
Mobil memasuki halaman rumah, senyum Arlita pun mengembang setelah sampai di rumahnya.
"Aku merindukan si kembar".gumamnya dalam hati.
Mobil pun berhenti, Pramudya membuka pintu untuk istrinya lalu istrinya pun keluar dari dalam mobil di ikuti sang Bunda mertuanya yang sudah turun terlebih dahulu sambil menggendong bayi kecilnya.
Pramudya menghampiri istrinya
" Sayang aku gendong ya".
"Tidak Mas aku jalan aja ".ucapnya tapi tiba-tiba tubuhnya berasa melayang dan ternyata suaminya langsung menggendongnya lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
Bundanya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah putranya yang kelewat bucin.
" Lihat cantik Papah mu itu sangat cinta sama Mamah mu ".katanya kepada cucunya yang di gendongan nya lalu ikut berjalan masuk ke dalam rumah.
Sampai di dalam rumah banyak orang-orang sudah menunggu kedatangan mereka. Ada orang tua Arlita, kedua adiknya dan juga Ayah mertuanya.
Mereka semua menyambutnya
dengan wajah yang begitu bahagia.Arlita pun sangat malu kepada semua orang karena posisi nya kini masih berada di gendongan suaminya.
" Mas turunkan aku".pintanya.
"Tapi kan belum sampai di dalam kamar sayang".katanya dengan sedikit berbisik.
" Ngga udah di kamar Mas di sini saja,please turunin aku Mas. Aku malu di lihatin oleh semua orang ".
Akhirnya laki-laki itupun mengalah
" Baiklah ".katanya sambil menurunkan istrinya dengan pelan.
" Terima kasih ".
" Sama-sama sayang tapi kamu jalannya pelan-pelan saja ya".katanya dengan nada sedikit khawatir.
"Iya ".
Ibunya langsung mendekati nya dan memeluk nya.
" Selamat ya sayang, Ibu sangat bahagia sekali.
"Terima kasih Bu".katanya sambil melepaskan pelukan nya dan mendekati besannya yang masih menggendong bayi.
__ADS_1
" Cantik.Wajahnya mirip sekali dengan Hema".ucapnya dan membuat kedua adiknya langsung ikut mengerubungi bayi itu.
Pramudya pun mengajak istrinya untuk istirahat di dalam kamarnya.Sampai di dalam kamar Laki-laki itu langsung menyuruh istrinya untuk berbaring di tempat tidur.
"Istirahat lah".
" Iya Mas tapi ".
Laki-laki itupun langsung melihat ke arah istrinya
" Tapi apa sayang?
"Aku lapar Mas, aku mau makan".
Laki-laki itupun tersenyum
" Aku kira apa.Biar aku ambilkan".
"Iya Mas makasih".
" Sama-sama sayang".ucapnya sambil melangkah keluar dari kamar menuju meja makan untuk mengambilkan nasi dan juag lauk-pauk nya.
"Kamu mau makan Pram? tanya sang Bunda yang sudah berada tidak jauh dari dirinya.
"Ini untuk Lita Bun katanya perutnya lapar".
Wanita itupun mengangguk.
"Habis istri mu selesai makan kamu juga makan".
" Iya Bun.Oh iya Bun Asni sama siapa?
"Sama Ibu mertua mu tuh masih di ruangan keluarga di kerumunin sama om, tante, oma dan kedua oppa nya".
Laki-laki itu pun mengangguk.
"Ya udah Pram ke kamar dulu takut Arlita nunggu lama".
" Iya".jawab Bundanya sambil melihat ke arah putra nya.
Ada senyum yang terlihat dari kedua sudut bibir nya
"Bunda bangga sama kamu Nak".ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Di dalam kamar.
Pramudya membantu istri nya untuk duduk.
"Makasih Mas".
" Sama-sama sayang ".
" Sini piringnya Mas".katanya saat melihat laki-laki itu memegangi piring yang sudah berisi nasi dan lauk-pauk nya.
"Aku suapi".
" Ngga usah Mas aku bisa sendiri".
"Mau aku suapi atau tidak sama sekali".ucapnya dan membuat sang istri mau tak mau pun akhirnya mengangguk.
" Pintar. Itu baru istri ku. Ayo buka mulutmu".katanya sambil memasukkan sendok ke dalam mulut istri nya.
Laki-laki itu tersenyum senang.
"Kamu itu lebay Mas".ucapnya sambil menerima suapan suaminya.
" Biarin. Orang lebay sama istri sendiri.Lagian sayang memanjakan istri sendiri itu adalah ibadah, benarkan?
"Iya.Tapi tetap seperti ini jangan pernah berubah".
" Insya Allah sayang ".
Keduanya pun tersenyum.
" Ayo makan lagi".
"Iya tapi Mas makan juga".
" Baiklah".
Tidak jauh dari mereka seseorang secara tidak sengaja mendengar pembicaraan keduanya
"Ternyata trauma itu masih ada.Apa sedalam itu luka yang aku torehkan".gumamnya dalam hati.
Hingga seseorang menggenggam tangannya
" Butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka itu Mas jadi bersabarlah ".katanya dan laki-laki itupun mengangguk.
__ADS_1
bersambung