
Keadaan ruang tamu begitu ramai dengan suara para wanita ya mereka sibuk mendengarkan celoteh Bima putra anak dari ibu Vira ibu angkat dari Arlita,
umurnya baru 3 tahun tapi anak kecil itu sudah begitu pandai berbicara.Saat anak itu bicara pasti semuanya akan terhibur dengan segala ucapannya yang lucu.
Apalagi saat anak kecil terus saja berbicara berlagak seperti orang tua ank itu dengan gaya sok nya menasehati setiap orang seperti orang dewasa.
Di saat para wanita sibuk dengan anak kecil itu,para lelaki kini sedang sibuk bermain catur.
Pramudya dan bapak angkat istrinya kini sedang duduk di kazebo sedangkan Faiz kini sedang membuat kopi untuk mereka bertiga
"Pram, terima kasih karena sudah memberikan putri bapak kebahagiaan".ucapnya.
" Itu sudah kewajiban saya Pak. Setelah saya menikahi Arlita apapun yang menyangkut dirinya itu semua adalah kewajiban saya, baik dirinya dalam keadaan sedih, susah dan senang kami akan hadapi bersama ".
Laki-laki itu pun tersenyum lalu menarik napasnya panjang lalu menghembuskan perlahan-lahan lalu dia pun kembali berkata
" Boleh saya bercerita sedikit tentang awal pertemuan kami?
Pramudya pun mengangguk
"Kami bertemu Arlita saat dia berumur dua belas tahun. Kondisinya saat itu benar-benar sangat mengkhawatirkan di Rumah Sakit tempat ibunya
mendapatkan perawatan karena menderita sakit yang cukup parah.
Sebenarnya Istri saya yang pertama kali bertemu dengannya karena saat itu istri saya kebetulan bekerja di sana.
Gadis kecil itu tidak sendiri dia bersama dengan kedua adiknya, Faiz dan Mutia.
Mereka bertiga adalah anak-anak yang telah di telantarkan oleh ayah kandungnya.
Sangat miris bukan?
Disaat saya dan istri yang mendambakan kehadiran seorang anak tapi mereka malah sebaliknya menyia-nyiakan titipan Allah.".
Pramudya hanya terdiam sambil mendengarkannya.
Saat istri ku menyebutkan nama Arlita entah kenapa tiba-tiba saya merasakan penasaran dengan sosok gadis itu hingga saya memutuskan untuk bertemu langsung dengannya.
Ternyata istri saya memang benar Arlita adalah seorang anak gadis yang memiliki hati begitu kuat di hadapan semua orang tapi tidak dengan saya.
Saya bisa melihat hati gadis itu begitu rapuh jadi kami berdua sepakat ingin mengangkat ketiga nya menjadi anak kami.Tapi mereka bertiga tidak tinggal bareng sama kami walaupun status mereka adalah anak angkat kami.
__ADS_1
Tapi dua tahun kemudian kami terpaksa berpisah karena Ibu saya sakit jadi kami memutuskan untuk pulang ke ke kampung halaman kami dan meninggalkan mereka bertiga dengan Ibu meraka yang belum dari sakit.Kami mengajak Arlita untuk ikut tapi dia memilih untuk tetap tinggal dan kami pun menghargai keputusannya.
Perpisahan pun tidak bisa kami hindari dengan perasaan yang tidak bisa di ucapkan akhirnya kami pun berpisah.
Rumah ini adalah hadiah untuk putri ku Arlita. Saya hanya ingin saat kami sudah tidak bersama hidup mereka akan baik-baik saja."
"Apakah Arlita selama ini baik-baik saja?
Pemuda itu terdiam.
" Kenapa kamu diam?Apa keadaan Arlita baik-baik saja?
"Apa Bapak tau kalau Arlita mengalami Depresi?
Laki-laki itupun terkejut
" Apa Depresi?tanyanya tidak percaya.
"Iya Pak. Arlita mengalaminya dan keadaan itulah saya cepat-cepat untuk menikahinya karena saya benar-benar sock saat mengetahuinya, untuk bisa menyembuhkan nya saya harus selalu berada di sisinya setiap waktu karena saya benar-benar tidak ingin kehilangan dirinya lagi".
" Kehilangan maksud kamu apa?
" Jadi kalian sudah lama kenal?
"Iya Pak kami teman satu sekolah saat kami masih tinggal di Bandung".
" Wah semakin salut saya sama kamu ternyata kamu tipe laki-laki setia hanya sama satu perempuan. "
Wajah pemuda mendadak merah menahan malu karena ketahuan begitu bucin kepada Istrinya.
"Terima kasih sudah menjadi suami putri ku, terima kasih banyak".katanya sambil melihat menantunya.
" Sama-sama Pak".jawabnya.
"Kopi, kopi".ucap seseorang dan keduanya pun melihatnya.
" Kamu cocok jualan Iz".
"Masa sih kak?katanya sambil menaruh nampan di atas meja.
" Iya Iz cocok".Bapaknya menimpali.
__ADS_1
"Ya udah besok Faiz jualan kopi aja ngga usah sekolah".ucapnya dengan sedikit bercanda.
"Tidak boleh".ucap seseorang sontak ketiga pria berbeda generasi itupun menoleh dan melihat seseorang sedang berjalan dengan muka sedikit galak.
" Kakak".
"Kenapa kamu mau berhenti sekolah?
" Ng... ngga kak itu..".ucapannya terpotong.
"Awas aja kakak tau kamu sampai berhenti sekolah kakak akan kasih hukuman berat sama kamu".ancamnya.
Faiz pun hanya terdiam lalu Pramudya pun berinisiatif langsung mendekati istrinya
" Sayang, tadi Faiz cuma bercanda".katanya sambil merangkul pundak sang istri.
"Apa bercanda?
" Iya sayang"
"Tapi".katanya karena sang suami berkata lagi
" Kita ke kamar ya? Sepertinya kamu sudah lelah".
Tanpa menunggu jawaban istrinya Pramudya langsung membawa istrinya masuk ke dalam rumah menuju kamar untuk beristirahat.
Selepas pasutri itu pergi.
"Uh... hampir saja" ucap Faiz sambil mengusap dadanya.
"Apa Arlita selalu seperti itu?
" Iya."
"Mungkin bawaan si calon baby jadi begitu".
" Mungkin juga Pak asal jangan buat Faiz serba salah setiap hari ."ucapnya pasrah sambil duduk di kursi dengan sedikit tenang sedangkan laki-laki itu hanya bisa tersenyum.
"Ya mudah-mudahan"
bersambu
__ADS_1