
Usai mengganti pakaiannya, Haiden pamit kepada istrinya Melani untuk pergi bersama Suherman dan Marwan ke rumah pak Narso. Melani sempat berpesan kepada suami dan kedua sahabatnya untuk menyampaikan salam kepada pak Narso.
Meskipun sudah menjadi orang besar, Haiden tetap menyetir mobil sendiri tanpa supir. Namun pengawal tetap tidak lepas dari nya.
Ketika mobil Haiden keluar dari area rumahnya, seperti biasa satu mobil pengawal yang berisikan empat orang pria bertubuh kekar melaju mendahului mobil Haiden untuk mengawalnya di di depan. Sedangkan satu mobil lagi mengawal di belakang.
Suherman dan Marwan meninggalkan mobil mereka masing-masing di depan rumah Haiden. Suherman duduk di jok depan penumpang, disebelah Haiden dan Marwan duduk di jok belakang.
Suherman menjadi Navigator buat Haiden agar tidak salah jalan sampai ke rumah pak Narso. Tiba di depan rumah pak Narso, Haiden langsung turun dari dalam mobilnya di ikuti oleh Marwan dan Suherman.
Suherman yang mengetuk pintu pak Narso saat mereka bertiga di depan pintu pak Narso yang dalam keadaan tertutup itu, sembari berkata "Permisi, pak Narso".
Setelah beberapa kali Suherman mengetuk pintu dan memanggil nama pak Narso akhirnya ada orang yang membukakan pintu dari dalam rumah. Tampak sosok pria tua setelah pintu terbuka yang tak lain adalah pak Narso sendiri.
"Nak Suherman rupanya. Silahkan masuk" Kata pak Narso ketika melihat Suherman bersama Haiden dan Marwan.
Mendengar pak Narso mempersilahkan mereka masuk kedalam rumahnya, Suherman, Marwan dan Haiden pun masuk kedalam rumah pak Narso. Mereka bertiga langsung duduk di sofa bambu yang ada di ruang tamu pak Narso.
Setelah duduk dihadapan Marwan, Suherman dan Haiden, pak Narso bertanya "Ini siapa nanya ya, saya lupa. Pernah kesini juga kan?" sembari menunjuk Marwan.
"Iya. Saya Marwan pak" Jawab Marwan sembari tersenyum.
Pak Narso tersenyum sebelum membalas "Oh iya, Marwan".
Ketika menatap Haiden, pak Narso kembali tersenyum lalu berkata menggunakan bahasa Sanskerta "Salam yang mulia Kesatria Tangan Tesi" sembari menyatukan kedua telapak tangannya sejajar dengan dadanya.
Haiden mengernyitkan dahinya, karena dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh pak Narso kepadanya. Suherman dan Marwan juga terlihat bingung.
"Saya baik yang mulia" Kata pak Narso lagi dengan menggunakan bahasa Sanskerta.
__ADS_1
Ternyata pak Narso sedang berbicara dengan Linggasana tanpa di dengar Haiden, Suherman dan Marwan. Linggasana yang berada di samping Haiden baru saja bertanya "Apa kabarmu" kepada pak Narso dengan menggunakan bahasa Sanskerta juga.
Pak Narso sebenarnya sudah hidup panjang juga seperti Linggasana. Di hidup sejak jaman kerajaan Tarumanagara masih berdiri.
Bedanya adalah Linggasana hidup abadi tanpa wujud, sedangkan pak Narso hidup abadi dengan wujud aslinya saat dia mengalami kejadian aneh yang membuatnya berumur panjang hingga saat ini.
Linggasana dengan pak Narso sama-sama pendekar yang yang gemar menolong kaum lemah dari gangguan para pendekar berwatak jahat. Pak Narso dengan Linggasana mengalami hal aneh secara bersamaan ketika mereka berdua sedang menghadapi para perampok yang gemar merampas harta masyarakat dan memperkosa wanita-wanita tanpa melihat gadis ataupun istri orang.
Ketiak mereka berdua bertarung senget dengan puluhan orang perampok tiba-tiba seperti ada cahaya yang entah datang dari mana. Setelah cahaya itu menghilang, puluhan para perampok itu terkapar di tanah tak bernyawa lagi.
Wujud Linggasana tak terlihat lagi oleh mata orang lain. Hanya pak Narso yang bisa melihat sosoknya kala itu. Pak Narso tidak merasakan dampak apa-apa pada dirinya kala itu.
Dia menyadari hidup nya abadi ketika menginjak usia seratus tahun tapi wujudnya masih terlihat seperti usia lima puluh lima tahun. Usia Linggasan lebih tua dari usai pak Narso.
Lingasana berusia enam puluh dua tahun saat dia kehilangan wujudnya di mata manusia pada umumnya. Sejak kejadian itu Linggasan tidak pernah bertemu lagi hingga saat ini dengan pak Narso.
"Aku ingin kau mengajari ilmu melihat masa depanmu kepada cicit ku Haiden So" Kata Linggasan kepada pak Narso.
"Dengan senang hati yang mulia" Jawab pak Narso sembari tersenyum kepada buyut Haiden yang tidak terlihat oleh Mardan, Suherman dan Haiden itu.
"Saya akan menurunkan ilmu saya kepadamu, sesuai dengan keinginan buyutmu Haiden" Kata pak Narso usai berbicara dengan Linggasana.
Haiden mengernyitkan dahinya sebelum bertanya "Ilmu apa pak?" Pada pak Narso.
Pak Narso tersenyum lalu menjawab "Ilmu yang akan membuatmu mampu melihat apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang".
"Jadi bapak memiliki ilmu meramal, makanya Suherman katanya tahu Haiden bakal jadi orang besar dari pak Narso?" Tanya Marwan disela pembicaraan antara pak Narso dengan Haiden.
Mendengar pertanyaan Marwan kepadanya, pak Narso hanya tersenyum tanpa menjawab apa-apa. Pak Narso kembali menatap Haiden lalu berkata "Datanglah malam jumat yang akan datang sendirian saja".
__ADS_1
"Baiklah pak" Kata Haiden menanggapi ucapan pak Narso.
"Kami boleh ikut mempelajari ilmu meramal juga pak?" Tanya Suherman kepada pak Narso.
Pak narso menoleh menatap Suherman lalu berkata "Kalian berdua juga boleh mempelajari ilmu saya, tapi tidak bisa sekalian dengan nak Haiden. Sebab kalian tidak memiliki kemampuan seperti nak Haiden".
"Kalian akan membutuhkan waktu yang lama untuk mempelajari ilmu yang saya miliki" kata pak Narso melanjutkan penjelasannya.
Mendengar penjelasan pak Narso kepada mereka, Suherman dan Marwan merasa sedikit kecewa. Tapi mereka tidak bisa membantah alasan pak Narso.
Tidak mungkin juga mereka fokus mempelajari ilmu yang akan memakan waktu lama itu. Sedangkan mereka memiliki banyak tanggung jawab pekerjaan.
"Tapi ada yang saya tanyakan kepada bapak" Kata Haiden kepada pak Narso.
"Apa yang ingin nak Haiden tanyakan?" Tanya pak Narso menanggapi ucapan Haiden.
"Saya ingin bertanya apakah yang baru saja bicara dengan bapak, sekaligus yang mengaku sebagai buyut saya itu arwah buyut saya?" Tanya Haiden kepada pak Narso.
Mendengar pertanyaan Haiden, pak Narso tersenyum sebelum menjawab "Bukan".
"Nama Buyutmu adalah Linggasana cucu dari almarhum Linggawarman Raja Tarumanagara. Linggasana hidup abadi namun dia kehilangan wujud".
Mendengar penjelasan pak Narso, Suherman dan Marwan terperangah. Haiden mengernyitkan dahinya lalu berkata "Cucu dari Raja terakhir kerajaan Tarumanagara?".
"Kalau memang saya benar-benar cicit beliau, itu artinya saya masih keturunan Raja Linggawarman?" Kata Haiden bertanya pada pak Narso.
Pak Narso kembali tersenyum lalu menjawab "Iya benar".
"Lantas mengapa buyut Linggasana bisa hidup abadi dan kehilangan wujudnya?" Tanya Haiden kepada pak Narso.
__ADS_1
Pak Narso diam sejenak sebelum berkata "Dulu saat kami tengah menghadapi para perampok yang sedang menyerang warga desa, tiba-tiba ada cahaya yang sangat menyilaukan".
Setelah cahaya itu lenyap, para perampok itu sudah tergeletak tak bernyawa di tanah. Buyut mu Linggasana tiba-tiba tak terlihat oleh mata orang lain selain saya" Kata pak Narso lagi.