
Kelas sudah di mulai, namun tak menghentikan pikiran Alex pada nasib calon anak dari mantan istrinya. Tetap saja Ia memenuhi pikiran akan siapa yang mengasuh anak tak berdosa itu. Walaupun sudah sangat tersakiti oleh mantan istrinya, hati terdalam Alex seakan meronta untuk mengabaikan nasib dari bayi yang bahkan kedua orangtuanya seakan tak peduli.
Sama sekali tak dapat fokus dengan mata kuliah, Alex tetap duduk hingga kelas bubar. Namun matanya terlihat kosong, dengan pikiran melambung tinggi masih tetap akan nasib anak dari Reta. Apalagi usai matanya melihat bagaimna Angga masih saja berusaha mendekati banyak gadis di kampus.
Dalam perjalanan ke kantor, Rafa dan Adi masih memperhatikan Alex yang duduk sendiri di jok belakang. Rafa yang mengemudi, sesekali melihat dari spion tengah dan mengisyaratkan Adi agar menoleh ke belakang. Ketiganya memang hanya menggunakan satu mobil karena harus menghadiri meeting bersama nanti diluar, agar bisa hadir tanpa menunggu lagi.
" Kenapa sih Lo? " tegur Adi menoleh ke arah sahabatnya yang memusatkan pandangan keluar jendela.
" Kalau Gue adopsi anaknya Reta gimana? " celetuk Alex tiba tiba, menguatkan protes kedua sahabatnya.
" Gila Lo! " protes Adi dan Rafa bersamaan dengan nada tinggi karena terkejut.
" Gue engga bisa bayangin nasib tuh bayi, kasihan banget " seru Alex memajukkan tubuh di antara jok kedua sahabatnya.
" Lo mikir dong gimana perasaan Vio! mana ada cewek mau nerima anak dari mantan istri suaminya? mending tuh anak Lo masih di terima, lah ini?!" jengkel Rafa panjang lebar sambil tetap mengemudi.
" Lo tuh ya, lama lama Gue nikahin juga tuh Vio sekalian nikahin Yessy dari pada Dia makan ati nikah sama orang bodoh kaya Lo!" jengkel Adi menggelengkan kepala tak percaya.
" Gila Lo " protes Alex mendorong kepala Adi dari belakang.
" Lo yang gila! udah kagak usah ribut mikirin tuh anak, bukan anak Lo juga ngapain Lo pikirin sih? lupa Lo gimana Reta udah khianati Lo hamil sama orang lain? ini bukannya sakit hati malah mau rawat anaknya " protes Adi memegang kepala bagian belakangnya.
" Bener tuh Adi, setuju Gue " tambah Rafa.
" Lo berdua kagak lihat tuh si brengsek Angga masih doyan main cewek? gimana anaknya coba? mana mau Dia akui itu jadi anaknya " sahut Alex.
__ADS_1
" Lo buruan nikah deh terus punya anak sana biar encer otak Lo " sahut Rafa menggelengkan kepala heran.
" Gini aja deh Lex, Lo nikahin lagi tuh si mantan bini terus akui tuh anak jadi anak kandung Lo, dan Lo lupain Vio biar Dia dapat kebahagiaan lain di luar sana " ucap Adi.
" Gila, malas banget Gue nikahin tuh curut " seru Alex bergidik menaikkan kedua bahu dan memundurkan tubuh bersandar.
" Ya udah berarti aman kan? kagak usah lagi mikirin apapun yang ada hubungan sama Dia, mending Lo bantu Gue buat dapat restu " ucap Adi mengarahkan pandangan ke depan.
" Iya deh, mending Gue bikin anak aja sama Vio " celetuk Alex.
" Nikah dulu! " tegas kedu sahabat masih duduk di depan, mengembangkan senyum Alex.
" Kawin dulu bisa gak ya? udah ngebet Gue. Aduh mana tuh anak seksi banhet lagi, kagak kuat Gue kalau dekat Dia tuh bawaannya pengen nyoso aja " senyum Alex membanyangkan.
" La Lo enak punya bini, mau tinggal mau. Lah Gue? mau sam botol kecap Gue? " sahut Alex ditertawakan Adi dan Rafa.
" Lo masukin botol kecap, entar keluar Lo pakai dah tuh buat maskeran biar manis " tawa Adi high five bersama Rafa.
" Jijik Gue bayangin " ucap Rafa bergidik sendiri.
" Ya Lo nganggur banget pakai di bayangin " sahut Adi memukul lirih lengan sahabatnya.
Mendengar ucapan Alex, seketika membuat Adi merasa penasaran. Karena hanya Dia yang tak, pernah tahu hal itu. Walau sering membahas hal dewasa layaknya seorang laki laki normal, Adi tak pernah sekalipun merasakan bagaimana rasanya menyentuh perempuan.
" Gimana sih rasanya? Lo berdua kaya doyan banget? " polos Adi bertanya, malah ditertawakan oleh Alex juga Rafa.
__ADS_1
" Kagak tahu Gue, tanya Alex sana " ucap Rafa menyadari tatapan pemasaran Adi.
" Kagak tahu! anak kecil mana boleh ngerti urusan begituan " sahut Alex tak ingin menceritakan sama halnya dengan Rafa.
" Ah rese Lo berdua, gini jadi pengen cepet nikah kan Gue biar tahu tuh rasanya gimana " lirih Adi jengkel mengembangngkan senyum kedua sahabatnya.
" Ah nih Bapaknya Yessy susah banget lagi kasih restu, pengen Gue hamilin dulu aja tuh anak biar Bapaknya restui " kembali Adi jengkel, langsung dipukul cepat oleh Alex juga Rafa bersamaan, hingga tubuh Adi membentur pintu mobil.
" Yang ada Lo mati duluan belum sampai tuh anak hamil! mikir Lo ya kagak bisa beneran dikit apa?! " tegas Alex.
" Jangankan bikin hamil, baru mau cium aja Lo udah di tonjok duluan sama si Yessy " tawa Rafa membayangkan sahabatnya.
Adi hanya bergidik ngeri akan ucapan Rafa juga Alex. Memang Yessy selalu menolak ketika di sentuh tangannya, apalagi mau mencium. Yessy benar benar menjaga jarak dari Adi walau sudah reami berpacaran selama dua minggu.
Anton sendiri juga belum mendapatkan resru karena masih ingin melihat sampai seberapa serius Adi pada putrinya. Tak ingin menyerahkan putri kesayangannya pada orang yang salah, Anton juga tak mudah memberikan ijin keduanya berkencan di luar dan hanya mengijinkan Adi untuk datang kerumahnya saja jika ingin bertemu Yessy.
Tujuan Anton melakukan hal itu, karena tak mau jika Adi sampai menyentuh sedikitpun putrinya. Walau sangat mempercayai Yessy jika takkn pernaha melakukan hal hal seperti pergaulan anak jaman sekarang, namun Antok tak mudah mempercayai Adi.
Bunda Yessy juga memiliki pemikiran sama dengan suaminya, dan menasehati Yessy juga Adi perlahan. Ia tak menolak jika memang Adi ingin menikah muda bersama Yessy, karena memang dari pada berpacaran yang berujung negatif lebih baik menikah dan berpacaran usai menikah.
Yessy sendiri awalnya tak setuju di ajak pacaran oleh Adi, karena tak ingin ribet jika ada putus ataupun pertengkaran. Namun Adi meyakinkan jika itu hanya untuk sebuah status selama mereka berusaha saling mengenal.
Adi pun pernah meminta ijin pada kedua orang tua Yessy demi memperkenalkan Yessy pada Mama Adi. Keramahan Yessy sudah mampu memikat Mama Adi, dan memberikan restu namun tetap meminta keduanya menunggu restu dari Ayah Yessy.
Mama Adi begitu bahagia ketika Yessy datanag, karena memang Adi tak pernah membawa cewek datang ke rumah sebelumnya. Dari situ sudah dapat dilihat oleh wanita yang masih hidup terpisah dengan suaminya itu, melihat seberapa serius putranya dan menghubungi suaminya di luar negri untuk menceritakan tentang hubungan Adi juga Yessy. Papa Adi langsung saja setuju, dan mendukung penuh putranya yang ingin menikah muda namun tetap harus memilih yang terbaik dari yang terbaik dan bisa mencintai juga menerima apa adanya Adi, tanpa syarat apapun.
__ADS_1