
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore kedua sahabat nya pun pulang.setelah kedua sahabatnya pulang dia pun masuk ke dalam kamar.
Dia melihat ke dalam kamar untuk mencari suaminya tapi dia belum melihatnya, hingga terdengar suara dari gemercik air dari dalam kamar mandi.
Ternyata orang yang dia cari sedang berada di dalam mandi.
Lalu dirinya pun mengambil pakaian ganti untuk suaminya dan menaruhnya di atas tempat tidur.
Kini Arlita sedang duduk di tempat tidur sambil memainkan handphonenya. Namun tiba-tiba perasaan hatinya mulai kembali gelisah dia memegang dadanya
"Ada apa ini, kok hatiku tiba-tiba gelisah".ucapnya dalam hati.
Di tengah rasa gundah nya tiba-tiba terdengar suara handphone berdering, dia melihat ke arah handphonenya tapi handphonenya tidak bersuara lalu dia melihat handphone suaminya yang berada di atas meja belajar.
" Oh ternyata handphonenya Pram tapi Pram kan masih berada di kamar mandi, apa aku angkat aja atau menunggu Pram keluar! pikir Arlita.
Dia pun mengabaikannya dan kembali sibuk dengan handphonenya.Suara handphone suaminya berhenti namun kembali lagi berdering, dia memanggil suaminya kalau handphonenya berbunyi.
"Pram handphone kamu bunyi".ucapnya sedikit berteriak.
Laki-laki itu menyahut.
" Angkat saja yang, aku masih mandi".
"Baiklah, aku angkat telpon nya".ucapnya sambil mengangkat telpon.
" Hallo ".ucap Arlita
" Hallo, saya bisa berbicara dengan pak Pramudya ".
"Maaf Pramudya masih di dalam kamar mandi,apa ada perlu pak?
"Iya bu, saya ingin memberi tau kalau pasien yang bernama pak Hendra Mahesa kini sedang kritis. Saya harap pak Pramudya bisa datang ke rumah sakit".ucap seseorang di dalam telpon.
Arlita terkejut saat mendengar nama ayahnya di sebut membuat diri nya mendadak menjadi sedikit linglung, seketika tubuh tiba-tiba menjadi sedikit lemas hingga tanpa terasa tubuhnya hampir jatuh di lantai untung saja suaminya dengan cepat menangkapnya.
"Sayang".ucapnya sambil membaringkan tubuh istri nya di tempat tidur.
__ADS_1
Pramudya melihat wajah istrinya terlihat sedikit pucat menjadi sedikit khawatir setelah menerima telepon, apalagi tadi diri nya sempat lupa kalau di handphonenya masih menyimpan nomor telepon ayah mertuanya.
Pramudya menggenggam tangan istrinya dengan erat dan menciumnya.
"Sayang".panggil Pramudya tapi sang istri masih saja diam itu membuat nya merasa bersalah.
Arlita pun melihat ke arah suaminya.
" Apa dia sakit?tanya nya.
"Iya".
" Sakit apa?
"Sakit karena dia mengalami kecelakaan tadi pagi".
" Apa kecelakaan ".ucapnya tidak percaya tanpa terasa air matanya menetes di kedua pipinya.
Bohong kalau dia tidak pernah peduli dengan laki-laki yang berstatus ayah kandung nya, dalam hati kecilnya dia pun sangat merindukan sosok ayahnya itu.
Setelah beberapa saat Pramudya melihat istri nya sudah dalam keadaan tenang barulah dia mengajak istrinya bicara.
Dia pun melangkah untuk memakai pakaian karena tadi dia belum sempat memakai pakaian nya karena melihat sang istri yang hampir jatuh ke lantai.
Setelah rapi dia pun mendekati istrinya sambil membawa segelas air putih untuk istrinya.
"Minum dulu sayang".ucapnya sambil memberikan segelas air.
Istrinya pun menerimanya dan meminumnya hingga air itu pun tandas lau memberikan gelas kosong kepada suaminya.
Pramudya menerima nya dan menaruh gelas kosong itu di atas nakas.
" Apa lukanya parah?
"Iya,lukanya sangat parah di bagian kepala dan baru saja menjalani operasi pagi tadi".
Arlita terdiam.
__ADS_1
" Sayang maaf aku berbohong padamu, bukan maksud aku untuk menyembunyikan nya tapi aku takut kamu akan sok jika mengetahuinya ".
" Tapi kenapa harus kamu yang bertanggung jawab bukankah istrinya ada?
"Mereka sudah bercerai jadi ayahmu tidak mempunyai seseorang untuk menjaga nya".
" Bercerai ".
" Iya".
"Apa kamu akan pergi untuk menemui nya? tanya Arlita sambil melihat ke arah suaminya.
" Kalau kamu mengizinkan nya aku akan pergi tapi jika tidak aku tidak akan pergi".
"Pergilah laki-laki itu sedang kritis mungkin dia membutuhkan mu".
Pramudya memeluk istrinya.
"Terima kasih tapi gimana sama kamu aku tidak bisa meninggalkan kamu sendiri".
" Aku tidak sendiri Pram karena aku mau ikut kamu".
Pramudya terkejut mendengarnya
"Kamu yakin sayang?
Arlita mengangguk.
" Aku siap-siap dulu".
"Baiklah".kata suaminya.
Akhirnya setelah bertahun-tahun Arlita kini mulai mencoba untuk berdamai dengan masa lalu, kini dalam hatinya sedang di landa rasa takut kehilangan sosok ayah yang dulu sangat disayanginya.
" Kuatkanlah hatiku ini ya Allah ".doanya dalam hati.
bersambung
__ADS_1