SWEET MARRIAGE

SWEET MARRIAGE
BAB 50


__ADS_3

Hampir satu jam Rafa dan Adi menunggu dengan kecemasan serta ketakutan yang menyelimuti diri mereka di ruang tunggu IGD rumah sakit yang jarak nya tak jauh dari kampus dan masih dalam lingkup milik kampus tempat mereka menimba ilmu.


" Lama banget sih " gumam Rafa dengan terus mondar mandir tak tenang memasang tajam wajah penuh kecemasan.


" Sabar Fa, dokter pasti usaha yang terbaik buat Arin sekarang" seru Adi menatap Rafa tak tenang sambil duduk di kursi yang tersedia di ruang tunggu tersebut.


" Gue engga tenang Di, istri gue di dalam selama ini dan gue gak tahu gimana keadaanya" geram Rafa mengusap kasar wajah frustasi nya.


" Maaf, suami dari Ibu Arin? " terdengar suara seorang perempuan dengan pakaian perawat mengintip dari balik pintu IGD yang dengan cepat Rafa menghampiri perawat tersebut bersama Adi.


" Saya, saya suami nya" jawab Rafa cepat.


" Dokter ingin bertemu dengan Anda " ucap perawat.


Tanpa menjawab lagi Rafa langsung masuk menemui dokter yang masih berada di ruangan dimana Arin di periksa meninggalkan Adi sendiri di ruang tunggu. Rafa tak sanggup melihat Arin tampak lemas dengan mata terpejam karena efek dari obat yang di berikan oleh dokter.


" Gimana istri saya? " tanya Rafa khawatir.

__ADS_1


" Sekarang semua sudah baik baik saja, hanya saja saya sarankan agar Ibu Arin di rawat dulu di sini agar bisa terus kami pantau perkembangan nya" jelas Dokter pria memakai jas putih yang berdiri di samping brankar Arin.


"Anak saya? " tanya Rafa lagi.


" Ibu dan anak sama sama selamat karena Anda cepat membawa nya kemari jadi tidak sampai terjadi pendarahan hebat yang mungkin membahayakan janin" tambah Dokter menjelaskan.


Rafa menangkupkan kedua telapak tangan nya di atas wajah dan bernafas lega mendengar penjelasan dokter.


" Terimakasih banyak Dokter" ucap Rafa tersenyum memegang tangan dokter yang sudah menjadi penyelamat anak dan istri nya.


" Sama sama, saya tinggal dulu nanti untuk rawat inap suster akan membantu Anda " jelas dokter dan di angguki oleh Rafa.


" Kamu harus terus kuat dan sehat buat aku, anak kita dan pernikahan kita yank" ucap Rafa lembut dengan membelai rambut Arin yang masih tertidur.


Sementara di luar ruangan, Mama Arin dan juga Mama Rafa yang telah tiba dengan berlari dari arah parkir langsung menemui Adi dan menanyakan kondisi Arin serta penyebab kenapa Arin bisa sampai seperti ini. Adi menceritakan dengan detail semua kejadian di kampus hari ini hingga menyebabkan Arin dan anak nya terancam nyawanya. Mama Arin yang merasa geram segera menelfon Om Arin yang kepala polisi untuk menindak lanjuti masalah penyerangan yang di lakukan teman kampus nya kepada anak dan cucu nya. Om Arin pun menjelaskan jika memang ke empat anak yang di maksud sudah berada di kantor polisi dari tadi dengan dibawa oleh dua orang teman Arin yang dulu ikut mencari Arin ketika hilang, yang Mama Arin yakini jika itu adalah Alex dan Reta karena yang ikut pergi mencari Arin dulu adalah Alex, Adi dan Reta.


Setelah mendengar penjelasan adik ipar nya panjang lebar, mama Arin menutup telfon dan memasukkan kembali pada tas tangan putih di tangannya.

__ADS_1


Mereka masih menunggu dengan cemas kabar tentang Arin yang sama sekali belum mereka ketahui karena hanya Rafa yang boleh menemani Arin, sedangkan sampai sekarang Rafa belum juga keluar. Mereka hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Arin dan kandungannya dengan rasa cemas yang mendera kuat di hati mereka masing masing.


Pukul 15.30 Arin yang sudah tersadar dan juga sudah di pindahkan ke ruang inap VVIP dengan bantuan beberapa perawat dan Rafa yang selalu setia menggenggam tangan istrinya agar Arin lebih merasa tenang.


" Yank, kamu lapar gak? " tanya Rafa yang duduk di sebuah kursi dekat ranjang Arin dan hanya di balas gelengan oleh Arin.


" Kamu ada mau apa gitu yank? " tambah Rafa.


" Engga sayang, aku mau kamu di sini sama aku" jawab Arin dengan suara lemah.


" Iya sayang, aku engga kemana mana" jawab Rafa dengan nada sangat lembut dan penuh kasih sayang.


" Aku telfon Adi sebentar ya yank, aku lupa kabari Adi kalau kamu udah di pindah" seru Rafa beranjak dari duduk nya yang tertahan tangan nya oleh Arin.


" Di sini aja yank, aku takut" ucap Arin menahan tangan suami nya pergi, Rafa langsung kembali duduk memegang tangan Arin sambil menelfon Adi.


Usai mendapat telfon dari Rafa, Adi yang masih di ruang tunggu IGD bersama kedua orang tua Arin dan Rafa serta Alex dan Reta yang sudah tiba dari kantor polisi langsung melangkahkan kaki mereka cepat menuju kamar yang telah di beritahukan oleh Rafa karena memang mereka belum mengetahui bagaimana kondisi Arin dan anak nya.

__ADS_1


Sampai nya di depan pintu kamar VVIP lantai 3 rumah sakit mereka langsung membuka pintu mendapati Arin terbaring dengan Rafa duduk di sebuah kursi samping istrinya merebahkan kepalanya di ranjang yang sama dengan Arin karena Arin yang ingin mengusap rambut Rafa yang bisa membuatnya tenang setiap kali ia merasa gelisah.


__ADS_2