Suamiku Adalah Cinta Pertamaku

Suamiku Adalah Cinta Pertamaku
36.jalan-jalan


__ADS_3

Mereka tiba di taman komplek setelah 10 menit berjalan. keempatnya langsung mencari bangku yang kosong tapi tidak ada karena semuanya penuh oleh pengunjung taman yang lainnya.


Di sana banyak sekali anak-anak yang sedang bermain bersama dengan keluarga mereka, sambil bersantai dan membeli berbagai macam makanan yang juga di jual di dekat taman itu mempermudah bagi siapapun yang dalam keadaan lapar serta haus bisa langsung membelinya di sana.


"Kak kita duduk disitu aja kak".ucap Faiz sambil menunjuk kearah sebuah tikar di dekat para pedagang.


Pramudya melihatnya" boleh juga mungkin tikar itu disediakan sama para pedagang untuk para pembelinya".


Mereka berempat menuju tempat yang dimaksud lalu mereka memesan makanan dan minuman.


Arlita melirik kearah kedua adik dan suaminya dari wajah mereka terlihat begitu bahagia dalam hatinya dia mengucap syukur kepada Allah karena telah memberikan semua nikmat yang tidak terhingga.


Pramudya melihat kearah istrinya yang sedang melamun.


"Kamu kenapa sayang,kok melamun?


" Ah tidak aku hanya terlalu bahagia Pram, aku hanya ingin selalu bahagia seperti ini,tidak banyak permintaan aku hidup tenang,hati selalu bahagia itulah yang aku harapkan sekarang. "


Pramudya tersenyum "Aku akan berusaha mewujudkannya ".


"Aku akan menunggu saat hari itu tiba".


" Doakan saja suamimu ini agar selalu sehat agar sedikit demi sedikit mulai mencicil mewujudkan semua keinginan, mimpi dan cita-cita yang kamu harapkan terwujud dan menjadi nyata".


"Aku terharu mendengarnya.terima kasih karena sudah menjaga aku selama aku sakit, ya walaupun kita belum lama bertemu lagi setelah lama berpisah tapi aku yakin kamu bisa menjadi imam yang baik buat aku dan aku selalu berdoa untuk kamu juga semua orang yang aku sayang semoga Allah memberikan kesehatan, rezeki yang banyak agar bisa selalu berbagi dengan orang-orang yang kurang mampu biar semakin berkah."


"Aamiin".


Tidak beberapa lama pesanan mereka pun sampai. mereka menikmatinya sambil saling bersenda gurau.


Dari tempat yang tidak terlalu jauh seseorang sedang memperhatikan mereka.seorang laki-laki separuh baya hanya bisa melihatnya dari jauh.sebenarnya dia ingin sekali mendekati keempat orang yang sedang menikmati waktu bersama itu.


"Seharusnya Ayah sekarang ini sedang bersama kalian!menyesal,sekarang Ayah sangat menyesal telah memilih meninggalkan kalian karena keegoisan Ayah bahkan sekarang ini yang bisa Ayah lakukan hanya bisa melihat kalian dari jauh".ucapnya sambil menangis.


Melihat sang putri yang sudah kembali sehat membuat hatinya sekarang ini jauh lebih tenang tapi dirinya tidak bisa mendekati sang putri dia takut kehadirannya akan kembali membuat putrinya kembali sakit.

__ADS_1


Kini dia hanya bisa melihatnya dan bersabar dalam menunggu kata maaf dari putrinya dan kedua anak lainnya.


"Maafkanlah Ayahmu ini nak".ucapnya sambil terus melihat anaknya dari dalam mobilnya.


Mereka berempat makan dengan lahap.sebenarnya dari tadi Arlita memperhatikan ada seseorang yang sedang menguntit mereka tapi dia mencoba untuk tenang.


Pandangannya fokus kearah seseorang yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.


Pramudya melihat istrinya mengaduk-aduk makanannya sedangkan pandangannya melihat kearah lain.


"Sayang kok makanannya cuma diaduk-aduk aja,apa makanannya tidak enak?


"Makanannya enak kok,cuma aku sedang melihat seseorang?


Pramudya, Faiz dan Mutia menghentikan makan mereka saat Arlita berbicara lalu melihatnya.


" Kakak melihat siapa? tanya Faiz ingin tahu.


"Laki-laki yang kita panggil Ayah sekarang dia lagi menguntit kita tapi jangan melihatnya nanti dia tahu kalau kita sudah mengetahui keberadaannya. "


"Mau apa sih dia disini".


Mutia masih melanjutkan makannya karena dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini.


Pramudya melirik ke arah istrinya yang sudah mulai merasakan sedikit tidak nyaman dia mencoba menenangkannya.


Digenggamnya tangan istrinya.


" Kamu tenang ya, ada aku disini".ucapnya lembut.


Arlita mengangguk.


"Ayo makan lagi".


Akhirnya makanan yang mereka pesan habis.setelah membayar merekapun berjalan pulang.

__ADS_1


sosok laki-laki yang tadi menguntit merekapun sudah tidak ada mungkin saja dia sudah menyadari bahwa sang anak sudah mengetahui keberadaannya.


Laki-laki itu menyalahkan mobilnya sebelum sang anak selesai makan dan tidak beberapa lama mobil itupun pergi meninggalkan tempat itu.Arlita bernapas lega saat melihat mobil itu sudah mulai bergerak menjauh dari tempat mereka duduk.


"Kenapa?


" Laki-laki itu sudah pergi".ucapnya sambil menunjuk mobil yang sudah berjalan menjauh.


Pramudya dan kedua adiknya melihatnya.


"Mungkin saja dia menyadari kalau kita sudah mengetahui kehadirannya kak".Faiz berkata dengan sedikit kesal.


"Ya mungkin saja. kita pulang sekarang! kita harus siap-siap untuk pulang ke rumah kita".


" Baiklah ayo kita pulang, Mutia mau lihat rumah kakak yang baru".ucap Mutia dengan semangat.sang kakak hanya bisa tertawa melihat tingkah polos adik kecilnya itu.


Arlita berjalan bergandengan tangan dengan Mutia sedangkan Pramudya berjalan berdampingan dengan Faiz.


"Iz,masih mau latihan main bola basket?


" Masih kak tapi sekarang ini kakak kan lagi sibuk sama kak Lita jadi latihannya nanti saja kalau kak Lita sudah benar-benar sehat".


Pramudya terdiam.lalu Faiz melanjutkan ucapnya


"Sekarang ini Faiz hanya ingin melihat kak Lita sembuh, rasanya Faiz ingin mati saja saat mengetahui kak Lita sakit. "


"Kakak tahu perasaan kamu, disini didalam hati kakak juga merasakan apa yang kamu rasakan.terkejut dengan apa yang di ucapkan Dokter tapi kakak mencoba untuk tenang karena Arlita butuh kita agar dia bisa kembali hidup dengan normal seperti dulu".


" Kak Pram benar, maka mulai Faiz akan mulai belajar dengan rajin.Faiz hanya ingin membuktikan kepada kak Lita bahwa perjuangannya selama ini tidak sia-sia".ucapnya semangat.


Pramudya tersenyum. "Nah gitu dong semangat kan enak kakak melihatnya."


"oh iya hari sabtu sama minggu nanti kita latihan main basket.kamu tenang saja di rumah kakak nanti sudah ada lapangannya kan kamu bisa sekalian menginap di rumah kakak nanti".


Faiz mengangguk sambil tersenyum senang.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2