
Puas menikmati kebersamaan, keduanya membersihkan diri bersama untuk pertama kali. Selesai melakukan keinginannya, Adi tak lupa mengucap maaf yang tak di mengerti oleh Yessi maksud ucapan maaf terdengar tulus dari bibir suaminya.
Mereka langsung bergabung bersama lainnya setelah lama menghabiskan waktu bersama di kamar. Menikmati makan dengan mengobrol bersama. Keinginan untuk menginap di tolak lembut oleh Adi dengan menjelaskan jika dirinya harus kembali keluar Kota esok hari. Kedua orang tua Yessi pun mencoba mengerti tanggung jawab dan kesibukan menantunya.
...............skip........... hahahaha...........
Sepulang dari luar Kota, Rafa, Adi dan Alex langsung menuju apartemen milik Rafa yang sudah ada Yessi juga Arin di sana menyiapkan makan. Begitu membuka pintu dan melihat suaminya masuk, langsung Arin melompat memeluk suaminya.
" Kangen " manja Arin berseru melipat kaki di pinggang suaminya.
" Ampun bocah, Lo kaya monyet aja " sirik Alex mengacak rambut Arin masih dalam gendongan suaminya.
" Yank, berat banget Kamu sekarang " goda Rafa tersenyum, lalu mencium bibir istrinya.
" Pengen " manja Rafa berbisik.
" Sama " goda Arin tersenyum kembali mencium suaminya, langsung terlempar keras dengan bantal sofa oleh Alex.
" Turun kagak Lo?! undang undang Gue makan, malah suruh liat beginian " jengkel Alex iri, langsung di balas senyuman Rafa juga Arin yang perlahan turun.
" Nikah sana! " sahut Rafa tersenyum melempar kembali bantal sofa yang tadi di lempar sahabatnya.
" Gue nikah bakal Gue pamerin lebih gila lagi Lo berdua, biar ngiler ngiler liatin Lo " jengkel Alex duduk melipat kedua kaki di atas sofa.
" Engga tuh " sahut Arin dan Rafa bersamaan menaikkan kedua bahu mereka dan tersenyum.
" Di, ngapain Lo? nyolong makan Lo di dapur duluan? " seru Alex melihat Adi bersama Yessi di dapur.
" Bikin kopi " sahut Adi tetap sibuk di dapur.
" Wah Lo emang the best banget jadi sahabat, kagak kaya nih bocah berdua bukannya kasih minum malah bikin mata Gue sakit aja " sahut Alex.
Tak lama Adi kembali dengan satu cangkir kopi dan duduk di samping Alex. Merasa bahagia telah di buatkan kopi, Alex langsung mengambil cangkir berisi kopi di atas meja dan cepat di tepis tangannya oleh Adi.
" Enak aja Lo, Gue yang bikin Lo yang minum " ucap Adi membuang keras tangan sahabatnya.
" Jahat banget Lo, kagak beda sama Rafa tuh " jengkel kembali Alex.
" Arin, bikinin kupi dong " memelas Alex ke arah Arin tengah duduk berdekatan dengan suaminya.
" Kupi ngapa?! " senyum Arin beranjak dari duduk dan pergi ke dapur, meninggalkan tawa Rafa juga Alex menatap kepergian Arin.
" Lah bini Lo, kurang obat " ucap Alex di sela tawanya mendengar suara cempreng Arin sambil berjalan seperti angsa.
" Bini Gue gila banget ditinggal bentar doang " sahut Rafa di sela tawa menggelengkan kepala.
__ADS_1
" Alka kemana yank? masih tidur? " tanya Rafa masih duduk bersama sahabatnya.
" Ikut Mama kondangan yank, kan tadi udah Aku telpon Kamu nya " Sahut Arin dari dapur.
" Punya anak satu lagi sono, kasian tuh anak Gue di bawa bawa terus " protes Alex ke arah Rafa.
" Kasihan bini Gue kalau harus urus anak satu lagi, Gue juga engga pernah di rumah " sahut Rafa.
" Adi tuh dah waktunya punya anak, santai santai aja tuh anak " tambah kembali Rafa.
" Kagak usah urusin nih bocah, idup nya aja kagak jelas mau punya anak giman ceritanya " celetuk Alex masih jengkel masalah kopi.
" Enak aja, Lo tuh engga jelas. Nikah kagak, pacaran mulu mau jadi apaan Lo " sahut Adi.
" Penjajakan, you know?! " sahut Alex melenggang pergi ke arah dapur.
" Penjajakan kepala Lo " gumam lirih Adi menikmati kopi sendiri.
Alex di dapur sudah bersama dengan Arin dan menyapa Yessi. Mulutnya terus mengunyah bersama Arin sembari menunggu kopi jadi. Kue keju yang di bawa Alex dan merupakan makanan kesukaan keduanya, dimakan bersama di meja makan.
Rafa melihat keduanya asik makan menghampiri ke meja makan dan ikut bergabung bersama. Meminta istrinya untuk menyuapi, meski tak begitu menyukai makanan dengan rasa kuat.
" Yessi, Lo ngapain diam aja di dapur? temenin Adi sana kasihan tuh " tegur Rafa ke arah Yessi yang tengah menyiapkan makan.
" Engga diam juga kali Fa, nih lagi masak " senyum Yessi menoleh sebentar.
" Diem dari Hongkong?! " protes Rafa melirik Alex.
" Diem kalau di foto " sahut tertawa Alex di susul tawa Arin.
Arin menyiapkan kembali kopi untuk suaminya juga Alex, lalu membantu Yessi menata makanan di atas meja makan bersama Rafa juga Alex yang membantu di sana. Sambil meletakkan kopi milik suami juga sahabatnya, Arin memanggil Adi untuk ikut membantu di dapur lalu makan bersama.
Adi yang hanya diam saja dari tadi, menimbulkan tanya dari ketiganya akan apa yang terjadi antara Yessi juga Adi. Bahkan Adi tidak terlihat menyapa istrinya ketika ke dapur tadi. Baik Adi ataupun Yessi sama sama diam saja berdua.
Sebenarnya alasan Adi juga Yessi saling diam adalah ketika Adi hendak pergi kembali ke luar Kota, namun salah menyebut Yessi dengan sebutan Arin ketika Ia berpamitan. Hal itu menjadi perdebatan antara keduanya hingga Adi harus pergi dalam keadaan kesal.
Begitu Adi pergi, Yessi merasa penasaran dan bertanya pada mertuanya. Pasalnya, Yessi sendiri mendapati foto Arin dalam tumpukan baju yang lupa untuk di buang oleh Adi karena pintu kamarnya terkunci saat Ia hendak menikah. Adi pun hampir lupa jika memiliki foto Arin di dalam almari, hingga hanya menghilangkan foto dalam ponsel juga laptop miliknya.
Terkejut mendengar cerita mertuanya tentang perasaan Adi, akhirnya Yessi mengerti alasan di balik perhatian Adi juga rasa khawatir yang ditunjukkan. Walaupun juga melakukan hal sama pada Alex juga Rafa, tapi sorot mata Adi tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Yessi juga sudah bisa menangkap ketika Adi mengantarnya latihan sebelum ke rumah orang tuanya. Sorot mata Adi seakan menjelaskan segala perasaannya, menjelaskan akan alasan di balik sikap ingin marah Adi hanya karena masalah tas yang tertinggal dan di antar oleh Arin ke rumah.
Adi mendapat kabar dari Mamanya, jika Yessi sudah tahu semua dan membiarkan saja tanpa ingin menjelaskan apapun. Lagipula Adi juga tetap bersama dengan Yessi dan berusaha mencintai, dan tak ada yang salah juga perlu di jelaskan menurutnya. Bahkan tak ada sedikitpun niat untuknya mengakhiri hubungan pernikahan dan mengejar Arin, kalaupun memang berniat seperti itu, pasti sudah dilakukannya semenjak dulu. Tapi faktanya Ia tak memiliki usaha untuk menjadikan Arin miliknya dan ikut bahagia ketika Arin bahagia, karena cintanya tak harus memiliki seseorang yang sudah menjadi milik sahabatnya.
Adi, Yessi, Arin, Alex dan Rafa menikmati makan bersama mereka. Masakan Arin juga Yessi dinikmati mereka dengan lahap, lalu membersihkan semua bersama dan menghabiskan waktu berkumpul du ruang tengah menunggu Rafa dan Adi bermain game, sementara Alex masih sibuk makan rujak bersama Arin juga Yessi yang Ia beli ketika di jalan.
" Yank, telpon dari Mama nih " seru Arin meminta suaminya mengangkat karena tangan tengah kotor.
__ADS_1
Rafa menghentikan sejenak permainan, dan mengangkat telpon dari mertuanya. Wanita cantik baru sampai rumah bersama cucunya itu, meminta ijin pada Rafa untuk mengijinkan Alka menginap satu malam agar Ia dan Arin bisa menghabiskan waktu bersama malam ini. Rafa yang sudah sangat merindukan putranya itu, tak berani menolak dan hanya bisa mengijinkan saja putranya menginap.
" Kenapa yank? " tanya Arin mendengar suaminya tadi hanya bilang iya Ma saja.
" Alka di ajak nginap di rumah Mama yank, katanya biar Aku sama Kamu bisa berduaan dulu " sahut Rafa mengarah ke istrinya.
" Emak mertua Lo asik banget " celoteh Adi melirik sahabatnya.
" Emak Gue tahu kalau laki Gue manja, makanya di kasih waktu buat manja dulu biar besok bisa manjain Alka " sahut Arin tetap menikmati rujak.
" Gue nginep sini ya, gantinya Alka " ucap Alex cepat.
" Enak aja, pulang Lo. Amit amit Alka kaya Lo gini " cepat Rafa memprotes.
" Ampun Fa, Gue di rumah cuma sama emak Gue kagak ada temen main, si Adi udah nikah cuma Lo yang bisa Gue gangguin " memelas Alex tak memiliki teman lagi semenjak Adi menikah.
" Besok Gue temenin Lo main sepuasnya " sahut Rafa mengembangkan senyum Alex dan memeluk sahabatnya dari sofa atas tempat nya duduk bersama Arin dan Yessi.
" Sarangheo " cium Alex pada pipi Rafa, cepat di usap kasar oleh laki laki yang menjauhkan kepala itu.
" Idih " bergidik Arin melihat.
" Yank, ekspresi Kamu nyebelin banget sih? " protes Rafa melihat wajah istrinya.
" Terkontaminasi Kamu yank, harus di semprot desinfektan dulu " ucap Arin didorong Alex tak terima.
" Lo kira Gue virus apa?! bibir Gue nih seksi banyak yang nunggu buat Gue cium, laki Lo nih satu satunya yang beruntung di dunia yang fana ini " protes Alex.
" Iya, Gue juga nunggu tuh bibir buat Gue cobain pakai nih " sahut Arin menunjukkan kepalan tangan, membaut Alex meringis seketika sambil melambaikan tangan berulang diiringi tawa Adi juga Rafa serta Yessi.
Kembali melanjutkan bermain game hingga lupa waktu, Adi berpamitan untuk pulang. Alex juga langsung meminta ijin pulang meninggalkan Rafa dan Arin yang mengantar mereka sampai pintu apartemen hanya berdua.
Adi berjalan berdampingan dengan Yessi walau tanpa tegur sapa, tepat di belakang Alex yang berjalan mendahului. Dalam lift, Alex yang tak begitu akrab dengan Yessi, juga menghormatinya tak bisa bertingkah seperti biasa. Ia hanya diam saja tak berbicara dengan tetap memainkan ponsel.
** Gue kaya jaga kuburan ** ketik Alex pada ponselnya dan mengirim ke Rafa.
Rafa yang hendak mandi, meraih ponselnya sebentar dan melihat pesan Alex lalu tertawa hingga mengundang rasa ingin tahu Arin, menghampiri suaminya.
** Emang kalau ada orang berduaan yang ketiga tuh setan, lah Lo setan nya ** balas Rafa, lalu memberikan ponsel pada istrinya agar membalas pesan Alex, sementara dirinya mandi.
" Sialan!" celoteh Alex membaca pesan balasan dari Rafa, di toleh cepat oleh Adi juga Yessi bersamaan.
" Bukan Lo berdua, nih Rafa yang sial " cengengesan Alex menunjuk ke arah ponsel masih menyala.
" Nginep rumah Gue aja Lex, main game di rumah " ajak Adi cepat di tolak oleh sahabatnya.
__ADS_1
" Kagak, Gue kangen emak Gue pengen di nina bobo sama Dia " celoteh Alex cepat dengan menggelengkan kepala.
Yessi tersenyum mendengar jawaban Alex yang tak mau menjadi kambing bodoh di antara kedua orang masih saling diam. Adi sendiri sengaja mengajak Alex ke rumah agar bisa menjadi teman dirinya dikala Yessi hanya diam saja, dan tak ingin stres sendiri nanti