
Arlita menutup map coklat itu dengan mulut yang sulit untuk di ucapkan dengan kata-kata.
"Mengapa kamu harus menyembunyikannya".ucapnya dalam hati.
Dengan langkah malas dia pun mengembalikannya di tempat semula.
Arlita mengusap air mata yang tiba-tiba menetes di kedua pipinya.
" Mengapa kamu tidak jujur sama aku Pram".ucapnya dengan suara yang sangat pelan.
"Aduh".keluhnya sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba dia rasakan begitu kencang.
Dengan langkah pelan dia pun berjalan keluar dari dalam kamar dan memanggil seseorang.
" Bi, bibi".panggilnya.
Dengan tergesa-gesa orang di panggil dengan sebutan bibi itupun berlari ke arah dan langsung membantu sang majikan untuk berjalan menuruni tangga.
"Ya Allah mba, kenapa?
" Perut saya tiba-tiba kencang bi, tolong antarkan saya ke rumah sakit. Saya takut ke dua anak saya kenapa-kenapa".ucapnya dengan sedikit merintih menahan sakit.
"Baik mba, mba Lita duduk di sini dulu biar saya panggil pak Mamat untuk menyiapkan mobil".
Arlita hanya mengangguk lemah sambil mengusap-usap perutnya dan membaca istighfar berkali-kali.
Wanita itu pun kembali masuk ke dalam rumah setelah semuanya siap.
" Mba ayo kita ke mobil, mobilnya sudah siap".kata wanita itu lalu membantu majikannya untuk berjalan ke luar rumah menuju mobil yang telah di siapkan tadi.
"Hati-hati mba masuk ke dalam mobilnya".
__ADS_1
Arlita pun menuruti saja karena dia kembali merasakan perutnya seperti melilit.
" Bi tolong ambilkan tas yang ada di samping tempat tidur".
"Baik mba".jawabnya lalu dengan langkah yang tergesa-gesa dia pun mengambil tas besar itu dan langsung menaruhnya di bagasi mobil dan setelahnya dia pun masuk juga duduk di samping sang majikan sedang duduk sambil mengusap-usap perutnya.
" Jalan pak Mamat."perintah bi Inah.
Laki-laki itupun langsung menjalankan mobil menuju ke rumah sakit.
Di tempat berbeda
Pramudya kini sedang mengikuti mata kuliah pertamanya dengan hati yang tiba-tiba gelisah.
"Ada apa ini, kok hatiku tiba-tiba merasa gelisah".batinnya berkata.
Akhirnya dia pun tidak bisa mengikuti pelajaran pertama itu fokus karena perasaannya kini semakin gelisah sampai pelajaran mata kuliah pertama nya pun selesai.
" Elo kenapa Pram?
"Entahlah, tapi tiba-tiba perasan gue mendadak begitu gelisah."
"Mungkin terjadi sesuatu sama Lita".
Pramudya terdiam mencoba memikirkan ucapan sahabatnya tiba-tiba handphonenya berbunyi laku dia pun mengangkatnya dan mendengarkannya.
Dengan gerakan cepat laki-laki itu memasukkan semua alat tulis ke dalam tas dan tentu saja membuat sahabatnya menjadi sedikit heran melihatnya.
" Pram ada apa?
"Gue mau ke rumah sakit".
__ADS_1
" Ke rumah sakit?Siapa yang sakit?
"Arlita".jawabnya sambil berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
" Gue ikut".ucapnya langsung berjalan mengikuti langkah Pramudya yang berjalan sangat cepat.
Dari kejauhan seseorang sedang memperhatikan kedua laki-laki itu.
"Sekarang aku tau, kalau aku tidak mempunyai harapan".ucapnya sedih.
Di tempat parkir.
" Elo bawa mobil Jok?
"Enggak".
"Nih lo yang bawa mobilnya, gue ngga bisa konsentrasi membawanya".ucapnya sambil melemparkan kunci ke Joko.
Joko langsung menerimanya dan tak lama mobil itupun pergi meninggalkan halaman kampus.
" Pram elo harus tenang".
"Gue ngga tenang Jok sebelum gue tau kalau keadaan istri gue itu dalam keadaan baik-baik saja".
" Iya gue ngerti Pram tapi sekarang ini yang harus elo lakukan adalah berdoa".
Pramudya menarik napasnya lalu menghembuskannya lalu mengangkat kedua tangannya da berdoa dengan khusyuk.
Dalam do'anya dia pun meminta keselamatan istri dan kedua baby nya.
bersambung
__ADS_1