
Pukul 22: Wib, Haiden bersama Melani dan sahabat-sahabat nya keluar dari KTV. Haiden bertanya pada resepsionis yang tadi mengantar mereka di mejanya "Berapa bill saya?".
"Kata pak Arif, bapak ga perlu bayar pak" Jawab resepsionis cantik itu pada Haiden.
Haiden tersenyum, lalu berkata "Tidak boleh begitu. Kalau sempat 1000 orang temannya datang semuanya gratis bisa tumpur usahanya".
"Hitung saja berapa semua harga KTV lengkap dengan yang dihidangkan di KTV saya tadi" Kata Haiden lagi.
"Tapi pak, nanti saya yang dimarahi pak Arif pak" Balas resepsionis cantik itu.
Haiden tersenyum lagi sebelum mengatakan "Bilang saya yang maksa untuk bayar. Kalau ga percaya dia, minta dia telepon saya".
"Baiklah pak kalau begitu" Jawab resepsionis cantik itu Kepada Haiden yang ada di haapannya dengan Melani.
Resepsionis itu langsung mengatakan pada kasir "Lin, kamu hitung dulu Bill KTV VIP 01".
"Baik kak" Kata kasir itu langsung menghitung Bill KTV yang dipakai Haiden, Melani dan sahabat-sahabat nya tadi.
Usai di hitung, kertas Bill yang keluar dari mesin Printnya langsung diserahkan ke resepsionis cantik itu. Resepsionis cantik itu pun menyerahkan Bill nya ke Haiden.
"Ini pak Bill nya" Kata resepsionis cantik itu sembari menyerah kan kertas Bill.
Setelah melihat jumlah yang harus di bayarnya di kertas Bill itu, Haiden berkata "Bisa bayar pakai QRIS kan?".
"Bisa pak" Jawab resepsionis cantik itu.
Haiden menyalakan barcode Bank nya lalu menyerahkan Handphone nya kepada resepsionis cantik itu untuk merekam gambar barcode Kasir Kikombe Coffe. Setelah barcode kasir Kikombe Coffe terekam, Handphone resepsionis cantik itu mengembalikan Handphone Haiden.
Haiden mengetik sejumlah uang yang akan ditransfer dari m_banking nya ke kasir Kikombe Coffe. Setelah terkirim, Haiden menunjukkan bukti pembayarannya Kepada resepsionis cantik itu.
__ADS_1
Resepsionis cantik itu menoleh ke kasir, sebagai kode meminta kasir mengecek kebenarannya di monitor Komputer Kasir. Kasir mengangguk sebagai kode bahwa uang yang di transfer Haiden benar sudah masuk.
"Baik pak, uangnya sudah masuk" Kata resepsionis cantik itu sembari tersenyum.
"Oke terima kasih kembali" Jawab Haiden.
Haiden memberi uang sejumlah lima ratus ribu cash ke pada resepsionis cantik itu sembari berkata "Bagi-bagi ya" sebelum dia beranjak keluar dari gedung Kikombe Coffe bersama Melani dan sahabat-sahabatnya.
Resepsionis cantik dan kasir itu tampak sangat gembira saat menerima uang yang diberikan Haiden untuk mereka. Mereka mengucapkan terima kasih sampai berkali kali.
Bagi Haiden ung segitu tidak ada apa-apa nya saat ini. Tapi bagi kedua karyawan Kikombe itu uang yang mereka terima dari Haiden tadi, itu rezeki nomplok.
Didepan gedung Kikombe Coffe, Haiden berkata sahabat-sahabat nya "Melani sudah pamit ga pulang malam ini. Kami mau ke Danau Toba rencananya. Kalian ikut ga?".
"Aku sih oke saja. Tapi Wanti belum izin sama Papa Mamanya bro" Kata Mardan menanggapi ajakan Haiden.
"Ya uda, biar aku telepon Papa Mama dulu yank" Kata Wanti ke pada Mardan.
"Oke" Kata Wanti sebelum mengeluarkan Handphone dari tas kecilnya untuk menghubungi kedua orang tuanya.
"Hallo Ma" Kata Wanti kepada Mamanya lewat Handphone nya.
"Wanti mau izin ke Danau Toba ni Ma sama Mardan, Haiden, Melani, Suherman, Marwan, Fani dan Rina. Boleh Ma?" Tanya Wanti ke pada Mamanya.
"Bentar, Mama tanya Papa kamu dulu ya" Jawab Mama Wanti yang terdengar di Handphone Wanita.
Beberapa saat menunggu jawaban Mamanya, Akhirnya Mama Wanti berkata "Kalau sama tuan muda Haiden juga, boleh kata Papamu".
Wajah Wanita tampak gembira, lalu berkata "Terima kasih ya Ma. Terima kasih juga bilang sama Papa ya Ma".
__ADS_1
"Bagaimana?" Tanya Mardan kepada Melani saat melihat Melani sudah tidak berbicara dengan Mamanya lewat telepon.
"Boleh kata Mama. Tapi jawaban Papa Kocak" Jawab Wanti lalu tertawa.
Mardan mengernyit kan dahinya lalu bertanya "Kocak kenapa?".
"Tadi Mama bilang, Kalau sama tuan muda Haiden juga, boleh kata Papamu. Kocak kan?" Jawab Melani.
Mendengar jawaban Wanti ke Mardan, Haiden tertawa sebelum berkata "Di kira Papa mu aku ini Orang tua angkat mu apa..!"
Mendengar ucapan Haiden, Melani dan sahabat-sahabat nya tertawa lebar. Selain tahu bahwa Wanti bersahabat dengan Haiden, Papa Wanti karyawan di salah satu perusahaan yang di naungi Admadja Grup.
Jadi wajar Papa Wanti mengizinkan Wanti pergi dengan sahabatnya sendiri, sekaligus Boss besar Papanya. Mardan juga memaklumi hal tersebut.
"Kalian berempat ikut juga Man, Wan, Fan, Rin?" Tanya Haiden kepada Suherman, Marwan, Fani dan Rani".
"Ikut dong" Jawab mereka berempat bersamaan.
Rina dan Fani anak kost di Medan. Jadi mereka ga perlu minta izin kepada orang tua masing-masing.
Mardan, Suherman dan Marwan juga menghubungi orang tua mereka masing-masing hanya untuk memberitahukan bahwa mereka ga pulang sampai hari senin, bukan meminta izin. Maklum, mereka laki-laki.
Setelah semua sepakat pergi ke Danau Toba tanpa ada hambatan, Suherman dan Rina masuk ke mobil Haiden bersama Melani dan Haiden. Sedang kan Marwan dan Fani masuk ke dalam mobil Mardan bersama Wanti dan Mardan sebelum mobil Haiden dan mobil Mardan melaju perlahan kalau dari area Kikombe Coffe.
Di kawal dua mobil pengawal di depan mobil Haiden dan dua mobil pengawal dibelakang mobil Mardan, Haiden bersama Melayani dan sahabat-sahabat nya menikmati perjalanan ke Danau Toba dengan riang gembira. Sesekali mereka berhenti di tempat yang menurut mereka cukup indah untuk berfoto-foto di perjalanan menuju Danau Toba.
Sejak berkenalan hingga menjadi sahabat seperti sekarang ini, ini pertama kalinya mereka menikmati perjalanan bersama ke tempat wisata. Meski mendadak tapi sangat membahagiakan buat mereka.
Para pengawal Haiden tetap siaga menjaga keamanan tuan muda mereka bersama kekasih dan sahabat-sahabat nya. Mereka juga turut bahagia melihat tuan muda mereka yang selalu baik pada mereka berbahagia dengan sahabat-sahabat nya.
__ADS_1
Setelah puas bercanda ria saat berfoto-foto di tempat dianggap yang cukup indah oleh mereka, Haiden dengan Melani beserta sahabat-sahabat nya pun melanjutkan perjalanan ke Danau Toba. Dengan sigap dua mobil pengawal langsung melaju mengawal di depan mobil Haiden, dan dua mobil pengawal lainnya mengawal dibelakang mobil Mardan.
Setengah jam kemudian, tibalah Haiden bersama Melani dan sahabat-sahabat nya di Danau Toba yang kini persis seperti Bali suasananya. Meskipun hari masih gelap, namun wisatawan asing terlihat banyak berseliweran berjalan kaki di tepi jalan.