
Mendapati Alex bersembunyi di balik kemudi, langsung saja Rafa dan Adi membuka pintu mobil yang belum terkunci. Marik keluar tubuh Alex dan memitingnya bersama, melampiaskan kekesalan akan ulah dari sahabatnya itu.
Memuaskan diri membalas pada Alex, mereka pun bergantian meminta Alex menghubungi istri istri mereka menjelaskan. Langsung saja Alex mendapat omelan panjang dari Arin sampai ponsel dijauhkan dari telinga, tapi di dekatkan lagi oleh Rafa pada telinga sahabatnya agar ikut merasakan pansanya telinga saat Arin mengomel.
Adi pun menghubungi ponsel istrinya dari ponsel miliknya usai Arin menutup paksa sambungan telpon dari ponsel suaminya yang digunakan oleh Alex. Sahnum tidak jauh beda dengan Arin yang mengomel panjang lebar dari ujung telpon.
"Gila bini lo berdua kalau ngomong udah kaya tol aja panjangnya" gerutu Alex mengusap telinga dengan iringan senyum kedua laki laki masih berdiri di dekatnya.
"Bini lo lebih parah tau gak?! ngsel aja berisiknya" jengkel Alex ke arah Rafa.
"Mending engga di tonjok bini gue lo" sahu Rafa lalu naik ke dalam mobil baris kedua.
"Bini lo, alus banget kalau ngomong tapi kaya pelebaran jalan" gerutu Alex ke arah Adi yang tanpa menjawab dan hanya menaikkan kedua bahu lalu naik mobil duduk di samping Rafa.
"Lah, ini sapa yang nyetir?!" teriak kesal Alex, dijawab dengan serentak menunjuk ke arahnya oleh Rafa dan Adi.
"Sialan lo berdua, kaya sopir aja gue" gurutu Alex dan naik ke dalam mobil.
Tetap menggerutu kesal dengan telinga masih terasa panas, Alex menlajukan kendaraan menuju sebuah restoran untuk mereka menikmati makan siang bersama. Namun sebelum ke restoran, Rafa lebih dulu meminta Alex ke tempat penjual buah dan mengambil buah yang telah di pesannya melalui ponsel untuk membantu Alex.
"Wah gila, bisa lurus gini di apain sama yang jual?" ucap Adi memperhatikan buah semangka yang dibawa masuk oleh Rafa dari tempat langganan istrinya.
__ADS_1
Rafa hanya tersenyum bangga dengan otaknya. Abang penjual buah juga sangat pintar dalam menyiasati buah semangka tersebut dan hampir tidak terlihat coretan spidol permanen yang terlihat alami dan menyatu.
"Keren lo Fa' puji Alex tersenyum puas.
Rafa hannya diam dan tersenyum sendiri tidak memberitahu tentang akalnya yang di sampaikan pada penjual buah. Dulu ketika hamil Alka pun, Arin pernah menginginkan buah yang aneh dan hanya tukang buah tersebut yang bisa melakukan dengan rapi. Sampai saat ini tukang buah tersebut selalu menjadi langganan Arin dan Rafa. Awalnya hanya langganan Arin, namun karena seringnya mengantar Rafa jadi akrab dan sering membeli buah di sana.
*****
Sore hari, Rafa dan Alex kembali ke apartemen dengan wajah sumringah membawa buah untuk istrinya. Sedangkan Adi memilih kembali langsung kerumah karena sudah sangat merindukan Shanum. Begitu sampai depan pintu apartemen, Rafa langsung masuk tanpa Alex mampir lebih dulu. Matanya terkejut melihat adanya Reta duduk di ruang tamu bersama anak kecil.
"Ngapain lo kesini?" tak suka Rafa bertanya.
"Gue tanya, lo ngapain di sini?!" teriak Rafa ke arah Reta tanpa memperdulikan Arin.
"Alka lagi tidur, kamu jangan teriak teriak dong. Reta kesini mau minta maaf sama kita semua, dan aku minta dia buat nginep di sini sampai lusa sambil nunggu orangtuanya jemput" jelas Arin membulatkan mata Rafa.
"Kamu pikir aku bakal ijini dia tinggal disini gitu? jangankan sampai lusa, sedetik aja aku engga sudi!" tegas Rafa ke arah istri dekat dengannya.
"Fa, Rin, gue cuma mau minta maaf aja. Gue engga mau lo berdua berantem karena gue, gue pamit dulu" sendu Reta beranjak dan di tahan oleh Arin.
__ADS_1
"Lo mau bawa anak lo kemana Ret? Angga bakal nyariin lo kesana. Lo udah babak belur kaya gini, lebih baim lo tunggu bokap nyokap lo disini" lembut Arin mencegah, di tarik cepat lengannya oleh Rafa.
"Biarin aja pergi! ngapain sih kamu tolong segal?! mau babak belur, mau dia mati juga itu urusan dia bukan urusan kita! dia sendiri yang bilang kalau engga butuh lagi sama kamu!" tegas Rafa menatap tajam pada Arin.
"Paling gak kamu lihat anaknya! pikir gimana kalau sampai aku di posisi reta sekarang! oke kalau kamu engga ijini dia tiggal disini sementara, aku bakal ajak Reta buat nginep di rumah Mama!" tegas Arin menarik keras tangan dari cengkeraman suaminya.
"Kamu lebih milih tolong dia daripada dengerin ucapan suami kamu?!" kesal Rafa.
"Perkataan suami emang harus dituruti selama itu baik, tapi selam itu engga baik aku bisa untuk lawan! nolong orang yang dalam kesulitan itu hal baik yang gak bisa kamu larang! siapapun mereka dan bagaimanapun sikap mereka!" teas Arin.
"Oke! pergi sana!" teriak Rafa.
"Rin, gue pulang aja ya, lo lagi hamil kasian juga Alka" lirih Reta.
"Udah pergi lo!" bentak Rafa sampai membuat anaknya Reta enangis.
"Keterlaluan!" kesal Arin menatap suaminya.
Arin mengajak Reta untuk keluar tanpa lagi ingin berdebat dengan Rafa. Langsung saja Rafa menendang sofa ruang tamu karena kesal akan sikap istrinya yang seolah melawan, tanpa pernah peduli akan sikap Reta terhadapnya.
Arin hanya ingin menolong Reta dengan wajahnya yang sudah babak belur dihajar oleh Angga siang ini. Reta langsung menghubungi orangtuanya dan minta untuk di jemput. Ia menceritakan segalanya yang membuat orangtuanya terkejut dan tak terima akan perlakuan Angga.
__ADS_1
Semua nasehat Arin dilakukan oleh Reta untuk berpisah dengan Angga dan kembali ke luar negri bersama kedua orangtuanya. Orang tua Reta langsung bergegas memesan tiket perjalanan untuk menjempuat anak cucunya, meminta agar Reta bersembunyi dari amukan Angga yang tidak henti menghajar tanpa alasan jelas.
Untuk itu Reta nekat menghubungi Arin dan datang ke apartemen untuk meminta pertolongan menghindar dari emosi Angga yang terus meluap. Tidak ada nafkah yang ada hanya kekerasan fisik dan kekerasan seksual yang di dapat Reta selama ini bersama Angga. hingga ia sudah tak sanggup lagi menghadapi dan menerima.