
Tiba di kampus, Melani mengecup pipi Haiden sebelum turun dari mobil dan berjalan menuju kelasnya. Saat Haiden mau keluar lagi dari parkiran, tiba-tiba Suherman datang menghampiri Haiden.
"Mau kemana lagi bro?" Tanya Suherman saat Haiden keluar dari dalam mobilnya.
"Mau ke kantor bro. Aku ngantar Melani aja" Jawab Haiden.
"Ga ada kelas ni hari rupanya?" Tanya Suherman lagi.
"Ada. Tapi entar sore" Jawab Haiden lagi.
"Oh ya udalah. Entar sore ajalah kita ketemu lagi. Aku ada kelas juga lagi entar sore" Kata Suherman membalas jawaban Haiden.
"Okelah. Aku gerak dulu lah kalau gitu ya" Kata Haiden pamit pada Suherman.
"Oke sip" Balas Suherman.
Setelah bersalaman khas persahabatan mereka, Haiden langsung masuk kedalam mobilnya. Perlahan mobil Haiden melaju keluar dari area kampusnya.
Di tengah perjalanan menuju kantor Admadja Grup tiba-tiba mobil sedan sport yang di kendarai Haiden dihadang mobil mini bus berwarna Hitam. Di jalan yang agak terlihat sepi itu, dari dalam mobil mini bus tersebut keluar lima orang pemuda, masing-masing memegang pentungan.
Saat mereka akan mendekati mobilnya, Haiden keluar dari dalam mobil, lalu bertanya "Siapa kalian, dan mau apa?".
Di hadapan Haiden, berjarak sekitar dua meter kelima pemuda itu menghentikan langkah mereka. Salah seorang dari mereka berlima berkata "Serang dia"
Tanpa menjawab pertanyaan Haiden, ke empat pemuda itu menuruti perintah salah seorang temannya itu. Mereka berempat langsung menyerang Haiden secara membabi buta sebelum tersadar, mereka seperti memukul besi ketika Haiden menangkis pentungan mereka dengan tangannya.
Suara yang keluar saat pentungan mereka beradu dengan tangan Haiden, tidak ada bedanya dengan suara bila pentungan mereka beradu dengan besi. Saat tersadar, mereka berhenti menyerang Haiden, sebab timbul perasaan takut pada nyali mereka.
__ADS_1
Mereka melihat Haiden tidak merasakan sakit sedikit pun. Padahal tidak ada yang menutupi lengannya yang dipenuhi dengan tatto itu.
"Sekali lagi aku tanya, siapa kalian dan mau apa. Kalau tidak mau menjawab, jangan salahkan aku kalau kalian harus ke rumah sakit atau ke kuburan sekalian" Kata Haiden ke pada ke lima pemuda itu.
Sebelum ada yang menjawab pertanyaan Haiden, tiba-tiba pemuda yang memerintahkan ke empat temannya tadi menyerang Haiden sembari berkata "Banyak bacot lo".
Pemuda itu mengarahkan pentungan yang ada di genggamannya ke arah kepala Haiden. Namun dengan gesit Haden menangkis pentungan itu dengan tangannya.
"Ting...!" Lagi-lagi suara yang keluar dari pentungan pemuda itu saat beradu dengan tangan kiri Haiden, persis seperti suara saat pentungan beradu dengan besi.
Saat tangan kiri Haiden menangkis serangan pentungan pemuda itu agar tidak mengenai kepalanya dari atas, tangan kanan Haiden meluncur dengan cepat ke perut pemuda itu. Haiden sudah mampu mengontrol kekuatan tangan besi nya, sehingga pemuda itu hanya muntah biasa, bukan muntah darah saat tinju Haiden mendarat mulus di perutnya.
Setelah mengeluarkan makan dari dam perutnya, pemuda itu jatuh terduduk di lantai. Dia merasakan sakit yang cukup luar biasa pada perutnya.
Kedua tangan pemuda itu terus memegang perutnya, berharap rasa sakit itu berkurang saat dipegangnya sendiri. Tapi ternyata rasa sakit itu tidak berkurang sedikit pun.
Keempat temannya langsung mendekatinya. Salah seorang diantara keempat temannya itu berkata "Masih bisa bangkit Boss? Kalau bisa, ayo kita pergi dari sini.
Keempat pemuda itu membantu Boss mereka bangkit. Saat di posisi berdiri namun dipegangi keempat anak buahnya, Boss dari keempat pemuda itu berkata "Gue pasti akan kembali mencari Lo Haiden".
"Gue akan membalas kan dendam adik Gue, juga dendam Gue atas kematian Bokap Gue" kata pemuda yang baru saja dibuat muntah oleh Haiden itu lagi.
Haiden langsung ngeh dengan ucapan Boss dari keempat pemuda yang masih ada dihadapannya saat ini.
"Jadi kau ini abangnya Winda dan anak si Johan juga?" Tanya Haiden kepada pemuda itu untuk memastikan perkiraan nya.
"Iya. Gue Darma anak sulungnya. Tunggu pembalasan Gue Haiden" Kata putra sulung almarhum Johan itu.
__ADS_1
Haiden tersenyum menanggapi ucapan Darma yang ternyata putra dari almarhum Johan itu sebelum dia mengatakan "Ayahmu mati dan adikmu di tahan Polisi itu karana perbuatan mereka sendiri. Harusnya kau balas dendam pada mereka".
Wajah dan mata Darma memerah mendengar ucapan Haiden karena amarahnya memuncak. Tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa selain berkata "Lo tunggu aja pembalasan Gue Haiden".
"Ya sudah, Aku tunggu saja kalau begitu. Buat kalian berempat, cepat bawa Boss kalian itu cepat-cepat ke rumah sakit sebelum terlambat" Balas Haiden dengan nada remeh menanggapi ucapan Darma tadi.
Keempat anak buah Darma itu langsung memapah Darma berjalan ke arah mobil yang dikendarai mereka tadi.Setelah memasukkan Darma kedalam mobil, barulah keempat anak buahnya masuk kedalam mobil.
Setelah semuanya masuk, mobil mini bus warna hitam itupun melaju dengan cepat meninggalkan Haiden. Dia menggelengkan kepalanya saat melihat mobil orang-orang yang baru saja menyerangnya itu melaju pergi meninggalkan nya.
Saat akan masuk ke dalam mobil, Handphone Haiden berdering tanda panggilan masuk. Setelah mengambil Handphone dari saku depan celananya, dia melihat nama Papi Melani yang tampil di layar Handphone nya.
"Hallo iya Om" Kata Haiden menjawab telepon dari Papi Melani.
"Om sudah di kantor kamu ni Den" Balas Papi Melani yang terdengar di Handphone Haiden.
"Oh iya, tunggu sebentar ya Om. Haiden sudah di jalan menuju ke sana kok" Balas Haiden sebelum menutup pembicaraan dan menutup telepon nya.
Mobil Haiden langsung terlihat melaju dengan kecepatan tinggi, setelah beberapa saat dia masuk ke dalam mobil sport super mewahnya itu. Haiden tidak mau membuat kecewa Papi Melani karena menunggu lama dirinya.
Di parkiran kantor Admadja Grup, saat keluar dari dalam mobilnya, Haiden menghubungi Papi Melani. Papi Melani yang berada di ruang tunggu langsung mengangkat Handphone nya setelah melihat siapa yang menghubungi di layar Handphone nya.
"Ya Hallo Den" Kata Papi Melani di ruang tunggu kantor Admadja Grup.
"Haiden baru tiba di kantor ni Om. Om di mana?" Tanya Haiden sembari berjalan masuk kedalam gedung Admadja Grup kepada Papi Melani lewat Handphone nya.
"Om di ruang tunggu Den" Jawab Papi Melani yang terdengar di Handphone Haiden.
__ADS_1
Haiden tidak langsung keruang kerjanya setelah menutup telepon nya. Dia berjalan ke ruang tunggu untuk menemui Papi Melani.
Tiba di ruang tunggu, Haiden langsung menyalami dan mencium tangan Papi Melani. Setelah itu Haiden mengajak Papi Melani ke ruang kerjanya bersama dirinya.