Suamiku Adalah Cinta Pertamaku

Suamiku Adalah Cinta Pertamaku
131


__ADS_3

Pramudya dan Ayahnya menuju keluar rumah di mana sebuah mobil baru saja berhenti.Dari dalam mobil itu keluarlah sosok kedua mertua nya dan adik ipar laki-laki nya yang kini sedang berjalan mendekati nya.


"Assalamualaikum".salam mereka setelah dekat dan saling bersalaman.


" Waalaikumsalam ".jawab Pramudya dan Ayahnya barengan.


Setelah bertukar kabar kini semuanya pun masuk ke dalam rumah.Sang Ibu mertuanya berjalan di sampingnya lalu diapun memulai pembicaraan sambil berjalan menuju ruang keluarga


"Pram".panggil Ibu mertuanya.


" Iya Bu".


"Ibu mau tanya?


" Tanya apa Bu?


"Mutia sudah sampai di sini apa belum?tanya Ibu mertuanya dengan nada sedikit gelisah


"Sudah Bu".


" Syukurlah kalau sudah sampai, terus terang hati Ibu ini tadi takut banget kalau anak itu belum sampai ke sini!


Pramudya pun tersenyum mendengar keresahan dari Ibu mertuanya.


"Ibu tenang saja Mutia tidak apa-apa malahan sekarang anaknya lagi makan di ruang makan di temani sama Bunda".ucapnya sambil melihat ke arah ibu mertuanya yang sekarang ini sudah jauh lebih tenang.Wanita itupun tersenyum.


"Memangnya tadi Mutia tidak pamitan sama Ibu?


"Sudah pamit sih cuma Ibu itu hanya takut kenapa-kenapa kalau anak itu pergi sendiri, takutnya kenapa-kenapa di jalan".


Pramudya hanya mengangguk tanda mengerti.


Sampailah semuanya kini di ruang keluarga di mana si kembar sedang bermain di temani oleh pengasuh dan juga Arlita yan sedari tadi masih betah melihat ke dua anaknya sedang bermain dengan mainan nya dan keduanya kini sedang memainkan kedua kaki lalu mengangkatnya tinggi hingga kedua tangannya memainkan nya.


Semuanya pun tertawa melihat tingkah lucu si kecil.


"Makin lucu saja cucu kita".kata Ayah Pramudya kepada besannya.

__ADS_1


Laki-laki itupun tersenyum.


" Iya. Tidak berasa kita sudah tua sekarang ".


" Ah iya apa yang Mas Mahesa katakan memang benar kita sekarang sudah semakin tua apalagi cucu kita akan bertambah lagi."ucap nya dengan hati yang sangat bahagia karena kehadiran sang menantu yang telah memberikannya dua cucu yang sangat lucu dan kini dirinya semakin bahagia karena sebentar lagi cucunya akan bertambah lagi dan semakin membuat keluarganya begitu bahagia karena anggota keluarga nya akan bertambah lagi.


Laki-laki itupun hanya terdiam karena ucapan dari laki-laki yang notabenya adalah besannya itu telah membuat hatinya sedikit tersindir, bagaimana tidak dulu dirinya telah menyia-nyiakan anak-anaknya bahkan menelantarkan nya tanpa memberikan nafkah serta tempat tinggal yang layak untuk mereka hingga putri sulung nya itu harus berjuang mencari nafkah untuk mereka makan.


Sangat miris sekali jika dirinya mengingat nya.Dirinya adalah sosok seorang Ayah yang sangat buruk.Dia pun larut dalam lamunannya hingga tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.


"Mas Mahesa".panggilnya dan dia pun tersadar dari lamunannya lalu menoleh kearah orang yang memanggilnya.


"Iya".


"Mas Mahesa melamun?


" Iya. Saya tadi sedang teringat sesuatu saja".


"Kita sambung ngobrolnya di gazebo saja sambil ngopi biar lebih rileks".ajaknya.


"Boleh juga".katanya.


Sementara di dalam ruang makan.Ibu Arlita mendekati kursi tempat anaknya kini sedang duduk sambil memakan makanan dengan sangat cepat.


"Pelan-pelan makannya ngga ada yang minta".ucap seseorang tepat di sampingnya.


Gadis kecil yang sedang makan pun akhirnya menoleh dengan mulutnya yang sedikit menggelembung karena banyaknya makanan di dalam nya.Lalu dia pun hanya tersenyum tanpa menjawabnya.


Dan dia pun Ibu dari menantunya sedang tersenyum kepada lalu menghampiri dan keduanya pun saling berpelukan dan cipika-cipiki.


"Apa kabar Mba? tanya Bunda Pramudya setelah melepaskan pelukannya.


"Alhamdulilah baik jeng, jeng sendiri gimana kabarnya?


" Alhamdulilah kabar saya baik juga".jawabnya sambil melihat kearah Mutia yang masih asyik makan tanpa menghiraukan kehadiran Ibu nya


"Maaf ya jeng Mutia sudah merepotkan!

__ADS_1


Wanita itupun tersenyum.


" Saya tidak merasa di repot kan justru sebaliknya saya merasa sangat senang".


Gadis itu melihat ke arah Bunda Pramudya


"Bun boleh Mutia nambah? Perut Tia masih lapar".


Wanita itu tersenyum


"Boleh".


" Tia kamu itu! ucap sang Ibu benar-benar di buat terkejut dengan sikap polos anak bungsu nya.


"Tia masih lapar Bu".ucapnya dan membuat Ibunya hanya bisa menarik napas dalam-dalam melihat kelakuan Putri nya kecilnya itu.


"Sudah tidak apa-apa Bu saya senang kok melihat nya jadi saya berasa mempunyai anak perempuan".


" Tuh kan Bunda saja tidak keberatan Tia makan banyak Bu".


"Ibu melarang kamu makan banyak karena takut tubuh kamu itu menjadi gemuk, kalau gemuk nanti kamu sudah untuk lari".ucap seseorang dan membuat gadis itupun berhenti menguyah makanannya lalu dia pun menoleh kearah sumber suara.


"Kak Faiz".


"Dasar gendut".ejeknya.


" Tia tidak gendut ini namanya berisi tau".


"Berisi apaan orang gendut begitu".


" Ibu, kak Faiz ngatain Tia gendut".rengeknya dan membuat kedua wanita dewasa itupun tersenyum sambil menahan tawanya melihat kelakuan keduanya.


"Kamu tidak gendut tapi berisi".kata Ibunya.


" Itu sih sama aja Bu, sama-sama gendut juga".kata Mutia sambil cemberut dan membuat kedua wanita paruh baya itu pun tertawa begitu juga Faiz yang sedari tadi terus mentertawakan adiknya.


"Semuanya nyebelin".gumamnya kesal.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2