Suamiku Adalah Cinta Pertamaku

Suamiku Adalah Cinta Pertamaku
156


__ADS_3

Dua hari pun berlalu setelah kejadian itu kini dirinya sedang fokus melanjutkan menulis skripsi.


Arlita kini sedang duduk di lantai dengan beralaskan karpet bulu sambil melihat kearah laptop nya.


Tangan kecilnya terus saja mengetik dan mengetik kata demi kata dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.


"Krucuk... krucuk (suara perut yang lapar)


"Lapar".ucapnya sambil memegangi perutnya terus dia pun melihat kearah jam dinding.


" Pantas saja lapar sudah waktunya makan siang".katanya sambil mematikan laptopnya dan berjalan keluar dari kamar menuju meja makan.


Saat perjalanan dirinya melihat adiknya kini sedang menonton tv.


"Kamu sudah makan Iz? tanya nya saat berpapasan dengan adiknya.


Laki-laki itu pun melihat nya.


"Faiz sudah makan kak".


" Ya udah kakak tinggal dulu, kakak mau makan lapar ".katanya sambil mengusap perutnya.


" Iya kak".ucapnya sambil tersenyum.


Arlita pun berjalan menuju meja makan dan dia pun langsung membuka piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauknya.


Di saat Ibu muda itu sedang asyik menikmati makanan nya.


Di luar rumah terdengar suara deru mobil yang berhenti tepat di depan halaman rumah.


Sepasang suami-istri turun dari dalam mobil, keduanya pun berjalan memasuki rumah.


"Assalamualaikum".ucap keduanya.


" Waalaikumsalam ".jawab asisten rumah tangga yang membuka pintu.

__ADS_1


"Arlita ada Bi? tanyanya kepada asisten rumah tangga.


" Ada Bu, sebentar saya panggilkan.Ibu sama Bapak tunggu aja di ruangan keluarga aja di sana juga ada Mas Faiz".


Keduanya pun mengangguk dan kini mereka berjalan menuju ruangan keluarga.


Sementara itu di meja makan Arlita sudah menyelesaikan makan siangnya dan dia pun melihat Bi Minah sedang menuju ke arah nya.


"Maaf Mba ada tamu".


" Siapa?


"Ibu sama Bapak Mba".


Ibu muda itupun terdiam.


" Mereka sedang menunggu Mba di ruangan keluarga ".ucapnya memberitahu.


" Iya.Bibi tolong buatkan minum ya. "


" Makasih."ucapnya sambil berjalan menuju ruangan keluarga.


"Sama-sama Mba".katanya sambil menuju pantry untuk membuatkan minum.


Arlita berjalan dengan langkahnya sedikit malas, apalagi di otaknya masih terekam jelas kejadian 2 hari lalu.Dan dalam hati nya Ibu muda itu masih sedikit kesal dan rasanya masih membekas di hatinya.


Tapi Ibu muda itupun dengan terpaksa harus bisa menekan emosinya dan ini dia lakukan semata-mata untuk menghargai keduanya sebagai orang tua kandungnya.


Sampailah kini Arlita di ruangan keluarga.


"Assalamualaikum".katanya sambil mencium tangan keduanya bergantian lalu dia pun duduk di samping adiknya yang sedang asyik bermain game.


" Sehat kak? tanya Ibunya.


"Alhamdulillah".balasnya singkat.

__ADS_1


Dan Ibunya pun merasakan aura putrinya kini sedang tidak baik-baik saja.


" Kak".panggil sang Ayah.


Arlita pun melihat ke arah laki-laki separuh baya yang kini terlihat sedang melihat nya dengan mata sayu nya.


"Ayah minta maaf".katanya lagi.


Arlita hanya terdiam tanpa menjawabnya.


" Maaf karena kecerobohan Ayah kini terulang lagi. Sekali lagi maafkan Ayah".ucapnya sambil menunduk.


Faiz menghentikan gamenya dan melihat kearah Ayahnya yang kini terlihat tidak baik-baik saja.


"Aku sudah memaafkan kesalahan Ayah tapi sekarang ini aku hanya kecewa saja".


Keduanya orang tua nya hanya terdiam tanpa bicara dan mencoba mendengarkan semua perkataan dari putri sulungnya.


"Dulu aku pernah sangat kecewa dengan semua tindakan Ayah yang secara tiba-tiba tanpa bicara kepada kami Ayah pergi meninggalkan kami dalam keterpurukan dan siapa yang menjadi korban di sini. Aku, aku orang yang sangat terpuruk bahkan hampir gila.


Berulang kali aku mencoba untuk bertahan untuk tetap menjadi orang yang normal tapi itu hanya di depan semua orang tapi di belakang sana hatiku begitu terluka sangat terluka.


Dan aku tidak ingin itu terjadi kepada Faiz. Jadi aku minta jangan pernah melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.


Mulai sekarang jadilah orang tua yang bijak untuk kami, mencoba mendengar kan keluh kesah kami dan biarkan kami sebagai anak-anak kalian agar bisa menggapai semua cita-cita kami".kata Arlita dan kedua orang tua nya pun mengangguk tanpa terasa mereka pun menangis.


"Maafkan kami, kami sangat menyesal".


Mendengar kedua orang tua nya meminta maaf membuat hati Arlita dan adik laki-laki nya itupun merasa tidak tega lalu mereka pun memeluk keduanya.


" Kami sayang Ayah sama Ibu." ucap keduanya.


Tidak jauh dari tempat mereka seseorang kini sedang berdiri sambil tersenyum


"Akhirnya kesalahpahaman kini sudah teratasi. Alhamdulilah".ucapnya dengan penuh syukur.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2