terlihat asyik mengobrol santai. Berbagai macam hal mereka obrolkan.


Saat mendekati rumah papi dan mami Melani tiba-tiba "BOM", mata Haiden, Melani, Irjen Aryo, Wanda dan keempat orang babysitter yang menjaga anak-anak mereka terbelalak menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri rumah papi dan mami Melani meledak.


Api besar terlihat menyala dibangun rumah papi dan mami Melani yang terlihat sudah roboh sebagian besar itu. Melani seketika menangis sejadinya sembari teriak "Papi...! Mami...!"


"Wanda juga menangis sejadinya sembari teriak "Om...! Tante..!" Bersamaan dengan teriakan Melani.

__ADS_1


Haiden dan para pengawalnya menghentikan mobil mereka tidak terlalu dekat dengan rumah papi dan melani yang masih menyemburkan api. Sekitar rumah papi melani langsung menjadi kerumunan tetangga yang mendengar suara ledakan yang cukup besar itu.


Delapan orang pengawal Haiden yang bertugas mengawal papi melani terlihat terkapar tak sadarkan diri akibat terkena puing-puing bangunan rumah yang terlempar ke mereka saat ledakan itu terjadi. Dua orang satpam yang bertugas untuk menjaga rumah papi dan mami Melani tertimpa bangunan pos satpam yang ikut roboh.


__ADS_2