
Waktu menunjukkan pukul 2 siang barulah mereka semua berangkat. Pramudya dan Arlita menaiki mobil sport miliknya.Ibu, Bunda serta kedua adik iparnya menaiki mobil fortuner milik Ayah Pramudya.
Kebetulan sang Ayah hari ingin membawa mobilnya sendiri katanya kangen sudah lama tidak membawa mobil sendiri, karena selama ini ada supir yang akan siap selalu
mengantarkannya setiap hari untuk bekerja.
Tidak beberapa lama kemudian mobil mereka pun sudah sampai di depan gerbang sebuah rumah.
Satpam yang sedang berjaga dengan cepat membukakan pintunya setelah melihat siapa datang.Dia pun menundukkan kepalanya tanda hormat kepada sang majikan.
Mobil memasuki halaman rumah yang sangat luas.Di atasnya berdiri sebuah rumah bergaya minimalis berlantai 2.Di halaman depannya terdapat sebuah taman dengan berbagai macam bunga.
Mobil pun berhenti tepat di depan rumah itu. Di depan pintu sudah ada Bi Inah yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di sana sudah berdiri menyambut kedatangan majikannya.
Pramudya melihat kearah Istrinya yang masih terdiam.
"Sayang ayo turun, ini sudah sampai".
Arlita masih terdiam di dalam mobil karena dia merasa sedikit sok mengetahui rumah yang akan di tempati nya terlihat begitu mewah.Pramudya pun memperhatikannya.
" Kenapa?apa ada yang mengganggu pikiran kamu?
"Ngga,aku hanya sedikit sok sedikit.Ini benar rumah kamu?
Suaminya tertawa kecil lalu mengangguk.
"Ini sih tidak sesuai yang kamu katakan tadi,jangan-jangan kamu bohongin aku ya?
" Sayang aku ngga bohongin kamu, apa yang aku katakan tadi itu adalah kenyataan ".
"Benarkah?Tadi aku sempat berpikir bahwa rumah yang akan kita tempati itu besarnya sama seperti rumah yang kami tempati sekarang ngga taunya ini lebih jauh lebih besar apalagi halamannya sangat luas".
Laki-laki itu menggenggam kedua tangan istrinya.
" Ini benar sayang.Rumah ini aku bangun dengan uangku sendiri hasil dari usaha yang aku punya.
Aku sudah lama mempersiapkan semua ini untuk kamu.Karena dalam hati aku yakin kalau kita itu berjodoh".
Arlita melihat ke arah suaminya dengan mata yang sedikit basah.
Suaminya pun panik saat melihat istrinya tiba-tiba menangis.
"Maaf! Apa ada kata-kata aku menyakitimu? ucapnya sambil menghapus air mata istrinya.
__ADS_1
Istrinya menggelengkan kepalanya tanda tidak.
" Lalu mengapa kamu menangis?
"Aku terharu Pram. "
"Aku kira kamu kenapa-napa".
Pramudya melihat kedua orang tuanya, Ibu dan kedua adik iparnya sudah dulu masuk ke dalam rumah.
Setelah istrinya kembali tenang barulah dia mengajak sang istri masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan memasuki
rumah baru mereka.
Sampai di dalam rumah Arlita melihat Ibu dan kedua mertuanya sedang duduk di sofa.Mutia melihat kakaknya datang langsung mendekatinya.
Pramudya yang sudah tahu kalau adik iparnya sedang ingin bersama kakaknya pun pamit pergi dengan mengajak Faiz ke halaman belakang rumahnya.
Mutia memegang tangan kakaknya dengan tatapan sedikit sedih karena harus berpisah dengan kakaknya. Arlita yang peka pun mengusap-usap punggung tangan adiknya dengan lembut.
"Kamu kenapa,kok wajahnya sedih begitu?
" Tidak apa-apa kak".
Tiba-tiba Mutia langsung memeluk tubuh sang kakak dan dia merasakan bajunya sedikit basah.
"De, kamu nangis? ucapnya sambil menepuk-nepuk punggung sang adik.
" Mutia sedih kak".
"Sedih kenapa?
" Mutia sedih karena kita bisa bersama -sama lagi".
"Kita masih bisa bertemu walaupun kita ngga tinggal bareng lagi. Kakak akan main ke rumah atau sebaliknya kamu bisa datang ke sini".hiburnya.
Mutia mengangguk.Benar apa yang barusan dikatakan oleh kakaknya.Lalu diapun kembali ceria lagi.
"Sudah tenang sekarang?
" Sudah kak".
"Ayo sekarang kakak mau melihat-lihat lagi,temani kakak mau?
__ADS_1
" Mau kak".
Mereka berdua berjalan melihat semua seisi rumah.Keduanya benar-benar sangat begitu mengagumi desain rumah.
"Kak,rumah kakak bagus deh".
"Benarkah?
" Iya kak.Tia ngga bohong".
"Kalau begitu malam ini kamu menginap saja".
Mutia berpikir sejenak." Mutia sih mau tapi besok kan Tia sekolah. Kalau Tia berangkat sekolah dari sini jauh kak,bisa-bisa Tia terlambat sekolahnya".
"Ya sudah kalau libur saja menginapnya".hibur sang kakak.
" Iya ".
Obrolan mereka pun berhenti saat Pramudya memanggilnya.
Arlita mengandeng tangan sang adik agar mengikutinya.Dia kini sudah berada di halaman belakang rumah.Mutia mendekati kakak laki-lakinya yang sedang bermain bola basket.
Arlita melihat ada lapangan basket dan sebuah gazebo yang dibawahnya terdapat kolam ikan.
" Gimana? tanya suaminya.
"Gimana apanya? tanyanya balik.
" Kok malah balik nanya sih yang".ucapnya dengan wajah sedikit cemberut.
"Kamu lucu deh,kalau lagi cemberut."
"Lucu?
" Iya".
Pramudya terdiam.Dia masih berpura-pura marah.
Arlita pun melihatnya langsung menggenggam kedua tangan suaminya.
"Jangan marah ya, aku hanya bercanda".
" Aku tau, mulai sekarang kita saling berbagi cerita apapun itu. Kamu jangan sungkan membicarakannya, aku siap mendengarkannya."Istrinya mengangguk.
__ADS_1
bersambung