Suamiku Adalah Cinta Pertamaku

Suamiku Adalah Cinta Pertamaku
171


__ADS_3

POV Pramudya


Pramudya mendekati istrinya yang kini sedang berada di depan cermin dan dia pun menundukkan kepalanya lalu dia pun mengulurkan tangan kanannya dan Dia mengusap-usap kepala istrinya yang tertutup hijab itu dengan sayang.


Sungguh dirinya kini bisa merasakan perubahan yang dia alami oleh istrinya.Dulu sebelum menikah istrinya adalah sosok perempuan yang sangat bar-bar dan juga sedikit jutek sehingga membuat para kaum adam tidak berani mendekati nya walaupun para kaum adam itu tau bahwa kecantikan istrinya itu ada di atas rata-rata.


Kini setelah aku menikahinya, aku mulai merasakan perubahan pada dirinya dan itu sangat terlihat dari semua tingkah lakunya setiap hari.Sungguh aku sebagai suaminya kini sangat bersyukur seiring berjalan nya waktu wanitaku itu sudah berubah menjadi lebih ibu dan juga istri yang baik untukku.


Seperti sekarang ini perubahan yang di alami Arlita sungguh benar-benar terlihat nyata, mulai dari belajar make up walaupun aku tau wajah wanitaku sudah cantik alami walaupun tanpa make up karena wajahnya sudah cantik dari lahir.


Tapi sekarang semakin hari aku perhatian wajahnya itu terlihat begitu cantik.Apa karena bawaan bayi yang ada di dalam kandungan nya atau karena apa tapi yang jelas bagiku Arlita ku kini sudah berubah menjadi wanita dewasa yang semakin cantik.


"Ah kalau di ucapkan dengan kata-kata rasanya aku benar-benar sangat kehilangan kata-kata untuk memujinya."batinnya berkata.


Laki-laki tersenyum sendiri dan istrinya pun memperhatikannya.


"Kenapa Mas senyum-senyum sendiri?tanyanya dan membuat laki-laki itu langsung mencium kepala istrinya itu dengan lembut.


" Karena hatiku sedang bahagia".


"Oh ya.Kalau boleh tau bahagia karena apa?


Aku tidak menjawabnya tapi aku langsung mengajaknya berdiri dan tanpa kata aku langsung memeluknya tapi tidak terlalu kencang karena aku takut menekan perut buncitnya.

__ADS_1


" Mas".panggilnya sambil mengusap-usap punggung nya lembut dan dia pun terdiam mencoba memberikan pelukan ternyaman nya untuk laki-laki yang bergelar suaminya.


"Apa kamu tidak ingin mengadakan resepsi pernikahan kita? tanyanya setelah melepas pelukannya dan kini posisi mereka sedang duduk di tepi ranjang.


Wanita itupun melihatnya lalu dia pun tersenyum


" Tidak perlu".jawabnya.


"Kenapa?


" Karena aku tidak memerlukan nya".


"Tapi sayang aku benar-benar merasa bersalah kepadamu karena aku hanya menikahi mu secara sederhana itupun menikah nya dadakan di rumah sakit, tidak ada pesta dan bahkan makan-makan seperti pernikahan pada umumnya dan itu membuat aku merasa malu dengan mu".ucapnya sambil menggenggam kedua tangan istrinya.


"Loh kok kamu malah tersenyum si yang.Aku ini sedang bicara serius sama kamu".


" Iya maaf Mas. Aku tidak bermaksud untuk begitu, cuma aku lagi bingung aja sama kamu kok tiba-tiba saja kamu pengen banget kita mengadakan resepsi pernikahan".


"Karena aku hanya ingin membuat mu bahagia".


Arlita menggenggam tangan suaminya


" Boleh aku katakan sesuatu kepada Mas?

__ADS_1


"Tentu.Apa yang ingin kamu katakan kepada ku".katanya tak sabar.


" Menurut Mas apa aku tidak bahagia selama ini?


Laki-laki itu berpikir sejenak lalu dia pun berkata


"Menurut ku kamu sangat bahagia hidup bersama ku".jawabnya jujur.


" Nah itu Mas sudah tau terus kenapa Mas itu masih saja ngotot buat mengadakan acara resepsi ".


" Iya aku hanya ingin membuatkan acara yang sangat spesial buat kamu. Terus terang aku sebagai seorang CEO dan pengusaha muda yang sukses tidak mengadakan acara resepsi itu sangat-sangat memalukan ".


" Mas itu ada-ada saja.Mas,tidak semua nya yang Mas katakan itu benar. Jujur tolak ukur suatu pernikahan itu akan langgeng jika setiap pasangan suami istri itu bisa saling melengkapi jadi bukan di lihat dari pesta resepsi pernikahan yang super mewah akan menjamin hidup bahagia dan langgeng tapi seberapa lama hubungan suami istri bahagia jika kedua pasangan mampu bertahan sampai maut memisahkan."ucapnya menjelaskan suaminya pun mengangguk lalu mencium punggung tangan istrinya dengan sayang.


Jadi jangan bahas tentang resepsi lagi karena sekarang ini aku benar-benar sangat bahagia".katanya dan laki-laki itupun tersenyum.


Arlita melihat kearah jam dinding


waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat.


"Lebih baik kita berangkat nanti sholat di sana saja".ucap istrinya dan lagi-lagi laki-laki itupun langsung mengikutinya.


" Sungguh hal yang terindah baginya kini adalah dirinya bisa melihat keluarga kecilnya hidup bahagia".

__ADS_1


bersambung


__ADS_2