SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
PENYESALAN MARWAN 2


__ADS_3

"Permisi" Terdengar suara orang di luar kamar Marwan usai mengetuk pintu beberapa kali.


Haiden berjalan untuk membuka pintu kamar. Saat pintu terbuka Haiden berkata "Acun".


"Iya ketua. Bolehkan saya menjenguk bang Marwan ketua?" Tanya A Cun yang masih di luar kamar.


"Masuk lah" Jawab Haiden.


A Cun langsung masuk setelah di persilahkan Haiden. Dia langsung mendekati Marwan yang masih tertidur.


"Dia masih tidur Cun. Lebih baik kamu duduk saja dulu di sana" Kata Haiden kepada Acun sembari menunjuk sofa yang ada di kamar mawar nomor kosong dua itu.


"Siap ketua" Kata A Cun membalas ucapan Haiden sebelum berjalan ke sofa.


Sebelum duduk, A Cun menyalami Melani, Wanti, Mardan dan Suherman sembari menyebut kan namanya untuk memperkenalkan dirinya. Melani, Wanti, Mardan dan Suherman juga menyebutkan nama mereka masing-masing saat bersalaman dengan A Cun.


"Jadi kau yang telah ngeroyok Marwan ya?" Kata Marwan kepada A Cun setelah dia duduk di hadapan Mardan, Wanti dan Melani.


"Iya bang. Maaf kan atas kesalahan saya bang. Saya janji saya tidak akan mengulangi nya lagi. Dan saya akan tanggung jawab" Kata A Cun menanggapi ucapan Mardan.


Mardan tersenyum dingin lalu berkata "Semua tergantung Marwan. Kalau Marwan bisa memaafkan kau, maka kami juga bisa memaafkan kau".


"Iya bang. Saya akan berusaha untuk di maafkan bang Marwan bang. Makanya saya langsung kesini" Kata A Cun lagi kepada Mardan.


Mardan tersenyum dingin lagi sebelum berkata "Ya sudah, kau tunggu lah dia bangun".


"Siap bang" Jawab Acun.


Haiden yang duduk ditepi tempat tidur Marwan bangkit dari duduk lalu berjalan ke sofa untuk duduk disebelah Melani. Sembari merangkul Melani, Haiden berkata pada A Cun "Ku dengar kau adik kandung Gubernur ya?".


"Iya ketua" Jawab A Cun.


"Tolong kau sampaikan kepada abang mu, hari minggu ini hadir ke acara pelantikan ketua Panca Karya Sumatera Utara yang baru ya" Kata Haiden ke pada A Cun.


"Siap ketua. Siapa ketua Panca Karya Sumatera Utara yang baru ketua?" Tanya A Cun kepada Haiden.


"Dia" Jawab Haiden sembari menunjuk Mardan.


"Oh, ternyata bang Mardan yang akan menjadi ketua Panca Karya yang baru. Hormat saya ketua Mardan" Kata A Cun kepada Mardan.


"Terima kasih" Jawab Mardan sembari tersenyum.

__ADS_1


"Saya siap bekerja sama dengan ketua Mardan dan Ketua Haiden" Kata A Cun lagi Kepada Mardan dan Haiden.


Mendengar A Cun mengatakan dia siap bekerja sama dengannya dan Mardan, Haiden bertanya "Bisnis apa saja yang kau jalani saat ini?".


"Saat ini bisnis saya hanya bergerak di bidang otomotif ketua. Saya memiliki beberapa Showroom dan Bengkel di beberapa provinsi ketua" Jawab A Cun.


"Kalau ketua ada bisnis baru, dan saya di perkenankan untuk menanam saham di dalam nya, saya merasa terhormat sekali ketua" Kata A Cun lagi kepada Haiden.


"Yakin kau siap menanam saham?" Tanya Haiden kepada A Cun.


"Yakin ketua" Jawab A Cun dengan tegas.


"Oke. Calon mertua ku akan membangun proyek besar yang akan memakan biaya ratusan triliun. Kau tinggal sebutkan saja kau mau menanam modal berapa persen nanti" Kata Haiden menanggapi ucapan A Cun.


"Apa itu proyek nya ketua?" Tanya A Cun setelah mendengar ucapan Haiden.


"Lokalisasi hiburan. Mulai dari Kasino hingga prostitusi ada di sana" Jawab Haiden.


"Di mana lokasinya ketua?" Tanya A Cun yang sepertinya tertarik dengan tawaran Haiden.


"Di pulau sembilan. Di sana akan di bangun juga Hotel dan rumah-rumah kontrakan untuk para wisatawan asing" Jawab Haiden serius.


"Iya. Kalau kau mau, nanti kau ikut pertemuan dengan aku dan calon mertua ku" Kata Haiden kepada A Cun.


"Siap ketua. Kapan pertemuan nya ketua?" Balas A Cun sembari bertanya lagi pada Haiden.


"Nanti aku kabari. Tapi selesai kan dulu masalah mu dengan Marwan. Kalau Marwan bersedia memaafkan kau, baru kau boleh bergabung dalam proyek dan bisnis naru itu" Jawab Haiden.


"Siap ketua. Begitu bang Marwan bangun, saya akan meyakinkan bang Marwan untuk memaafkan saya ketua" Jawab A Cun.


A Cun tampak sangat gembira di beri lampu hijau untuk masuk kedalam dunia bisnis Haiden. Apa lagi proyek yang di bangun itu untuk bisnis jangka panjang dan sangat sangat menguntungkan.


Beberapa saat kemudian Marwan terbangun dari tidurnya. Saat dia duduk di tempat tidurnya, Marwan melihat ada Acun bersama sahabat-sahabatnya.


"Mau ngapain kau kesini bangsat?" Teriak Marwan kepada A Cun.


"Tenang kau Wan. Kau belum pulih" Kata Mardan menanggapi reaksi Marwan.


Haiden bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Marwan. Wajah Haiden tampak datar saat menghampiri Marwan.


"Gimana keadaanmu?" Tanya Haiden kepada Marwan.

__ADS_1


"Agak mendingan bro" Jawab Marwan.


"Kau ga mau nanya perasaan kami?" Tanya Haiden.


Haiden tersenyum dingin lalu berkata "Kau ga merasa sudah mengkhianati sahabat-sahabat kau?".


"Kami kan sudah ingat kan kau untuk tidak balapan liar lagi. Dan kau menyanggupinya kan?" Kata Haiden lagi.


Marwan tertunduk mendengarkan omelan Haiden. Dia tidak berani menatap Haiden dan tidak berani membalas semua ucapan Haiden.


"Kau kayak gini menyusahkan semua orang. Menyusahkan kami sahabat-sahabat kau, juga orang tua kau. Menyusahkan perasaan dan pikiran orang-orang yang sama kau" Kata Haiden kepada Marwan yang duduk tertunduk di tempat tidur nya.


"Uang berapapun ga jadi masalah. Tenaga secapek apapun ga jadi masalah. Tapi apa kau pikirkan perasaan cemas kami memikirkan kau saat kau koma?" Omel Haiden dengan suara semakin keras.


Perlahan Marwan mengangkat kepalanya lalu berkata "Maaf kan Aku Den. Aku memang bodoh".


"Aku berjanji tidak akan mengulangi kebodohan ku" Kata Marwan menyesali perbuatannya.


"Minta maaf kau juga pada sahabat-sahabat kau yang lainnya. Minta maaf juga kau sama Papa Mama kau nanti" Kata Haiden menanggapi ucapan Marwan.


Marwan mengalihkan pandanganya ke Mardan, Wanti, Melani dan Suherman yang sedang duduk di sofa lalu berkata "Maaf kan aku ya Dan, Ti, Mel, Man".


Saat mengucapkan kata maaf kepada Marwan, Wanti, Melani dan Suherman, air mata Marwan mengalir dari mata ke pipinya. Marwan benar-benar menyesal karena tetap melakukan balapan liar semalam.


Keempat sahabatnya itu menjawab dengan anggukan kepala. Setelah menganggukkan kepala Mardan berkata "Semoga kau benar-benar sadar bro".


"Itu si A Cun mau minta maaf sama kau. Uang kemenangan ku lima ratus juga sudah sama aku. Biaya perobatan kau juga ditanggung nya. Sekarang tinggal kau, mau maaf kan dia atau tidak" Kata Haiden kepada Marwan.


A Cun bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri Marwan. Dia berdiri disebelah Haiden lalu berkata "Maafkan saya bang Marwan. Saya salah. Dan saya ingin kita berteman bang".


Marwan tidak langsung membalas ucapan A Cun. Dia melihat hidung A Cun yang ditutupi perban, dan juga kedua pipi nya yang bengkak.


"Kenapa hidung dan kedua pipi mu itu?" Tanya Marwan kepada A Cun.


"Hidung saya patah, dan pipi saya bengkak ini hukuman dari ketua Haiden buat saya karena saya telah berbuat salah sama abang. Saya pantas mendapatkan nya bang" Jawab A Cun.


Mendengar penjelasan A Cun, air mata Marwan kembali keluar lebih deras. Marwan merentangkan kedua tangannya saat menatap Haiden.


Haiden mendekati Marwan karena paham sahabatnya itu ingin memeluk nya. Marwan memeluk erat Haiden lalu berkata "Terima kasih bro. Aku benar-benar bodoh".


"Sudah lupakan saja. Yang terpenting jangan kau ulangi lagi. Jadikan ini pelajaran" Kata Haiden menanggapi ucapan Marwan.

__ADS_1


__ADS_2