
Mobil yang di bawa Pramudya sudah sampai di halaman parkir rumah sakit di mana ayah mertua nya sedang di rawat.
Setelah memarkirkan mobilnya Laki-laki itu pun melihat ke arah istrinya, dia melihat ke kegelisahan di raut wajahnya lalu dia menggenggam tangan istrinya yang terasa dingin.
"Sayang kamu baik-baik saja? tanyanya dengan sedikit khawatir.
Istrinya mengangguk tanda dirinya baik-baik saja tapi suaminya merasakan tangan istrinya yang semakin terasa begitu dingin dan juga dia pun melihat pelipis istrinya mengeluarkan sedikit keringat, itu menandakan bahwa istrinya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
" Sayang lebih baik kita pulang saja, aku lihat kamu tidak baik-baik saja ".ucapnya panik.
Istrinya melihat ke arah suaminya.
" Aku baik-baik saja Pram".
"Tapi".ucap Pramudya terhenti saat Arlita langsung turun dari mobilnya dan itu membuat Pramudya terburu-buru langsung ikut keluar dari dalam mobil menyusul langkah istrinya.
" Sayang tunggu".ucapnya berjalan mendekati istrinya.
Langkah Arlita pun terhenti lalu dia pun menunggu suaminya.
Setelah suaminya sampai suaminya pun langsung menggenggam tangan istrinya dan mereka pun kembali melangkah memasuki rumah sakit.
Pasangan pasutri itu langsung masuk menuju ke ruangan di mana ayahnya kini di rawat.
__ADS_1
Sebenarnya Arlita merasakan dadanya kini tiba-tiba mendadak menjadi sedikit sesak tapi dia hanya diam lalu dia pun mencoba untuk bersikap tenang agar suaminya tidak mencurigainya.
Pramudya hanya bisa terdiam tanpa bicara saat dirinya kembali merasakan tangan istrinya kembali dingin.Hatinya mendadak dilema apakah dia harus menanyakannya atau tidak.Akhirnya dia pun memilih diam dan tidak ingin menanyakannya karena bisa-bisa itu akan membuat istrinya menjadi tidak nyaman.
Kini mereka sudah sampai di depan ruangan IGD.Di sana mereka melihat seorang Dokter dan perawat yang baru saja keluar dari ruangan itu.
Pramudya menghampiri Dokter yang bertugas dan menanyakannya, sedangkan Arlita hanya bisa terdiam duduk di kursi tunggu setelah Pramudya menyuruhnya untuk duduk karena saat dia melihat wajah istrinya kembali pucat.
Pembicaraan Pramudya dengan Dokter itu pun selesai, dia pun kembali menghampiri istrinya dan ikut duduk di samping nya.
"Sayang kamu baik-baik saja?
Arlita melihat ke arah suaminya dengan tatapan yang sulit di artikan dan itu membuat suaminya bingung.
" Sayang".panggilnya sambil memegang kedua tangan istrinya dengan wajah sedikit panik.
" Syukurlah.Kamu sudah membuat ku panik tadi sayang ".
Istrinya tersenyum" Maaf".
"Tidak apa-apa".
" Apa boleh aku melihat nya?
__ADS_1
Suaminya mengangguk tanda iya.
Arlita pun berdiri tapi tiba-tiba dia merasakan kepalanya sedikit pusing lalu dia juga memegang perutnya sambil meringis itu membuatnya sedikit terhuyung hampir jatuh jika tidak ada suaminya yang memegang nya.
"Sayang kamu kenapa? tanyanya sambil mulai panik.
"Kepala ku pusing banget trus perut aku sedikit kram".ucapnya sambil memegang kepalanya.
Tanpa banyak bicara Laki-laki itu pun langsung menggendong tubuh istrinya menuju ruang IGD untuk mendapatkan perawatan karena takut terjadi sesuatu dengan istri dan calon baby nya.
" Dokter tolong istri saya".ucapnya pada Dokter yang bertugas.
Dokter itu pun melihatnya laku menyuruhnya untuk membaringkan nya di brangkar
lalu Dokter itupun menghampiri nya dan langsung memeriksanya.
Pramudya hanya bisa menunggu di ruang ruangan dengan hati yang gelisah, khawatir dan rasa takut kehilangan.
Kini dia sungguh benar-benar menyesal telah mengizinkan istrinya untuk mengangkat teleponnya andai saja tadi dirinya tidak mengizinkan mungkin istrinya sekarang ini dalam keadaan yang baik-baik saja.
Tapi kini akibat dari keteledoran nya ini telah membuat trauma istrinya akan kembali lagi.
Dia mengusap wajahnya dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
"Ya Allah sembuhkanlah penyakit istri hamba dan lindungi dia beserta calon baby kami".doanya dalam hati.
bersambung