
Dering ponsel Yessy telpon dari Ayahnya, mengehentikan sejenak canda gurau keenamnya. Sopan Yessy mengangkat telpon dengan Ayahnya langsung meminta Yessy agar menyampaikan pada Adi, untuk datang ke rumahnya hari minggu dan di iyakan oleh gadis yang menatap pacarnya di samping.
" Kenapa?" tanya Adi penasaran usai Yessy menutup sambungan telpon.
" Ayah minta Lo ke rumah hari minggu, bisa gak? " ragu ragu Yessy menyampaikan.
" Wah lampu kuning tuh " celetuk Alex mendorong tubuh samping sahabatnya.
" Bukan lampu kuning Lex, tuh Bokap nya Yessy mau nyuruh Adi bantu latih anak eskul " santai Arin masih menikmati makanan, membulatkan mata Adi.
" Beneran? " tanya Adi tak percaya, di angguki serta senyum paksa oleh Yessy.
" Lah, Gue engga bisa apa apa mau latih apaan coba? Gue latih renang tuh bocah bocah? " ucap Adi.
" Tenang aja, ada Gue sama Yessy di sana " sahut Arin memang ikut melatih tiap hari minggu di temani Rafa.
" Seribu persen Gue saranin Lo datang Di, cewek SMA sekarang aduh engga kuat deh lihatnya " seru Rafa mengembangkan senyum Alex seketika.
" Cantik? wah nih Dia ni " senyum genit Alex mendapat cubitan pedas dari Viona.
" Apa? " seru Viona menatap ke arah pacarnya yang memekik kesakitan sambil mengusap pinggangnya.
" Kagak, maksud Gue nih Dia kesempatan Adi dapat restu " kilah Alex memercing kesakitan mengembangkan senyum teman temannya.
" Kalau engga bisa engga apa apa kok Di, Gue bilang Ayah nanti " lembut Yessy melihat ekspresi kebingungan pacarnya.
" Eh kagak, Gue datang hari minggu ke rumah Lo buat jemput Lo sekalian " cepat Adi menjawab.
" Tenang Di, babang Alex ada untuk menemani dirimu " senyum Alex mengembang.
" Ya asal jangan macam macam aja di sana, entar lihat cantik cantik lupa kalau punya pacar " ucap Viona memperingatkan.
__ADS_1
" Ya Lo ikut juga, kan Lo di sini satu bulan ada pemotretan. Minggu juga biasanya libur jadi sekalian kencan kan bisa " sahut Alexa meraih tangan Viona langsung di pukul oleh Rafa.
" Belum sah! " tegus Rafa cepat dilepaskan oleh Alex.
" Oh maafkan diriku Tuhan selalu khilaf akan keindahan dunia " celetuk Alexa mengangkat kedua tangan ke atas seperti memohon dalam doa, di balas senyuman Viona.
" Halah, kebelet kawin aja lagak Lo " gerutu Arin menatap ke arah Alex yang menaik turunkan kedua alisnya, seraya membenarkan ucapan sahabatnya.
Atin memang selalu ikut dalam acara eskul atas permintaan pribadi dari Ayah Yessy, karena salah satu pelatih sudah keluar. Dengan hobi bela diri juga ijin dari suaminya, Arin menyanggupi permintaan Ayah dare teman barunya.
Rafa tak pernah absen untuk ikut dalam kegiatan baru istrinya, dengan membawa serta Alka. Setiap hari minggu dari pukul tujuh hingga sepuluh pagi, ketiganya habiskan di lapangan sebuah SMA ternama Kota mereka tinggal.
Adi yang tak pernah mau ikut ketika Alex dan Rafa mencoba latihan boxing, tak mengerti apapun tentang kekerasan. Dia lebih sering menghabiskan waktu dengan bermain game di rumah ketika hari minggu, namun demi mendapatkan restu Adi setuju saja untuk ikut.
****
Esok paginya Rafa, Adi dan Rafa sudah ke kampus dan menghadiri kelas pagi mereka. Ketika tengah berjalan di koridor, tanpa sengaja ketiganya berpapasan dengan Angga bersama seorang perempuan saling menggandeng tangan.
" Lah tuh suami mantan tuh " celetuk Adi memperhatikan Angga.
" Ada cowok duda lewat " ucap Angga menyindir Alex, namun tak di hiraukan sama sekali.
" Udah mulut banci kagak usah di ambil pusing " lirih Rafa tetap melangkahkan kaki.
" Jijik banget Gue sama tuh anak, pengen banget Gue jadiin rujak " gerutu Adi berjalan di samping sahabatnya dengan Alex di tengah.
" Mana ada orang makan rujak sampah " gerutu Alex.
Walau mencoba tenang, tetap saja rasa sakit akan dikhianati tetap tersisa dalam batin Alex. Sedangkan Angga belum juga merasa puas masih ingin terus mencari gara gara dengan Alex, walau tak sedikitpun di hiraukan.
Melihat Angga berjalan dengan perempuan lain, sontak pikiran Alex tertuju pada mantan istrinya yang tengah hamil. Memang ketika sidang keputusan cerai, sekilas Alex bisa melihat mata sembab juga wajah tak segar dari Reta namun enggan menyapa karena tengah berjalan besama Viona, dan tak ingin menyakiti hati pacar yang berniat Ia nikahi.
__ADS_1
Tiba tiba saja, Alex mengembangkan pikiran jika hubungan Angga juga Reta tak berjalan baik. Karena Angga masih saja bertingkah playboy di kampus.
" Eh, tuh anak selingkuh apa ya? " tanya Alex pada dua sahabatnya begitu sampai kelas, dan Dosen belum tiba.
" Biarin aja, tuh karma nya Dia udah ninggalin Lo buat cowok engga guna " sahut kesal Rafa mengingat nasib sahabatnya.
" Bener tuh, udah engga usah di peduliin lagi habis habisin memori otak aja " sahut Adi menambahkan, tetap membuat Alex berpikir keras.
" Tapi gimanapun tuh janin kagak salah kali Di, Fa, kalau emang hubungan mereka kagak baik berarti anak mereka juga jadi korban dong? " seru Alex masih memiliki sisi iba pada mantan istrinya.
" Udah kali Lex buka urusan Lo juga, orang tua Reta juga masih hidup pasti bakal rawat tuh cucu mereka kalau sampai Angga ninggalin Reta dan Reta bunuh diri " kesal Rafa masih dalam nada jengkel.
Mendengar ucapan Rafa, Alex seketika terkejut dan lebih membayangkan hal lebih menakutkan lagi. Ia sendiri takut jika memang benar apa yang diucapkan Rafa menjadi kenyataan, dan pastinya Reta takkan sanggup menerima lalu mengakhiri hidup.
Entah mengapa pikiran Alex pagi ini di penuhi kembali akan nasib Reta juga janin dalam kandungannya. Walau tak ada hubungan dengan kehidupannya lagi, tetap Alex masih memikirkan janin tak berdosa itu.
" Udah deh, engga usah dipikir lagi. Dia yang milih jalan itu dan apapun resikonya harus Dia tanggung sendiri, siapa suruh jadi cewek kok bodoh banget ditipu sama cowok mau aja. Mending belum nikah, lah ini udah nikah masih aja bisa tergoda sama cowok lain. Kalau bini Gue mah ada cowok model gitu bukannya tergoda malah di tonjok yang ada " panjang lebar Rafa di benarkan Adi dengan anggukan.
" Lo sekarang fokus tata hidup Lo dan masa depan Lo sama Vio, engga usah pikirin tuh cewek engga tahu diri. Dia udah mentingin kehidupan juga kebahagiaan sesaat nya Dia, jadi apapun yang terjadi nanti udah harus Dia tanggung, bener kata Rafa " tambah Adi panjang lebar menepuk lembut pundak sahabatnya seraya merangkul pundak lelaki dengan lamunan tersebut.
" Gue kasihan doang sama anaknya, kalau sampai orang tuanya kagak ada yang tanggung jawab. Tuh anak juga kagak punya dosa ataupun salah, yang gila orang tuanya masa anak nya yang nanggung sih? " ucap Alex dalam pandangan terarah ke depan seraya melipat tangan.
" Kan udah Gue bilang, orang tua Reta masih hidup Lex dan mereka orang mapan jadi bisa hidupin cucu mereka, jadi Lo engga usah pikirin lagi tuh udah jalan yang dipilih sendiri bukan Lo yang dorong Dia milih tuh jalan " tambah kembali Rafa mencoba menasehati sahabatnya.
" Iya sih " singkat Alex membenarkan.
Adi dan Rafa selalu mencoba menguatkan sahabatnya dan menasehati agar tak terpancing dalam situasi apapun yang terjadi dan berhubungan dengan Reta.
Walaupun memang Alex terkenal akan sikapnya yang bad boy, tapi hatinya memiliki ketulusan sama halnya dengan Adi ataupun Rafa. Ketiga sahabat itu memang tak pernah tega akan penderitaan orang lain, apalagi orang mereka kenal. Namun untuk Reta, Adi dan Rafa menjadi super tega karena juga merasa ikut tersakiti akan sikap mantan istri sahabatnya.
Terlebih Rafa selain merasakan sakit hati sahabatnya, juga harus turut merasakan sakit hati istrinya karena hinaan yang di terima dari mulut pedas Reta. Bahkan membuat kedua mertuanya yang memiliki kedudukan, harus rela merendahkan diri untuk meminta maaf atas kesalahan yang tak pernah di perbuatanya.
__ADS_1
Apa yang telah dilakukan Reta benar benar sudah melukai banyak orang tanpa sadar. Kepuasan sesaat yang mengesampingkan perasaan orang banyak, sudah mengecewakan keluarga istrinya yang terang terangan mengakui Reta sebagai anak bahkan saudara Arin. Namun balasan yang di dapat hanya sebuah penghinaan juga lemparan kotoran pada keluarga Arin yang cukup baik menjaga Reta selama ini, karena orang tua Reta memang sengaja menitipkan putrinya pada keluarga Arin.
Malah usai kejadian pengkhianatan itu, keluarga Reta tak sekalipun menghubungi orang tua Arin walau sekedar meminta maaf atau menanyakan kabar. Hal itu juga membuat Rafa amat jengkel pada Reta dan benar benar tak mau peduli akan apapun yang terjadi pada mantan sahabat istrinya.