
Perjalanan menuju rumah terasa begitu lama menurut wanita yang sedang di duduk di samping kursi kemudi dan suaminya pun memperhatikan wanitanya itu seperti sedang memendam sesuatu.
"Sayang kamu kenapa?
" Entahlah tapi terus terang saja sekarang ini aku merasa sedikit takut ".katanya tanpa melihat suaminya.
" Apa ini soal aku yang tadi tidak memakai pengaman sayang?
"Bisa jadi."
"Kamu takut hamil lagi sayang?
"Tidak".
" Terus apa yang membuatmu tidak tenang?
"Si kembar masih terlalu kecil untuk mempunyai adik dan keduanya masih membutuhkan perhatian kita sepenuhnya tapi jika sampai aku hamil sekarang kasihan keduanya".
" Maaf seharusnya aku memikirkan nya terlebih dahulu sebelum melakukan nya."
Keduanya pun terdiam sampai mobil mereka tiba di rumahnya.
Arlita berjalan memasuki rumah terlebih dahulu karena ibu muda itu sudah sangat merindukan si kembar sedangkan suaminya berjalan di belakangnya.
Saat ibu muda itu masuk dia melihat Bunda mertuanya sedang menggendong Putri cantiknya karena dia mendengar Putri cantiknya sepertinya menangis.
"Assalamualaikum Bunda".salamnya sambil mengambil Putri cantiknya yang menangis.
" Waalaikumsalam, untung kau sudah pulang sayang Hema menangis terus dari tadi".
"Cup... cup.. cup.Hema kangen sama Mamah ya".ucapnya sambil melihat kedua pipi Putri nya memerah karena menangis.
" Maaf ya Bun Lita jadi menyusahkan Bunda".
__ADS_1
Wanita itu pun tersenyum lalu mengusap bahu menantunya dengan lembut.
"Tidak apa-apa sayang, Bunda juga pernah muda".katanya dan membuat Arlita menundukkan kepalanya karena malu.
" Sepertinya Hema memang kangen sama Mamahnya".
Arlita pun mengangguk karena sekarang Putri cantiknya itu pun kini tertidur setelah di gendongnya.
"Hemy di mana Bunda kok ngga ada?
" Hemy tidur di kamar sama Ayah. Si sulung mah anteng dari tadi".ucapnya sambil mengusap kepala cucunya dengan sayang.
Pramudya mendekati ketiga wanita kesayangannya yang kini sedang duduk di sofa.
"Hema kenapa sayang? ucapnya setelah duduk di samping sang istrinya.
" Biasa rewel".
"Menangis lama ya Bun?tanya Pramudya dengan perasaan khawatir.
" Tidak apa-apa biasalah namanya juga anak-anak kalau sudah kangen sama Mamahnya yang kelamaan perginya karena di culik oleh Papahnya ".ucap Bunda nya menyindir Putranya.
Pramudya hanya terdiam sambil melihat kearah anaknya.
"Maafin Papah ya sayang habisnya Papah juga kangen sama Mamah kamu".
Arlita mencubit paha suaminya saat mendengar ucapan absurd dari suaminya dan membuat dirinya merasa malu kepada Bunda mertua nya.
" Aw.. ".
"Sakit sayang".ucapnya sambil mengusap pahanya yang sakit.
Sang Bunda yang melihat nya langsung ikut tertawa dan dia pun pergi meninggalkan keduanya menuju kamarnya di mana cucu ganteng nya kini sedang tertidur bersama dengan kakeknya.
__ADS_1
" Makanya kalau ngomong itu di saling dulu jangan asal ceplos, aku malu tau".
"Ya namanya juga ngga sengaja sayang".katanya membela diri.
" Kebiasaan tau".ucapnya sambil bangun dari sofa menuju kamar dan Pramudya pun mengikutinya dari belakang.
Sampai di dalam kamar Ibu muda itupun langsung menidurkan Putri cantiknya di boxnya.
"Putri kita cantik ya sayang".ucap Pramudya sambil melihat kearah box di mana Putri cantiknya kini tertidur.
" Iya, sangat cantik".
"Sama cantiknya seperti Mamahnya".
Arlita pun tersenyum dan melangkah mendekati tempat tidur dan diapun duduk di sana.
Laki-laki itu ikut duduk di sampingnya.
"Makasih Mas".ucapnya sambil memegangi kedua tangan suaminya.
Pramudya melihat kearah istrinya.
" Makasih untuk apa?
"Karena sudah menjadi suamiku".ucapnya dan membuat laki-laki yang berada di hadapannya itu tersenyum.
" Sama-sama sayang ".
Keduanya pun larut dalam pikiran masing-masing karena kebahagiaan kini mulai Arlita rasakan setelah sosok laki-laki yang berada di hadapannya telah memberikan kebahagiaan yang tidak terkira.
"Semoga saja kebahagiaan selalu bersama kita".doa suaminya. "
" Aamiin".
__ADS_1
bersambung