
Pramudya dan kedua orang Tuanya sudah hadir di tempat akad nikah tepat di dalam kamar tempat sang calon istrinya dirawat.
Dokter hanya bisa memberikan izin 2 jam saja karena pasien membutuhkan banyak istirahat yang cukup untuk mempercepat kesembuhannya.
semuanya sudah berkumpul hingga pak penghulu yang bertugas menikahkan mereka bertanya" siapa yang akan menjadi wali nikah untuk pihak perempuan?
Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah luar.
"Saya yang akan menjadi wali nikahnya Pak,Saya Ayah kandungnya".ucapnya setelah sampai.
Semua mata melihat kearah suara itu.Tampaklah seorang Laki-laki berusia empat puluhan berjalan mendekati tempat akad.
Arlita terkejut,termasuk Faiz dan Mutia juga tapi mereka hanya diam tanpa berkata-kata disaat melihat Ayah yang mereka rindukan sekarang ada dihadapannya.
Tatapan mereka beradu lalu mereka diam kembali.
Setelahnya tatapan Laki-laki itu pun melihat kearah putrinya yang sekarang ini sedang menatapnya dengan sorot mata penuh dengan kebencian.
Tatapan putrinya itu tak luput dari pandangan sang ibu.Wanita itu melangkah mendekati sang putri dan menggenggam tangannya.
"Kamu pasti bertanya kenapa Ayah kamu ada disini kan?
"Siapa..siapa yang menyuruhnya datang Bu?tanya Lita dengan suara hampir tidak terdengar.
"Apakah Ibu yang memintanya?
"Iya kak".
" Untuk apa Bu?
"Kak sekarang ini kakak sedang membutuhkan Ayah?
__ADS_1
Putrinya terdiam.
"Ayah yang akan menjadi wali nikah kakak supaya pernikahan kakak sah baik dalam agama maupun negara,karena Ayah masih hidup."
Arlita hanya diam.
"Bagaimana pernikahannya bisa kita mulai sekarang?
"Ya Pak kita mulai sekarang".
Acara pernikahan pun berjalan berjalan lancar hingga terdengar kata yang terucap
sah....sah...sah.
Mengesahkan pernikahan mereka.
Pramudya mendekati tempat sang istri yang masih duduk ditempat tidurnya dengan tangannya masih memakai jarum infus.
Arlita mencium tangan sang suami dengan takzim,setelahnya secara bergantian mereka memakaikan cincin dijari mereka.
Ucapan selamat dari semua yang hadir menambah kebahagiaan mereka.
Tanpa terasa sang Ayah meneteskan air mata dan buru-buru menghapusnya lalu berjalan keluar ruangan setelah acara ijab kabul sang putrinya selesai.Kini Dia hanya bisa melihat sang putri dari luar jendela.
Dia tidak mau membuat sang putri menjadi tidak nyaman dengan kehadirannya.
Makanya setelah acara akad nikah selesai dia melangkah keluar dari kamar rawat putrinya.
" Berbahagialah putri kesayangan Ayah,maafkan Ayahmu ini yang telah membuat hatimu terluka.Maaf..maafkan Ayah Nak"ucapnya dalam hati.
Sebelum pergi Dia juga menyempatkan untuk berbicara kepada kedua anaknya yang lain.
__ADS_1
Dia meminta mereka untuk memaafkan dirinya dan setelah itu Dia pergi meninggalkan Rumah Sakit dengan hati yang penuh penyesalan.
Pramudya melihat sang istri yang sedang tertidur dengan wajah sedikit sedih,sepertinya sedang tidurnya mulai gelisah."ucapnya dalam hati.
Memang di kamar rawat ini hanya tinggal mereka berdua setelah acara akad nikah tadi semuanya sudah pulang agar Lita bisa beistirahat.
Tiba-tiba Pramudya melihat butiran keringat dari pelipis sang istri dengan sangat lembut Dia mengusap keringatnya dengan tisu.
"Ar,kamu kenapa?
Tiba-tiba sang istri kembali merintih.karena khawatir Dia pun menekan tombol untuk memanggil Dokter.
Tidak beberapa lama Dokter pun datang.
" Bagaimana keadaan istri saya Dok?tanyanya pada Dokter yang telah selesai memeriksa.
"Tekanan darah pasien menurun.faktor pemicunya adalah pasien sepertinya sedang memikirkan sesuatu,terlalu banyak pikiran itulah yang membuat kesehatannya menurun.
Apakah istri anda pernah mengalami trauma?
" Iya Dok,Dia pernah mengalaminya.
"Buatlah suasana hatinya menjadi lebih bahagia dan dengan perlahan-lahan rasa trauma itu akan hilang dengan sendirinya.
" Baik Dok ,terima kasih."
Dokter itu pun mengangguk,lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Arlita kembali terlelap setelah mendapatkan suntikan dari Dokter yang menanganinya.
Pramudya menghubungi asistennya agar membawakan makan siang ke rumah sakit.
__ADS_1
"Istirahatlah sayang".ucapnya sambil mencium kening istrinya dengan lembut.
bersambung