
Suasana di dalam rumah itu mendadak begitu sepi semua orang berada di sana hanya terdiam saja saat menyaksikan peristiwa yang baru saja terjadi.
Arlita pun keluar dari kamarnya menuju lantai bawah tapi sayup-sayup dia mendengar seseorang berkata dan dia pun tau siapa yang sedang berbicara di ruang tamu.
Diam-diam dia pun berjalan ke pintu samping dan dia pun kini tau siapa yang sedang berbicara ternyata di sana ada sosok ayahnya, ibu dan juga Faiz adik laki-lakinya.
Dia semakin mendekatkan telinganya mencoba untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
Setelah mendengarkan semuanya tiba-tiba saja hatinya kini kembali bergetar dengan perasaan bersalah kepada orang-orang yang di sayanginya.
Kembali lagi dia pun mengintip dan terlihat di sana laki-laki itu hanya terdiam dan menunduk saat mendengarkan kemarahan adik laki-lakinya dan itu membuat ibunya sangat marah dengan kata-kata yang di lontarkan oleh putranya.Terlihat sekali kalau ibunya masih sangat mencintai laki-laki itu.
"Apa aku harus berdamai dan mengikhlaskan masa lalu yang sangat pahit ?tanya dalam hati.
Tanpa terasa air matanya pun menetes di kedua pipinya lalu dengan cepat dia pun mengusapnya.
Arlita berjalan menuju kursi yang berada di halaman samping lalu dia pun duduk di sana sambil melihat ke arah langit yang cerah.
Entah sudah berapa lama dia duduk termenung di sana hingga tiba-tiba seseorang mendekatinya lalu dia pun ikut duduk di sampingnya.
"Sayang".panggilnya.
Arlita pun menoleh lalu tersenyum.
" Ada apa?tanyanya sambil menggenggam tangan istrinya.
"Pram,apa aku ini wanita yang egois?
"Mengapa kamu bertanya hal seperti itu sayang?
"Karena aku merasa kalau aku ini memang benar-benar wanita yang sangat egois, aku hanya memikirkan kebahagiaan aku sendiri tanpa ingin tau kesedihan orang lain".
Pramudya langsung memeluk istrinya dari samping dan mengusap-usap rambut panjang istrinya itu dengan sayang.
"Sayang, ada kalanya kita bisa bersikap egois hanya untuk menghindari suatu masalah. Masalah yang membuat sesak di hati akan hilang tapi jika kita mau melupakan semua masalah yang membuat diri kita begitu bersikap egois, kita harus mencoba untuk menghilangkan serta mengikhlaskannya karena hanya dengan cara itu perlahan-lahan sikap egois itu akan hilang dengan sendirinya ".
" Apa aku harus melupakan semuanya?
"Iya.Mungkin itu lebih baik sayang".
__ADS_1
" Tapi".ucapnya terhenti karena tiba-tiba air matanya mengucur deras.
Pramudya merasakan bajunya basah dan dirinya tau istrinya kini sedang menangis.
"Menangislah, keluarkan semua beban di hatimu dan jangan pernah menyimpannya karena itu akan semakin sesak."
Istrinya semakin terisak dan setelah menunggu keadaan istrinya sudah kembali tenang barulah suaminya mulai berkata lagi
"Sayang, aku tau sakit yang kamu rasakan itu sangat besar tapi jika aku yang berada di posisi mu pasti aku akan melakukan hal yang sama.Saat itu obat yang di butuhkan dan paling mujarab untuk mengobati rasa sakit di dalam hati adalah memaafkan nya serta mencoba mengikhlaskannya. "
"Sejenak cobalah kita untuk mengingat sedikit saja hal yang positif yang ada pada dirinya maka perlahan-lahan kebencian yang ada di hati kita ini akan hilang.Maaf jika kata-kata aku ini menyinggung kamu tapi berdamai dengan masa lalu itu kunci untuk menggapai masa depan sayang ".
Istrinya pun hanya terdiam.Pramudya pun berdiri lalu dia pun berjongkok di depan istrinya dan membuat istrinya melihatnya.
Perlahan-lahan Pramudya menyentuh perut buncit istrinya lalu mengusapnya.
"Sayang sebentar lagi kita berdua akan menjadi orang tua jadi aku mohon demi kedua bayi kita hilangkan lah rasa benci di hatimu demi twins".
Arlita pun mengangguk
" Aku akan mencobanya demi kamu dan juga twins ".
Laki-laki itupun tersenyum
"Sayang".panggilnya setelah pelukan mereka terlepas.
"Iya sayang".
"Aku mau pulang ke rumah kita".
Pramudya melihat ke wajah istrinya.
" Mengapa tiba-tiba ingin pulang ke rumah kita?
"Aku kangen rumah kita jadi bisakah kita pulang ke sana?
"Tentu saja sayang, hari ini kita pulang ke sana. Apakah kamu senang?
" Iya aku senang, terima kasih".
__ADS_1
"Sama-sama sayang.Ayo kita masuk kita siap-siap dan berpamitan dengan semuanya. "
Istrinya pun mengangguk lalu mereka berdua pun masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya di lantai dua.
Setelah selesai bersiap, keduanya pun menuju kamar ibunya yang kini sedang duduk bersantai seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan bersikap biasa saja hanya untuk menjaga hati putrinya.
Tok... tok.. tok
"Bu". panggilnya di depan pintu.
Ceklek
Pintu pun terbuka dan pandangannya matanya
melihat ke arah pasutri itu yang kini sudah berpakaian sangat rapi seperti mau pergi.
"Ada apa sayang".jawab ibunya.
" Kami berdua mau pamit".
Ibunya pun terdiam.
"Mau pulang?
" Iya bu".
"Mau pulang ke rumah mertua kamu ?tanya bu.
"Tidak bu kami mau pulang ke rumah,Lita kangen sama suasana rumah katanya".
Akhirnya wanita pun mengizinkannya.
" Baiklah."
"Kami pamit bu".ucapnya sambil mencium tangan ibunya dengan takzim secara bergantian.
" Assalamualaikum ".pamitnya.
" Waalaikumsalam ".balas ibunya dengan perasaan yang tidak karuan.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan semua orang akhirnya pasutri itupun pergi meninggalkan rumah itu dengan segala tanya di hati mereka.
" Bersambung