SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
MISTERI DIBALIK MELANI JADI INCARAN GANGSTER


__ADS_3

"Ambilkan aku sebatang rokok Mam. Aku mau merokok" Kata Haiden kepada Imam sembari tetap menatap pemuda bertatto yang ada dihadapannya.


Mendengar permintaan Haiden, Imam mengernyitkan dahi sembari menyodorkan rokok yang tinggal beberapa batang saja di dalam kotaknya kepada Haiden. Yang dia tahu tuan mudanya tidak pernah merokok, tapi mengapa hari ini tuan mudanya itu meminta rokoknya, itu yang ada dalam pikiran Imam.


Haiden mengambil sebatang rokok dari dalam kotak rokok yang disodorkan Imam padanya lalu diletakkan ke mulutnya. Melihat rokok yang diambil Haiden tadi sudah berada di mulut Haiden, Imam dengan cepat menyalakan pemantiknya untuk menyalakan rokok Haiden.


Setelah menghisap rokoknya yang sudah menyala, Haiden langsung menghembuskan asap rokoknya ke wajah pemuda bertatto itu. Melihat asap bergumpal keluar dari Mulut Haiden kearah wajahnya, pemuda bertatto itu memalingkan wajahnya untuk menghindari asap rokok itu.


Tiba-tiba pemuda bertatto itu menjerit kesakitan, karena lengan kirinya terasa perih dan panas. Ternyata Haiden baru saja membakar lengan kiri pemuda bertatto itu dengan api rokoknya.


Menyaksikan Haiden membakar lengan kiri pemuda bertatto itu dengan mata kepala sendiri, delapan pengawal Haiden tampak tercengang. Mereka tidak menyangka Haiden bisa berbuat setega itu terhadap orang lain.


Selama ini mereka mengenal Haiden hanyalah pemuda yang baik dan tidak mudah marah meskipun mereka juga tahu bahwa Haiden memiliki ilmu bela diri yang cukup bagus. Apa yang terjadi pada tuan muda sebenarnya, pikir kedelapan pengawal Hiden itu.


"Masih tidak mau menjawab?" Tanya Haiden kepada pemuda bertatto itu.


"Ba.. ba.. baik. Akan kuberi tahu. Kami diperintah ketua Boy untuk memberi pelajaran perempuan yang bersamamu" Jawab pemuda bertatto itu terbatah batah.


"Ketua Boy? Ketua Gangster Panca Karya?" Tanya Haiden lagi.


"Benar. Dia ketua kami" kata pemuda bertatto itu menjawab pertanyaan Haiden.


Setelah mendengar penjelasan pemuda bertatto itu, Haiden terdiam sejenak kemudian bertanya lagi "Pelajaran apa yang diperintahkan ketua kalian itu?".


"Terserah kami harus melakukan apa, yang terpenting perempuan itu harus mau menjauhimu" Jawab pemuda bertatto itu dengan jujur.


Setelah merasa cukup mendapatkan jawaban dari pemuda bertatto itu, Haiden berkata semua pengawalnya "Ayo cabut. Kita tinggalkan mereka".


Haiden bangkit dari jongkoknya langsung berjalan menuju mobilnya. Kedelapan pengawal Haiden juga memasuki mobil mereka masing-masing.


Di kamar pasien blok mawar nomor kosong satu, Wanti sedang mengobrol dengan Mardan. Mardan menanyakan kenapa Wanti datang sendiri, padahal sebelum sampai ke rumah sakit Wanti sempat mengatakan kepada Mardan bahwa dirinya berbarengan dengan Haiden dan Melani.


"Aku juga ga tahu kok tadi tiba-tiba Haiden telepon aku, katanya aku duluan saja. Nanti mereka nyusul" Kata Wanti menjelaskan kepada Mardan.

__ADS_1


"Kutanya kenapa, Haiden bilang nanti ku jelaskan di rumah sakit" Kata Wanti lagi menyelesaikan penjelasannya.


"Oh ya sudah kalau gitu" Kata Mardan setelah mendengar penjelasan Wanti.


"Papa dan Mama kamu belum ada yang ke sini yank?" tanya Wanti kepada Mardan.


"Papa belum. Kalau Mami tadi pagi susah kesini, tapi pergi lagi. Ada urusan katanya" Jawab Mardan.


"Kamu sudah makan?" Tanya Wanti lagi.


"Sudah tadi. Tapi sudah bosan aku makan makanan rumah sakit yank" Kata Mardan menjawab pertanyaan Wanti.


Wanti tersenyum mendengar ucapan Mardan dan berkata "Ya sudah, nanti kita tanya sama dokter, kamu sudah boleh makan apa saja selain makanan dari rumah sakit ya".


Mardan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ucapan kekasihnya itu. Kemudian mardan merangkul kan tangannya ke pinggang Wanti yang duduk disampingnya di tempat tidur pasien.


Diluar rumah sakit mobil Haiden tampak baru melewati pintu gerbang rumah sakit menuju parkiran mobil. Setelah mobilnya terparkir, Haiden dan Melani langsung turun dari mobil berjalan menuju pintu masuk gedung rumah sakit Amir Hamzah.


Saat Haiden membuka pintu kamar Mardan, Haiden dan Melani terkejut karena melihat Mardan sedang mencontoh ikan ****** yang sedang bertarung. Mardan dan Wanti juga terkejut karena tiba-tiba Haiden dan Melani sudah di pintu kamar yang terbuka.


"Sorry..! Sorry..! Kami ga ketok pintu dulu tadi" Kata Haiden.


Wajah Mardan dan Wanti tampak memerah karena rasa malu. Melani cuma tersenyum melihat reaksi Mardan dan Wanti karena terpergok mereka berdua sedang bertarung cinta mirip ikan ****** yang sedang bertarung.


"Sudahlah masuk saja" Kata Mardan kepada Melani dan Haiden.


Haiden melangkah mendekati Mardan ditempat tidurnya, sedengkan Melani melangkah ke Sofa. Wanti mengikuti Melani duduk di Sofa.


"Gimana keadaanmu hari ini bro?" Tanya Haiden kepada Mardan.


"Sudah semakin membaik bro" kata Mardan membalas pertanyaan sahabatnya itu.


"Syukurlah bro" Balas Haiden.

__ADS_1


"Bagaimana kelanjutan kasus ini bro?" Tanya Mardan kepada Haiden.


Haiden tersenyum mendengar pertanyaan Mardan lalu menjawab "Kau fokus saja dulu dengan kesembuhan kau. Biar semua masalah aku yang urus".


"Siap tuan muda" Kata Mardan bercanda dengan sahabatnya Haiden.


Sambil duduk di kursi yang ada disebelah tempat tidur Mardan, Haiden hanya tersenyum tipis menanggapi candaan Mardan lalu berkata "Setelah ini jangan pernah main sendiri lagi kau ya bro. Jangan gegabah. Orang-orang yang kita hadapi tidak bisa kita anggap remeh".


"Iya aku tahu bro" Jawab Mardan dengan wajah serius.


"Melani sekarang dalam incaran mereka. Aku ga tahu ada masalah apa mereka dengan Melani, sehingga mereka sekarang malah mengincar Melani" Kata Haiden menyampaikan masalah baru lagi kepada Mardan.


Mardan mengernyitkan dahinya mendengar cerita Haiden. Mengapa sekelompok orang yang bermasalah dengannya bisa mengincar Melani saat ini, pikir Mardan dalam benaknya.


"Kok aneh ya bro? Ada apa ini?" Kata Mardan menanggapi cerita Hiden tadi.


"Menurut penjelasan dari salah seorang dari mereka, Mereka diperintahkan ketua Panca Karya untuk membuat Melani menjauhi aku" cerita Haiden kepada Mardan.


"Ketua Boy maksudmu?" Tanya Mardan setelah mendengar cerita Haiden.


"Iya" Jawab Haiden singkat.


Mardan kembali mengernyitkan dahinya lalu berkata "Kenapa Boy ingin Melani menjauhi kau? Apa mungkin si Boy suka sama Melani?".


Mendengar ucapan Mardan itu Haiden pikirannya tersentak lalu berkata "Apa mungkin".


"Mana mungkin. Kenal saja aku enggak sama ketua Boy itu" Sahut Melani yang mendengar obrolan Haiden dengan Mardan.


"Bisa saja kan kau ga kenal tapi dia kenal kau tanpa setahu kau. Kayak pengagum rahasia gitu" Kata Wanti yang duduk di sebelah Melani.


"Bisa jadi. Tapi apapun alasannya, aku harus segera mencari tahu biar jelas" Kata Haiden.


"Hati-hati Den. Ku dengar si Boy cukup kejam orang nya. Ilmu bela dirinya juga tinggi. Sudah banyak orang yang dibunuhnya" Kata Mardan serius bukan untuk sekedar menakut-nakuti Haiden.

__ADS_1


__ADS_2