SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
ARTI SAHABAT YANG SESUNGGUHNYA


__ADS_3

"Serius lah bro" Kata Suherman menanggapi ucapan Haiden.


"Serius lah. ngapain pula aku main-main" Balas Haiden dengan nada sedikit tinggi.


Mendengar ucapan Haiden dengan nada tinggi itu, wajah Suherman tampak sedikit pucat. Marwan melihat wajah Haiden yang terlihat serius.


"Cuma gara-gara aku ngomel salah paham tadi bro?" Tanya Suherman kepada Haiden.


"Bukan" Jawab Haiden.


"Lalu karena apa bro?" Tanya Marwan disela pembicaraan antara Haiden dengan Suherman.


"Karena kau harus menggantikan pak Hartono jadi Direktur Utama Admadja Grup. Pak Hartono pensiun" Jawab Haiden sembari tersenyum.


"Kimbek lah bro. Suka kali kau buat Shock orang" Respon Suherman spontan setelah mendengar penjelasan Haiden.


Haiden dan Marwan tertawa melihat reaksi dan mendengar ucapan Suherman. Hari ini Haiden sengaja ngeprank dua sahabatnya itu sebelum memberi berita bahagia buat mereka.


"Terima kasih bro" Kata Suherman dan Marwan bersamaan kepada Haiden.


Haiden tersenyum sebelum berkata "Ga usah terima kasih. Kalian layak mendapatkannya".


"Kalian sahabat-sahabat aku. Aku yakin kalau kalian di posisi aku dan aku di posisi kalian, aku yakin kalian juga akan memperlakukan aku seperti aku memperlakukan kalian saat ini" Balas Haiden.


"Kok bisa seyakin itu kau ngomong bro. Apa kau ga pernah lihat atau mendengar banyak orang yang mengaku sabat tapi malah menikam sahabatnya sendiri. Atau meninggalkan sahabatnya disaat sabarnya susah" Kata Marwan setelah mendengar ucapan Haiden.


Mendengar ucapan Marwan barusan, Haiden tersenyum lalu berkata kepada Marwan dan Suherman "Sahabat dengan mengaku sahabat itu berbeda sama seperti cerdas dengan mengaku cerdas itu beda. benar?"

__ADS_1


"Benar" Jawab Marwan dan Suherman.


Haiden tersenyum lalu berkata lagi "Ketika kalian mengaku sahabat belum tentu aku menganggap kalian sahabat. Aku menilai kalian sebagai sahabat aku bukan karena pengakuan kalian, tapi dari perlakuan kalian kepadaku sejak awal kita berteman".


"Kalian tahu apa bedanya teman dengan sahabat?" Tanya Haiden kepada Suherman dan Marwan.


"Sahabat lebih dekat dari pada teman" Jawab Suherman.


Haiden kembali tersenyum mendengar jawaban Suherman sebelum bertanya "Apakah orang yang menikam temannya dari belakang, padahal mereka dekat itu pantas disebut sahabat?".


Suherman dan Marwan hanya diam tak dapat menjawab pertanyaan Haiden barusan. Melihat dua sahabatnya itu hanya diam, Haiden kembali berkata "Teman itu ada dua. Teman biasa dan teman dekat".


"Sekarang aku jelas kan beda antara teman dengan sahabat. Teman itu lahir dari orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Dia menjadi teman setelah kita berkenalan, seperti waktu kita baru kenal dulu" Kata Haiden melanjutkan penjelasannya.


Marwan dan Suherman terlihat serius mendengarkan penjelasan Haiden. Selama ini mereka tidak pernah mengkaji makna dari hubungan sahabat dan teman dari manapun dan dari siapapun.


"Sahabat itu bisa lahir dari teman, juga bisa lahir dari keluarga termasuk pasangan hidup, adik, kakak, sepupu, atau bahkan kedua orang tua kita. Orang yang tadinya tidak kita kenal sama sekali itu ga bisa langsung jadi sahabat kita" Kata Haiden lagi kepada Suherman dan Marwan.


"Bukan betul juga, tapi betul kali" Kata Marwan menyela ucapan Suherman.


Haiden tersenyum mendengar tanggapan Suherman dan Marwan, lalu berkata "Dan ingat teman itu bisa jadi lawan yang belum kita ketahui. Keluarga bisa jadi lawan yang terdekat, termasuk lah pasangan hidup, adik, kakak, sepupu, atau bahkan kedua orang tua kita, seperti yang disebutkan tadi".


"Keluarga atau pun teman yang tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apapun itu yang layak disebut sahabat, meskipun dia tidak pernah mengaku bahwa dia sahabat kita" Kata Haiden lagi menyelesaikan penjelasannya.


Mata Marwan terlihat berkaca-kaca usai mendengar penjelasan Haiden mengenai perbedaan antara taman, keluarga dan sahabat barusan. Melihat mata Marwan berkaca-kaca seperti akan menangis, Haiden bertanya "Kenapa kau bro?".


"Terima kasih karena kau sudah berkenan menjadi sahabatku bro. Kau tidak pernah meninggalkan ku, padahal aku sempat ngeyel dan akhirnya aku dipukulin orang dulu" Jawab Marwan.

__ADS_1


Haiden tersenyum lagi sebelum membalas ucapan Marwan "Itu karena kau, Suherman, Mardan, Melani dan Wanti benar-benar sahabat aku. Kalian tidak pernah meninggalkan aku disaat aku dalam keadaan apapun dulu sebelum kita semua seperti sekarang ini".


Mendengar ucapan Haiden barusan, Suherman dan Marwan bangkit bersamaan dari duduknya ingin memeluk Haiden. Haiden sadar dua sahabatnya itu ingin memeluk nya, diapun ikut bangkit dari duduknya.


Tiga sahabat itu akhirnya berpelukan. Tanpa disadarinya, Suherman meneteskan air matanya saat berpelukan dengan Marwan dan Haiden.


Di tempat lain, Mardan terlihat sedang mengobrol dengan A Cun dan Gubernur A Cin di salah satu Resto khusus kalangan atas. Resto ini biasa jadi tongkrongan para pejabat.


"Jadi begini ketua. Untuk Periode kedua ini, rencananya bang A Cin mau ajak ketua jadi calon Wakilnya ketua" Kata A Cun kepada Mardan.


Mardan tersenyum mendengar ucapan A Cun barusan, kemudian bertanya pada Gubernur A Cin "Benar itu pak Gub?".


"Benar. Bagai mana tanggapan ketua Mardan?" Jawab Gubernur A Cin sembari balik bertanya pada Mardan.


Mardan terdiam sejenak setelah mendengar jawaban dan pertanyaan Gubernur A Cin. Setelah beberapa saat terdiam memikirkan sesuatu, Mardan menjawab "Kasih saya waktu untuk berpikir. Saya harus bicarakan dulu dengan Haiden dan sahabat-sahabat saya yang lainnya".


Gubernur A Cin mengernyitkan dahinya lalu membalas jawaban Mardan "Apakah semau keputusan untuk diri ketua sendiri juga harus diputuskan ketua Haiden ketua?".


"Apa maksud dari pertanyaan anda pak gubernur?" Tanya Mardan dengan nada tinggi kepada Gubernur A Cin.


Sebelum Gubernur A Cin menjawab pertanyaan Mardan, A Cin langsung menyela pembicaraan mereka berdua.


"Abang tidak pernah memiliki sahabat beneran makanya abang bisa ngomong seperti itu. Abang ga tahu, ketua Haiden sendiri kalau ingin melakukan apapun pasti di bicarakan dengan ketua Mardan dan sahabat-sahabat nya yang lain" Kata A Cun kepada abang kandungnya yang saat ini masih menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara.


Gubernur A Cin tersenyum kecut lalu berkata "Maafkan saya ketua Mardan. Saya sudah salah paham".


"Benar kata A Cun. Saya tidak pernah memiliki sahabat sungguhan. Di dunia Politik tidak ada lawan dan teman abadi, atau pun sahabat" Kata Gubernur A Cin lagi kepada Mardan.

__ADS_1


Mardan tersenyum mendengar ucapan Gubernur A Cin lalu berkata "Saya tahu rata-rata Politikus itu setelah menjawab, dia bekerja demi kepentingan Partai dan dirinya sendiri, bukan demi kepentingan Negara dan Bangsanya".


"Dan kalau anda ingin mengajak saya jadi pasangan anda untuk bekerja demi kepentingan Partai, dengan tegas saya tolak saat ini juga. Tapi kalau demi kepentingan Negara dan Bangsa kita, maka akan saya pertimbangkan" Kata Mardan lagi dengan tegas kepada Gubernur A Cin.


__ADS_2