SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
TIM YANG KUAT LAHIR DARI ORANG TERPERCAYA


__ADS_3

Keesokan harinya Haiden berkumpul dengan Melani dan keempat sahabatnya di ruang kerjanya, di kantor Admadja Grup. Mereka berkumpul sore hari, saat seluruh karyawan sudah pulang, usai jam kerja selain satpam yang menjaga keamanan.


Haiden membagi tugas berbeda-beda kepada Melani dan juga kepada keempat sahabatnya itu. Suherman tampak sibuk dengan Laptopnya setelah menerima arahan dari Haiden soal apa yang harus dilakukannya.


Wanti dan Mardan tampak sibuk memeriksa berkas-berkas. Mereka kelihatan kompak bekerja sama untuk menjalani tugas yang tadi diberikan Haiden.


Marwan juga tampak sibuk dengan laptopnya. Sesekali dia melihat lembaran-lembaran berkas untuk mencocokkan dengan data yang kini tertera di layar laptopnya.


Melani ditugaskan Haiden untuk teliti memperhatikan kerjaan Mardan, Wanti, Suherman dan Marwan. Haiden senang melihat keseriusan kerja Melani dan keempat sahabatnya itu.


Dia berencana akan menjadikan mereka semua sebagai Tim Pengawas seluruh perusahaan yang dinaungi Admadja Grup. Tim Pengawas itu butuh orang-orang yang dapat di percaya olehnya.


Melani dan keempat sahabatnya adalah orang-orang yang tepat pikirnya. Tapi dia akan menambah orang untuk bekerja sebagai bawahan Melani dan keempat sahabatnya itu.


"Yang di perikasa Suherman ini kayanya ada yang janggal yank" Kata Melani saat dia memperhatikan layar laptop Suherman dengan seksama.


"Iya, benar kata Melani Den" Kata Suherman membenarkan ucapan Melani sebelum Haiden merespon ucapan Melani.


Haiden bangkit dari duduknya di balik meja kerjanya lalu berjalan menghampiri Suherman dan Melani. Dia melihat layar laptop Suherman untuk melihat kebenarannya.


Setelah beberapa saat memperhatikan laptop Suherman itu, Haiden berkata "Besar juga selebihnya ya".


"Besar kali pun" Kata Suherman menanggapi ucapan Haiden.


Haiden berjalan kembali ke meja kerjanya untuk mengambil Handphone nya yang diletakkannya di meja itu tadi. Setelah kembali duduk di kursi Kerjanya, Haiden langsung menghubungi kakeknya.


"Hallo kek. Seperti nya dugaan kakek benar" Kata Haiden kepada kakeknya melalui Handphone nya.


"Sepertinya Direktur Anto sudah menyelewengkan Dana perusahaan yang cukup besar" Kata Haiden lagi.


"Ya sudah, sekarang kamu cek lebih dalam. Cari tahu siapa saja yang terlibat" Kata tuan besar yang terdengar di Handphone Haiden.

__ADS_1


"Siap kek" Jawab Haiden sebelum menutup pembicaraan dengan tuan besar yang tak lain adalah kakeknya itu.


Setelah menutup pembicaraan dengan tuan besar di telepon, Haiden berkata pada Suherman "Coba kau cek lagi dengan teliti, cari tahu siapa saja yang terlibat selain Direktur Anto".


"Siap...!" Kata Suherman merespon perintah Haiden.


Dengan serius, Suherman langsung membuka data-data yang ada di dalam laptopnya. Melani membantu dengan membuka berkas-berkas yang ada di sebelah laptop Suherman.


Saat itu tiba-tiba Mardan berkata "Seperti nya Direktur Anto juga bermain dengan Jenderal Manager Hotel Admadja Residance ni Den".


"Apa?" Respon Haiden sembari bangkit dari duduknya, kemudian berjalan mendekati Mardan dan Wanti.


"Cak kau lihat ini" Kata Mardan kepada Haiden sembari memperlihatkan Data dalam berkas yang ada di tangannya.


Haiden mengail berkas tersebut dari tangan Mardan setelah dia duduk disebelah Mardan. Di lihatnya berkas itu dengan teliti.


"Kurang ajar. Padahal dia cukup di percaya oleh kakek selama ini" Kata Haiden setelah memahami apa yang dibacanya barusan.


"Oke" Kata Mardan merespon perintah Haiden.


Mardan meminta Wanti menggeser laptop yang ada didekat nya. Mardan langsung membuka Data perusahaan di dalam laptop itu, setelah laptop tersebut ada di hadapan nya.


Hingga hari gelap Haiden dan Melani bersama keempat sahabat mereka tampak masih sibuk mencari kejanggalan yang dapat menjadi masalah di perusahaan Admadja Grup. Tepat pukul 19:00 Wib, Haiden memerintahkan kan pengawalnya untuk membeli makanan dan minuman sesuai pesanannya juga sesuai pesanan Melani dan keempat sahabatnya.


Sekitar setengah jam kemudian, seorang satpam masuk ke ruang kerja Haiden untuk mengantar makanan dan minuman yang telah dibelikan oleh pengawal Haiden yang kini kembali bertugas diluar gedung kantor Admadja Grup.


Saat sedang makan bersama dengan Melani dan keempat sahabatnya, Haiden berkata "Aku akan membentuk Tim Pengawas Admadja Grup. Tim yang akan mengawasi Data dan kinerja seluruh karyawan Admadja Grup beserta perusahan dibawah naungan Admadja Grup".


"Kalian berlima akan membawahi beberapa orang lagi nantinya dalam Tim tersebut. Kalian tidak keberatan kan?" Kata Haiden lagi sembari bertanya pada Melani dan keempat sahabatnya.


"Jangan kau tanya lagi kami keberatan atau tidak Den. Aku tersinggung kalau kau tanya lagi kesediaan kamu untuk membantu kau" Kata Mardan menyela ucapan Haiden tadi.

__ADS_1


Haiden tersenyum lalu menjawab "Siap pak Mardan. Maaf kan saya".


Jawaban Haiden itu mengundang tawa Melani dan keempat sahabatnya. Saat Melani dan keempat sahabatnya itu tertawa, Haiden juga turut tertawa.


Usai makan, mereka berenang kembali terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing di dalam ruang kerja Haiden itu. Hingga pukul 21:00, baru lah mereka keluar dari gedung Admadja Grup.


Suherman dan Marwan langsung pulang kerumah masing-masing. Mardan mengantar Wanti dulu kerumahnya sebelum dia pulang kerumahnya sendiri.


Haiden juga mengantar pulang Melani. Sebelum meninggalkan Kantor Admadja Grup, Haiden memberikan sejumlah uang kepada Satpam yang bertugas untuk beli rokok dan kopi katanya.


Tiga orang Satpam yang menerima sejumlah uang dari Haiden itu tampak sangat gembira. Sebab uang diberikan Haiden kepada mereka itu cukup banyak buat mereka.


Mereka sering menerima uang rokok dan kopi hanya saat Haiden sudah menjadi bagian dari perusahaan Admadja Grup. Sebelum nya mereka tidak pernah diberi oleh siapapun termasuk dari Direktur Admadja Grup.


Kakek Haiden juga mau memberi, tapi itu sangat jarang terjadi. Sebab kakek Haiden sangat jarang sekali ke kantor nya.


Saat keluar melewati gerbang kantor Admadja, seperti biasa dua mobil pengawal mendahului mobil Haiden untuk mengawal di depan. Satu mobil pengawal Haiden dan yang satunya lagi mobil pengawal yang ditugaskan Haiden untuk mengawal Melani.


Dua mobil pengawal lainnya tetap berada di belakang mobil Hiden untuk mengawal di belakang. Di perjalanan Haiden menerima telepon dari Jenderal Sulistyo.


Jenderal Sulistyo mempertanyakan kapan penyergapan gudang Narkoba milik Johan di setiap Propinsi bisa di mulai. Haiden menjawab usai pelantikan ketua Panca Karya Sumatera Utara.


"Oke. Siapa ketua yang akan di lantik menggantikan Almarhum Boy itu Den?" Tanya Jenderal Sulistyo yang saat ini sedang berada dirumah dinasnya, di Jakarta.


"Mardan Om" Jawab Haiden yang terdengar di Handphone Jenderal Sulistyo.


"Ohhh. Mardan Sahabatmu yang ada di acara pelantikan mu kemarin?" Tanya Jenderal Sulistyo lagi memastikan.


"Iya Om. Setelah pelantikan nya nanti kita gerak dari SUMUT duluan, baru ke Provinsi lainnya" Jawab Haiden sembari tampak tetap fokus menyetir mobilnya.


"Baiklah kalau gitu. Om tunggu kabar dari kamu aja ya" Kata Jenderal Sulistyo menanggapi jawaban Haiden.

__ADS_1


"Siap Om" Respon Haiden sebelum menutup pembicaraan nya dengan Jenderal Sulistyo.


__ADS_2