SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
MEMBURU MISTERI


__ADS_3

Haiden dan Melani melangkah keluar dari dalam kantin menuju parkiran mobil. Di dalam mobil, Haiden menghubungi Mardan untuk memastikan apakah Mardan ada di mana saat ini.


"Ya, Hallo bro. Dimana kalian?" Tanya Haiden kepada Mardan lewat telpon.


"Kami sudah di rumah ku bro" Jawab Mardan yang terdengar di Handphone Haiden.


"Ya sudah, ini aku mau gerak ke sana sama Melani" Kata Haiden kepada Mardan lagi.


"Oke" Balas Mardan dari rumahnya.


"Oh iya, kalian sudah pada makan belum?" Tanya Haiden yang terdengar dari Handphone Mardan.


"Belum sih" Jawab Mardan.


"Ya sudah, biar kami beli nanti sekalian jalan. Kirim aja pesanan kalian ke WA ku ya" Kata Haiden yang masih dalam mobil di parkiran kampus.


"Siap" Balas Mardan sembari menutup telepon nya.


Setelah menutup pembicaraan di telepon dengan Mardan Haiden menoleh menatap Melani lalu bertanya "Kamu mau makan apa yank?".


"Tunggu pesanan mereka ajalah dulu yank. Sesuai kan saja, biar satu tempat kita belanjanya. Jadi ga bolak balik berhenti turun naik mobil kita.


Mendengar jawaban Melani, Haiden tersenyum lalu berkata "Siap nyonya Haiden".


Mendengar ucapan Haiden barusan, Melani tertawa "Idih nyonya. Lebay kamu yank".


"Tu kan, salah lagi. Aku ini cowok loh yank. Lebay itu buat cewek" canda Haiden.


"Emang kamu ga mau jadi nyonya Haiden?" Tanya Haiden sembari tersenyum.


Melani tersenyum lalu mencubit hidung haiden sembari menjawab "Mau banget sayankku tuan muda".


Haiden tersenyum lalu mencium dahi kekasih hatinya itu dengan lembut. Wajah Melani terlihat merah merona saat dicium Haiden dengan lembut dan mesra.


Setelah itu Haiden menghidupkan mobilnya kemudian melaju keluar dari kampus. Haiden menyerahkan Handphone nya kepada Melani, meminta Melani yang membaca pesan WA dari Mardan.


Setelah mengetahui makanan apa saja yang dipesan oleh Mardan, Haiden menghentikan laju mobilnya di salah satu rumah makan yang cukup terkenal enak di kota Medan. Haiden turun dari mobil di temani Melani masuk ke rumah makan itu.

__ADS_1


Haiden langsung memesan makanan sesuai pesanan Mardan sekaligus makanan buat Melani dan buat dirinya sendiri, kepada salah seorang pelayan di rumah makan itu. Pelayan tersebut langsung bergegas menyampaikan pesanan Haiden kepada pelayan khusus penyaji nasi bungkus.


Setelah membayar nasi bungkus yang sudah siap untuk dibawa, Haiden dan Melani langsung bergegas masuk ke dalam mobil dan segera melaju menuju rumah Mardan.


Saat makan bersama di rumah Mardan, Marwan bertanya pada Haiden "Sudah tahu kau Boy ketua Panca Karya meninggal bro?".


"Hahh. Kapan?" Kata Haiden balik bertanya kepada Marwan.


"Tadi malam, ditembak tembak orang tak dikenal. Kau lihatlah beritanya" Jawab Marwan.


Haiden langsung membuka Handphone nya untuk melihat berita di media online. Haiden tampak serius membaca berita soal kematian orang yang sempat bertarung dengan beberapa waktu yang lalu itu.


Usai membaca berita itu, Haiden berkata "Aku curiga ini kerjaan nya si Johan".


"Johan. Siapa dia?" Tanya Mardan kepada Haiden.


"Johan adalah ketua Panca Karya pusat. Dia yang menugskan Boy untuk memberi pelajaran pada Melani agar Melani mau menjauhi aku" Jawab Haiden.


"Dari mana kau tahu Johan itu yang memerintahkan si Boy untuk memisahkan Melani dari kau?" Tanya Suherman ke Pada Haiden.


"Jadi apa tujuan si Johan itu mau memisahkan kalian?" Tanya Wanti ke pada Haiden.


"Belum tahu. Si Boy juga tidak tahu tujuan si Johan menugaskan dia untuk memisahkan kami itu untuk apa" Jawab Haiden.


"Aku curiga, Si Johan mengetahui si Boy telah memberitahuku siapa yang menugaskan si Boy" Kata Haiden lagi mengungkapkan apa yang ada di pikiran nya.


Mardan mengernyitkan dahinya mendengar ungkapan pikiran Haiden itu lalu berkata "Maksudmu, bisa jadi Boy di bunuh oleh Johan karena Boy membocorkan jati diri orang yang telah menugaskannya ke kau gitu?".


"Iya" Jawab Haiden singkat.


"Masuk akal" Kata Suherman disela pembicaraan Mardan dengan Haiden.


"Yang pasti kita Harus lebih berhati-hati. Jangan sampai kita mengalami nasib seperti si Boy" Kata Marwan.


Haiden terdiam memikirkan sesuatu sebelum berkata "Kita tidak boleh menjadi seperti hewan buruan. Aku yang akan jadi pemburu sekarang".


"Maksudmu?" Tanya Mardan kepada Haiden.

__ADS_1


"Aku yang akan membiru si Johan" Jawab Haiden dengan penuh percaya diri.


"Aku ikut" Kata Mardan.


"Aku juga" Kata Suherman.


"Aku ikut juga" Kata Marwan.


Haiden tersenyum mendengar ucapan ketiga sahabatnya itu lalu berkata "Tidak. Tugas kalian jaga Melani".


Haiden tidak mau melibatkan sahabat-sahabatnya dalam masalah yang cukup berat ini. Nyawa mereka bisa jadi taruhan bila mereka ikut terlibat.


Setelah mengantar Melani dari rumah Mardan, Haiden langsung ke perumahan khusus pengawalnya. Dia kumpul kan seluruh pengawalnya di Aula selain para pengawal yang ditugaskan Haiden untuk mengawal Melani.


Haiden bermaksud ke Jakarta untuk memburu Johan sang ketua Panca Karya pusat. Dia memaparkan rencananya kepada seluruh pengawalnya.


Seluruh pengawalnya terlihat sangat serius mendengarkan rencana Haiden yang akan mereka laksanakan bersama di Jakarta nantinya. Setelah itu Haiden bergerak meninggal perumahan khusus pengawalnya itu untuk menemui Jendral Sulistyo di Hotel Admadja Residance.


Sebelum meninggalkan perumahan khusus pengawalnya, Haiden sudah menghubungi Jenderal Sulistyo. Dia ingin memberitahukan Om angkatnya itu bahwa dia berniat memburu si Johan.


Sampai di Hotel Admadja Residance, Haiden langsung ke kamar Jenderal Sulistyo. Masalah seperti ini tidak mungkin dibicarakan diruang terbuka, makanya Haiden meminta ketemu di kamar saja kepada Jendral Sulistyo.


"Apa yang mau kamu sampaikan Den?" Tanya Jenderal Sulistyo yang sedang duduk di Sofa dalam kamarnya itu kepada Haiden.


"Om sudah dengar kabar Boy dibunuh?" Balas Haiden balik bertanya.


"Belum. Kapan?" Jawab Jenderal Sulistyo sembari bertanya balik kepada Haiden.


"Tadi malam. Dia ditembak beberapa kali hingga tewas oleh orang yang tidak dikenal" Kata Haiden menjawab pertanyaan Om angkatnya itu.


"Haiden curiga ini perbuatan si Johan Om. Haiden curiga dia mengetahui si Boy membocorkan bahwa dia yang menugaskan si Boy untuk memisahkan Haiden dengan Melani kepada Haiden" Kata Haiden lagi.


Jenderal Sulistyo diam sejenak setelah mendengar ucapan Haiden barusan. Jenderal Sulistyo tampak seperti sedang memikirkan sesuatu sebelum kembali berbicara.


"Bisa jadi. Kecurigaan mu cukup masuk akal. Dan kalau kecurigaan mu benar, maka kau harus lebih berhati-hati lagi" Kata Jenderal Sulistyo menanggapi kecurigaan Haiden.


"Jadi, apa rencana mu selanjutnya Den?" Tanya Jenderal Sulistyo.

__ADS_1


__ADS_2