SWEET MARRIAGE

SWEET MARRIAGE
BAB 121


__ADS_3

Sore hari, Adi, Alex juga Papa Arin baru tiba dan melihat bendera kuning berkibar jelas di halaman rumah Nenek Arin. Langkah ketiganya seakan tak bisa melangkah, dengan mata masih terus mengeluarkan air mata. Adi dan Alex menuntun kedua sisi tangan Papa Arin dan membawanya masuk, walau keduanya juga tak sanggup melangkah.


Adi juga Alex langsung bersimpuh melihat tubuh kaku terbaring di tengah banyaknya pelayat mengaji. Papa Arin cepat membuka tutup yang menutupi sekujur tubuh putrinya tak bergerak. Histeris dan menangis, itulah yang langsung dilakukan Papa dari putri tunggalnya.


Tangis Adi dan Alex pecah semakin menjadi melihat tubuh istri dari sahabatnya. Mereka masih tak mampu mempercayai apapun yang terjadi saat ini, seperti sebuah mimpi butuk yang bahkan tak ingin mereka berdua impikan.


Di rumah sakit, Rafa sudah tersadar dan tak mendapati siapapun di ruangannya. Bel pasien terdapat di sisi ranjang Ia tekan dan tak lama perawat masuk menghampiri.


" Ada yang bisa Saya bantu?" tanya perawat yang sama yang tadi menjaga Rafa.


" Dimana istri Saya? " tanya Rafa menundukkn wajah perawat yang tahu sebenarnya.


" Istri And tadi mengalmi kecelakaan di depan rumah sakit, dan sekarang sudah di bawa pulang " jelas perawat mengejutkan Rafa dan beranjak dari ranjang.


" Maksudnya gimana? " tak mengerti Rafa akan penjelasan perawat.


" Istri Anda tidak bisa di selamatkan karena pecahnya pembuluh darah di kepala " lirih perawat, membuat Rafa membulat seraya menggelengkan kepala.


" Anda kalau bicara jangan suka asal ya! " tegas Rafa mencabut selang infus.


" Maaf tapi Anda masih dalam perawatan " ucap perawat mencegah Rafa pergi.


" Lo ambil ini, engga usah takut Gue gak bayar! " ucap Rafa menyerahkan dompet masih tersimpan rapi dalam saku celananya.


Rafa cepat berjalan keluar dan memanggil ojek di depan rumah sakit untuknya mengantar pulang keruamah nenek Arin. Perasaannya semakin tak enak dan meminta tukang ojek cepat melajukan motor.


Tatapan terkejut tak percaya melihat rumah nenek istrinya begitu banyak orang dengan bendera kuning di depan. Ia juga melihat mobil Adi terparkir tak jauh dari halaman rumah tengh perkebunan itu.


Langkahnya tertatih karena tubuh masih lemah karena sakit, juga keadaan rumah nenek istrinya. Perlahan Ia mencoba masuk dengan berpegangan pada apapun yang bisa Ia raih.

__ADS_1


Ia melihat keluarga juga sahabatnya duduk di atas karpet dengan lantunan ayat. Keluarganya masih lengkap, namun tak mendapti wajah cantik istri yang sngat Ia rindukan.


" Rafa " seru wanita cantik menghampiri putranya yang hampir terjatuh lemah.


" Arin mana Ma? " tanya Rafa, mengeluarkan bulir air mata Mamanya.


" Kamu yang kuat nak, Arin lebih di sayang sama yang di atas " ucap Mama Rafa memeluk tibuh putranya.


" Mama ngomong apa sih?" tak mau mempercayai dan melepas pelukan Mamanya, berjalan perlahan menghampiri kedua sahabatnya.


" Arin mana? " tanya Rafa pada Alex juga Adi yang tak bisa menjawab.


" Gue tanya Arin mana?! " teriak Rafa memgang kedua kerah baju sahabarnya yang langsung memeluk tubuhnya dalam air mata.


" Lo sabar Fa " ucap Adi tulus memeluk tubuh lemah Rafa.


" Apa apaan sih " lirih Rafa melepas pelukan sahabatnya.


" Yank, kenapa Kamu tidur di sini? " lirih Rafa menatap wajah pucat istrinya.


" Yank, bangun Kita pindah di kamar " ucap kembali Rafa memecahkan tangis sahabat juga keluarganya.


Mama Arin juga Mama Rafa beranjak memegang kedua sisi pundak laki laki masih berbicara membangunkan istrinya.


" Rafa, jangan kaya gini nak. Biarkan Arin tenang " lirih Mama Rafa.


" Engga Ma! istri Aku cuma tidur, Aku mau gendong Dia ke dalam " ucap Ranfa hendak meraih tubuh istrinya, namun di tahan oleh pelukan kedua Mama yang menahan Rafa.


" Rafa mau pindahin Arin ke kamar Ma! " teriak Rafa kuat mengeluarkan air mata begitu saja, membuat semua orang iba.

__ADS_1


" Rafa Arin sudah tenang, biarkan Dia nak jangan sepwrti ini " tangis Mama Rafa memeluk putranya.


" Sayang bangun, Alka cari Kamu. Lihat Dia nangis minta gendong, ayo bangun yank jangan tidur terus atau Aku akan marah sam Kmu kalai Kamu engga rawat Alka! " ucap Rafa semakin meninghikan suara lalu terisak.


" Arin engga mungkin tinggalin Aku sama Alka Ma! engga mungkin! " teriak Rafa dalam pelukan Mama juga mertuanya, tak kuasa menahan tangis Adi juga Alex di belakang tubuh sahabatnya.


" Dia janji mau rawat Alka sama Aku, Dia bohong Ma! Dia bohong! Aku benci sama Dia! " teriak Rafa tak berdaya dalam dekapan Mamanya.


" Sabar nak, Kamu harus bisa terima semua ini. Alka butuh Kamu " sendu Mama Arin berbisik pada menantunya.


" Aku juga butuh Arin Ma, tapi Dia engga pernah peduli sama Aku. Dia pergi gitu aja tanpa pamit sama Aku, Aku suaminya Ma " sendu Rafa dalam tangis.


Kedua wanita masih memeluk Rmtubuh lemah Rafa mencoba terus menenangkan laki laki dengan tangis tanpa henti tersebut. Hingga tubuh istrinya harus diangkat untuk dimakamkan, Rafa masih terus menangis hingga tersungkur tak merelakan kepergian istrinya.


Adi dan Alex ikut membantu pemakaman, membiarkan Rafa dan Alka juga kedua wanita masih menenangkan dan menggendong Alka tersebut di rumah. Nenek Arin hanya menangis tak kuasa melihat apa yang terjadi hari ini. Cucu kesayangannya harus lebih dulu pergi dalam usia muda, meninggalkan suami yang sangat mencintainya juga seorang putra masih terlalu kecil.


Rafa meraih tubuh putranya yang tak henti mengulurkan tangan meminta gendong. Di dekapnya tubuh gemuk putranya dalam tangis. Begitu erat tangannya memeluk buah cintanya dengan Arin. Masih tak mampu mempercayai, Rafa terus menangis memeluk putranya.


" Ayah akan jadi Ayah juga Bunda buat Alka " lirih Rafa menyayat hati kedua wanita masih bersamanya.


" Alka harus janji engga tinggalin Ayah " kembali Rafa mengatakan dalam air mata mendekap putranya, langsung di peluk bersama dua wanita di sampingnya.


Dalam pemakaman yang dimakamkan sendiri oleh Papa juga Papa mertuanya, serta kedua sahabat yang masih tak kuasa menahan kesedihan, semua terlihat begitu haru menyayat hati para pelayat. Tanah sedikit demi sedikit menutup rapat tubuh Arin di dalam.


Keempat laki laki itu tetap duduk di dekat gundukan tanah tempat Arin bersemayam, tak rela pergi dan masih menangis memanjatkan doa di sana. Keempatnya tak bisa menerima jika keceriaan dari Ibu muda tersebut sudah terkubur begitu dalam bersama raga tak bernyawa.


Hingga beberapa jam, keempatnya masih terduduk tak ingin melangkah sedikitpun sampai beberapa orang yang masih menunggu mengangkat tubuh mereka beranjak.


" Gue engga mau percaya semua kebohongan ini " lirih Adi berjalan kembali ke rumah nenek Arin bersama Alex.

__ADS_1


" Gue benci semua ini Di " tambah Alex berkaca kaca kembali mengeluarkan air mata.


Kasih sayang keduanya pada Arin tak sanggup menerima fakta pahit yang terjadi. Seakan baru kemarin mereka tertawa bersama dan melihat lahapnya Arin makan. Tawa canda itu seakan masih terngiang jelas dalam telinga mereka, bayangan senyum cantik juga tingkah jahil Arin masih jelas tergambar dalam benak mereka berdua.


__ADS_2