Suamiku Adalah Cinta Pertamaku

Suamiku Adalah Cinta Pertamaku
74


__ADS_3

Pramudya berjalan keluar kamar rawat istrinya bersama dengan kedua adik iparnya.Mereka berdua memintanya untuk mengantarkan ke ruang rawat ayahnya.


Entah rasa apa yang ada di hati ke duanya apakah mereka senang ataukah tidak setelah mereka berdua telah mendapatkan izin dari kakaknya.


Dan kini mereka sudah berada tepat di pintu masuk di mana sang ayah mereka kini di rawat.Mereka berdua hanya berdiri sambil terdiam.


Pramudya melihat kegelisahan di wajah kedua adik iparnya itu, entah ada apa.batinnya berkata "Apakah mereka ragu untuk masuk".


Karena penasaran akhirnya dia pun menanyakan nya kepada adik iparnya itu dengan sangat hati-hati dia pun bertanya


"Kenapa Iz, mengapa kamu tidak jadi masuk?


Faiz terdiam.


" Iz, ada apa?tanyanya penasaran.


"Kak ,Faiz".ucapnya ragu.


Pramudya menghampiri adiknya iparnya dan menepuk bahunya.


" Tengoklah bukankah istri ku sudah mengizinkannya,ajaklah Mutia biar dia tau kalau ayahnya sedang sakit".


Dengan ragu akhirnya Faiz pun menuruti kata-kata kakak iparnya.Lalu dia pun masuk bersama Mutia ke dalam ruangan di mana sang ayah mereka di rawat sedangkan sang kakak ipar menunggu mereka di luar sambil duduk di kursi panjang untuk menunggu pasien.


"Mudah-mudahan setelah mereka berdua melihat keadaan ayahnya mungkin saja meraka berdua bisa memaafkan kesalahan ayah mertua,aamiin".


doa Pramudya dalam hati.

__ADS_1


Sementara di dalam ruangan Faiz dan Mutia menghampiri brankar tempat ayah mereka terbaring dengan berbagai alat medis di tubuhnya.


Ada perasaan sedih melihat nya seperti itu, tapi saat mengingat apa yang telah di perbuat nya dulu, ke dua nya hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam.


"Apakah kami harus bahagia karena Allah sudah menghukumnya atas semua perbuatan nya ataukah kami harus bersedih sekarang ".batin Faiz berbicara.


Sedangkan Mutia si gadis kecil itu hanya bisa terdiam saja karena gadis itu sama sekali tidak tau apa yang kini telah terjadi.


Kejadian itu terjadi pada saat usianya masih terlalu kecil umurnya baru dua tahun saat itu memory untuk mengingat bahwa dirinya mempunyai seorang ayah masih bisa lupa.


Keduanya hanya berdiri dan tidak mendekat lalu melihatnya dari jauh tanpa ingin mendekati nya.


"Kak Faiz".panggil adiknya.


" Iya,ada apa Tia?ucapnya sambil melihat ke arah adiknya.


Pemuda itu pun terdiam sejenak lalu dia baru menjawab pertanyaan adiknya.


" Iya. Dia ayah, ayah kita".


Gadis kecil itu terdiam untuk mencoba mencerna perkataan dari kakak nya.


"Lalu kenapa kita tidak mendekati nya?


" Karena kakak masih belum bisa memaafkannya,jadi kakak hanya bisa melihatnya saja ".


Wajah sang adik melihat kearah kakak lelakinya itu, sebenarnya dia ingin mengajukan beberapa pertanyaan tapi dia urungkan jadi untuk sementara dia pun hanya bisa terdiam saja.

__ADS_1


Hingga lima belas menit pun berlalu akhirnya Faiz mengajak adiknya untuk keluar dari ruangan itu.


Ceklek


Suara pintu di buka dari dalam membuat seseorang yang sedang memainkan gawainya melihat ke arah pintu.


Keduanya pun duduk di sebelah kakak iparnya itu dengan wajah sedikit sedih.


Pramudya memasukkan handphone nya di saku celananya lalu memulai bertanya kepada keduanya.


"Kenapa kalian berdua hanya sebentar melihatnya".


" Maaf kak,Faiz benar-benar belum siap untuk ini".


Pramudya pun mengerti,mereka masih butuh waktu untuk memaafkan kesalahan orang yang paling mereka sayangi.


"Kak,apa Faiz salah jika belum bisa memaafkan kesalahan nya? Apakah Faiz berdosa karena membencinya?Jujur kak Faiz masih sangat mengingat semuanya itu membuat Faiz benar-benar bingung.


Faiz dulu ingat saat kami baru pertama kali datang ke kota ini kak Lita berjuang untuk mencari rejeki untuk kami makan, untuk membayar rumah kontrakan yang kami tempati, untuk biaya ibu berobat semuanya kak Lita yang mencarinya."ucapnya tanpa terasa dia pun menangis.


"Faiz masih ingat kak, kak Lita bekerja sampai larut malam, saat melihatnya rasanya hati ini sedih kak.Kakak bekerja keras untuk kami, sedangkan laki-laki yang bergelar seorang ayah meninggalkan kami".ucapnya dengan terisak.


Pramudya menepuk-nepuk bahu adik ipar nya.


"Iya kak tau, pelan-pelan saja".


Keduanya pun mengangguk.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2