
Esok hari sepulang kerja, Adi langsung ke rumah Yessy tanpa mengganti dulu pakaian kerja masih melekat pada tubuhnya. Janji yang seharusnya pukul setengah tujuh, harus meleset karena pekerjaan kantor memaksanya lembur bersama Alex juga Rafa.
Begitu sampai rumah gadis incarannya, sudah ada Yessy menunggu di depan rumah. Celana sampai lutut juga kaos melekat pada tubuh gadis dengan rambut tergulung di belakang itu menyambut Adi.
" Sorry ya, lembur Gue " ucap Adi tersenyum begitu Yessy menghampiri di samping mobilnya.
" Santai aja kali Di, cuma mau main doang bukan presentasi. Yuk udah ditunggu Ayah di dalam " sahut senyum Yessy mengajak laki laki dengan kemeja putih itu masuk ke dalam rumah.
" Bokap Lo galak gak? kalau galak Gue balik deh mau beli oksigen dulu " celetuk Adi berjalan di samping gadis yang melebarkan senyum.
" Udah di dalam ada elpiji, entar tinggal Lo hisap aja biar plong paru paru Lo " tawa Yessy masih berjalan.
" Iya plong nyawa Gue yang ilang " sahut lelaki dengan perasaan gugup itu.
Adi sebenarnya mengajak Yessy untuk keluar, namun tak di berikan ijin oleh Ayah dari gadis yang sudah memikat hatinya. Terpaksa Adi mendatangi rumah Yessy dengan undangan makan malam dari keluarga Yessy.
Di dalam sudah ada pria berotot duduk di sofa ruang tamu. Seketika membuat Adi tersenyum paksa melihat wajah galak dari Ayah Yessy. Lelaki dalam balutan kaos juga celana santai itu menatap dari atas ke bawah pemuda dengan celana sampai atas mata kaki yang baru memasuki rumah.
" Malam om " sopan Adi menjabat tangan pria yang masih tajam menatapnya.
" Hm, duduk " singkat Ayah Yessy mempersilahkan dan di senyumi oleh Yessy melihat Adi gugup.
" Langsung makan aja ya Yah, kasihan Adi baru pulang kerja pasti lapar " lembut Yessy sopan pada Ayahnya, dan masih berdiri di samping tempat Adi duduk.
" Hm " lagi lagi hanya itu jawaban pria dengan wajah tegas itu berlalu pergi.
__ADS_1
Adi menarik sebentar tangan Yessy yang hendak melangkahkan kaki ke arah ruang makan.
" Kenapa? " tanya Yessy melepaskan tangan dari genggaman Adi.
" Takut Gue, balik deh Gue " takut Adi merinding melihat wajah Ayah Yessy.
" Di, bokap Gue baik cuma wajahnya aja emang tegas. Lo santai aja engga bakal di apa apa in kok Lo " santai gadis dengan senyum mengembang.
Jantung masih berdetak cepat, mengiringi langkah lelaki dengan tatanan rambut ke belakang ala korea itu. Yessy lebih dulu melangkah dan duduk di dekat Ayahnya, dimana seorang wanita cantik sudah menyiapkan makanan di sana.
" Oh ini, calonnya Yessy? ganteng juga " senyum wanita berbalut kaos putih berlogo gucci itu tersenyum.
" Bunda, calon apa sih? orang Adi cuma teman Yessy juga " santai gadis sudah duduk dan mempersilahkan Adi duduk di sampingnya.
" Engga apa apa lagi kalau calon, bunda sih oke oke aja " senyum kembali perempuan sudah mengisi piring penuh makanan dan di berikan pada suaminya.
" Gue keluar dari sini masih hidup udah sukur nih " batin Adi masih dalam jantung berdebar cepat.
Yessy penuh perhatian mengambilkan makan untuk Adi dan meletakkan tetap di depan lelaki yang hanya diam memasang senyum sesekali. Terlihat jelas wajah gugup Adi yang biasanya lebih senang bercanda, namun semua candanya seakan sudah hilang tertelan bumi ketika berhadapan dengan Ayah dari hadis yang menunjukkan sisi lain dari dirinya.
Perhatian juga seringnya Yessy tersenyum, membuat Adi semakin jatuh hati dan yakin jika Dia bukanlah seorang gadis seperti Reta. Sikap biasanya tegas juga terlihat sangat lembut ketika di rumah, dan lebih mirip seorang gadis manja.
" Kamu mencintai anak Saya? " tiba tiba terdengar suara berat, langsung memekik tenggorokan Adi hingga tersedak.
" Ayah, nanya nya kenapa gitu sih? kan jadi tersedak " sahut lembut seorang istri yang penuh perhatian.
__ADS_1
Segelas air sudah di berikan Yessy dengan menepuk punggung Adi agar melegakan sedikit Adi yang masih batuk karena tersedak.
Yessy memang tak pernah sekalipun mengajak teman ke rumah, baik perempuan ataupun laki laki. Untuk itu, ketika Yessy menyampaikan jika Ia akan keluar bersama teman laki laki, langsung saja Ayahnya melarang dan meminta untuk membawanya ke rumah. Agar bisa melihat sendiri bagaimana laki laki yang berniat mendekati putrinya itu.
" Ayah, Adi cuma teman Yessy kan udah Aku bilang " seru lembut Yessy usai membantu Adi meredakan rasa tersedaknya.
" Saya suka sama Yessy om, dan berniat mengejarnya " jelas Adi jujur, mengembangkan senyum Bunda Yessy dan juga Yessy.
Sikap gentle yang ditunjukkan Adi, memberikan poin plus tersendiri daru seorang pria yang menganggukan kepala sambil tetap mengunyah makanan.
" Kamu mau di dekati sama Dia? " tanya kembali Anton pada putrinya.
" Ayah, to the poin banget kalau nanya " jawab Yessy menggelengkan kepala.
" Mau gak? " tanya kembali Anton tak suka sesuatu yang berbelit belit.
" Iya Ayah, Kita mau coba jalani aja dulu kalau emang cocok ya dilanjut ke serius kok " jelas Yessy langsung di tatap oleh Adi terkejut.
" Lo serius? " tanya Adi tak percaya.
" Bukannya Lo yang ngomong kaya gitu semalam? dan Gue iyain aja kan engga ada salahnya Kita coba " senyum Yessy manis ke arah lelaki masih berekspresi tak percaya, karena semalam Yessy tak memberikan jawaban apapun.
Adi memang tak berniat pacaran dan memilih menjalani hubungan lebih serius, berpacaran usai menikah. Hal itu juga sudah di sampaikan jelas pada Yessy semalam, namun tak mendapatkan suatu jawaban yang berarti.
Untuk itu mendengar ucapan Yessy, membuatnya terkejut namun juga legam Lebih lebih Ia tahu jika Yessy memiliki sifat perhatian di balik ketegasan juga sikap dinginnya saat di luar.
__ADS_1
Rita yang juga mendengar ucapan putrinya, tersenyum bahagia. Karena memang tak sekalipun Yessy pernah dekat dan berpacaran sebelumnya dengan lelaki. Harapan kedua orang tua Yessy pun ingin jika putrinya bisa langsung menikah saja, tanpa melalui fase pacaran. Karena memang tak pernah diberikan ijin untuk melakukan hal itu, karena pergaulan zaman sekarang menjadi pertimbangan kedua orang tua yang begitu menyayangi putri tunggalnya.