
Pukul 10.00 Rafa dan Arin tengah menunggu giliran periksa di ruang tunggu dokter kandungan sebuah rumah sakit.
" Kenapa sih yank? " protes Arin yang dari awal sampai Rafa terus menggenggam tangan Arin tampak tak tenang.
" Gugup aku yank" jawab Rafa singkat dengan ekspresi wajah seperti orang sedang menunggu kelahiran.
" Biasa aja dong yank" ucap Arin jengkel.
Tanpa menjawab perkataan istrinya Rafa masih saja menggenggam tangan Arin dengan gelisah sambil mata nya terus melihat ke arah sekitar yang banyak orang hamil besar disana.
" Kamu nanti kaya gitu ya yank, perut nya gede banget makin gemes bayangin kamu gitu " seru Rafa dengan mata tertuju pada seorang yang tengah hamil besar
" Iya yank, kaya badut ya" jawab Arin yang langsung tertawa membayangkan dirinya dengan perut besar
__ADS_1
" Yank, ih ngomongnya " protes Rafa namun Arin tetap saja tertawa hingga seorang suster memanggil nama Arin untuk masuk kedalam karena sudah gilirannya untuk di periksa.
Dengan pelan Rafa membantu Arin berdiri lalu menuntun nya ke dalam. Meski risih dan ingin protes dengan sikap suaminya seakan perut Arin sudah sangat besar dan kesusahan jalan namun Arin hanya bisa menarik nafas dalam dan menuruti semua sikap Rafa yang langsung berubah menjadi sangat posesif dalam semalam. Sesampainya di ruang dokter Arin langsung di suruh berbaring di ranjang kecil di dalam ruangan yang tertutup kelambu berwarna putih. Tak lama seorang dokter perempuan cantik berbalut jas dokter mulai menyingkap kelambu dan masuk ke dalam untuk memeriksa Arin yang sudah bersiap di periksa di atas ranjang.
" Anak pertama ya ini? " ucap Dokter berambut se punggung itu tersenyum melihat Rafa yang berdiri di samping Arin dengan khawatir menggenggam erat tangan Arin.
" Iya dok " jawab Arin tersenyum.
Dokter pun mulai memeriksa tekanan darah, lali perawat mulai memberikan gel di atas perut Arin untuk persiapan USG. Dokter pun mulai menggerakkan
" Ini suara detak jantungnya ya, diperkirakan sudah memasuki usia 8 minggu" jelas dokter yang langsung membuat Rafa mencium kening Arin dengan air mata haru keluar dari matanya dan membuat dokter serta perawat di sana tersenyum melihat tingkah Rafa.
Dokter pun menjelaskan gambar kantung janin yang ada di monitor menunjukkan tentang janin, jantung bayi dan lainnya. Seusai pemeriksaan Arin di persilahkan untuk bangun tentunya dengan bantuan Rafa yang menjelma menjadi suami siaga. Mereka pun menuju tempat duduk di hadapan dokter mendengarkan penjelasan dokter serta Rafa yang terus saja bertanya tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan dan di makan oleh istrinya hingga membuat Arin jengkel dengan suaminya yang menjadi sangat cerewet. Setelah puas dengan semua jawaban dan penjelasan dokter Rafa dan Arin pun keluar ruangan dan menebus beberapa vitamin yang di resepkan dokter lalu menuju pulang ke apartemen.
__ADS_1
" Kamu hamil udah 8 minggu kenapa engga tahu sih yank? " seru Rafa sambil mengemudikan mobilnya karena memang jika di ingat gairah nya yang selalu memuncak ternyata dalam keadaan Arin yang tengah hamil.
" Aku mana tahu yank, aku engga pernah perhatiin kalender menstruasi juga" jawab Arin singkat
" Aku nyesel banget yank, tahu gitu kemarin kemarin aku pelan ke kamu yank " seru Rafa menyesal.
" Ya udah lah yank udah kejadian yang penting kan engga ada masalah apa apa " jawab Arin menenangkan Rafa sambil mengusap lembut rambut suaminya. " Eh yank, kita undang mama sama papa makan malam yuk hari ini sekalian kasih kabar ke mereka " usul Arin.
" Iya sayang, aku telfon nanti ya pas sampai apartemen. Kamu sekarang ada pengen makan apa gitu yank? Tanya Rafa dengan masih mengemudikan kendaraannya pelan
" Pengen tumis sayur deh yank, tapi kamu yang masak " pinta Arin dengan senyum manis nya.
" Oke sayang, aku mampir supermarket dulu ya beli sayur. Tapi kamu tunggu mobil engga boleh turun " tegas Rafa membuat Arin menghela nafas nya kasar menuruti keinginan suaminya.
__ADS_1
Rafa pun mengemudikan mobilnya menuju supermarket dekat dengan apartemen dan berbelanja bahan masakan sendirian, setelah beberapa lama ia pun segera kembali dan menyusul Arin ke dalam mobil dan segera pulang agar bisa memasak untuk istri dan calon anak nya.
Sesampainya di apartemen Rafa yang membawa beberapa kantong belanjaan menempatkan Arin di sofa agar bisa istirahat sementara Rafa langsung menuju dapur memasak untuk istri yang semakin ia cintai.