
Arlita memasuki rumah lamanya bersama sang suami yang ikut mengantarkan ke sana sebelum laki-laki itu berangkat kuliah karena jadwal kuliahnya siang.
Langkah Ibu muda itu begitu tergesa-gesa saat menerima telepon dari ibu angkat nya berserta keluarga kecilnya hari ini akan pulang ke kota Malang.
Sambil mendorong stroller keduanya berjalan memasuki rumah lama Arlita.
"Assalamualaikum".Pasangan pasutri itu memberi salam sesudah sampai.
Semua orang yang berkumpul di ruang keluarga pun menoleh dan tersenyum saat orang di tunggu-tunggu sudah datang.
" Waalaikumsalam ".balas semuanya.
Pasutri itu pun bersalaman dan ketiga adiknya langsung mendekati si kembar.
" Asyik ada dede Hemy sama dede Hema".kata Bima senang.
"Aduh gemesin banget ".ucap Mutia sambil menoel-noel pipi chubby si kembar.
Semuanya tertawa senang melihat kelakuan Mutia dan Bima yang begitu menyayangi ke dua adik kembarnya itu.
Pramudya sudah bergabung dengan kedua Ayah mertuanya dan Arlita kini sedang berada di dalam kamar bersama ibu angkatnya.
Keduanya masih terdiam tanpa bicara hingga tak lama kemudian Arlita memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Apakah Ibu benar-benar akan kembali ke kota Malang?
Wanita itu belum menjawabnya dia tau keadaan putrinya masih sedikit labil jadi dirinya mencoba mendengarkan apa yang ingin di ucapkan oleh putrinya itu.
"Apa Ibu akan meninggalkan Lita lagi?
Wanita itu menarik nafasnya pelan lalu menghembuskannya.
__ADS_1
Setelah tenang barulah dirinya pun berucap sambil menggenggam erat tangan Putrinya.
" Ibu harus pulang sayang, tempat kami di sana usaha bapak kan juga di sana jadi mau tidak mau kami pun harus kembali ke sana".ucapnya dengan pelan agar Putri nya tidak salah paham.
"Terus rumah ini bagaimana?
" Rumah ini sudah milik kamu sayang ".ucapnya dan membuat wajah Arlita sedikit terkejut saat mendengar nya.
"Bagaimana bisa begitu Bu".
" Lita sayang kamu adalah anak sulung kami jadi sudah sewajarnya kami memberikan hak untuk kamu".
"Tapi ini berlebihan Bu".
Wanita itu menggelengkan kepala tanda tidak.
" Kamu sangat berhak sayang karena kami berdua yang memberikan nya jadi itu sah apalagi sudah ada sertifikatnya".
" Jangan menolaknya nanti Ibu sedih".
"Tapi Lita bingung Bu".
"Boleh Ibu tau apa yang membuatmu kamu bingung?
"Rumah ini nanti akan kosong Bu. Ibu kan tau Ayah dan Ibu sudah kembali rujuk dan Ayah akan mengajak Ibu dan kedua adikku untuk tinggal bersamanya lalu rumah ini".ucap Arlita dengan wajah sedikit sedih mengingat kenangan di dalam rumah ini.
"Ibu tau perasaan kau sayang tapi masih banyak cara agar rumah ini tidak kosong".
Arlita mengerutkan keningnya.
" Kamu pasti bingung ya?tanyanya sedangkan sang putri masih terdiam mencoba mendengarkan perkataan ibunya.
__ADS_1
"Bagaimana jika rumah ini di jadikan panti asuhan aja".
Arlita mencoba berpikir sebentar.
" Ide Ibu bagus Lita setuju daripada rumah ini kosong lebih baik di gunakan untuk anak-anak yang membutuhkan tempat tinggal ".
"Minta bantuan sama suami mu untuk mengurus surat izin dan segala keperluan untuk mendirikan panti asuhan".
Ucapnya dan putrinya langsung mengangguk kan kepalanya tanda iya.
"Lita".
" Jaga diri kamu baik-baik ya." ucapnya tanpa terasa air matanya jatuh di kedua pipi nya.
"Jadilah Ibu yang baik untuk si kembar jadikan masa lalu yang kamu alami sebagai pelajaran agar kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jujur Ibu sangat bangga sama kamu.
Anak Ibu sekarang sudah dewasa".
Arlita langsung memeluk tubuh Ibu angkat nya itu dan dia pun menangis.
Wanita itupun tau kalau sekarang ini putrinya sedang menangis dirinya pun mengusap-usap punggung putrinya itu dengan sayang.
"Terima kasih karena Ibu Vira mau sudah mau menjadi ibuku".
" Ibu yang seharusnya berterima kasih karena kamu telah menjadi putri kami."
Keduanya pun larut dalam tangisnya.
"Jadilah Istri dan Ibu yang baik untuk suami dan anak-anak kamu".pesannya dan putrinya pun mengangguk iya.
bersambung
__ADS_1