
Dokter yang datang bersama perawat untuk memeriksa Rafa, hanya tersenyum melihat Arin tidur tanpa sadar memeluk perut suaminya. Wajah tampan Rafa hanya membalas senyuman, tetap membiarkan tangan istrinya nyaman seperti itu dari tadi tanpa ingin mengubahnya.
Adi dan Alex selalu memperhatikan sedari tadi dengan senyum senyum sendiri. Dokter pun menyadari jika pasiennya tak mau mengganggu tidur nyenyak istri di sampingnya, dan memeriksa Rafa dengan hati hati. Suara yang di keluarkan pun lirih, karena tak ingin membangunkan perempuan yang Ia tahu sudah berada di ruangan itu berhari hari.
Setelah selesai di periksa, Rafa meminta untuk pulang pada Dokter karena tak mau jika sahabtnya benar benar akan mengundur hari bahagianya danya untuk menemani di rumah sakit. Dokter meminta untuk menunggu hingga besok sampai memastikan betul kondisi Ayah satu anak itu.
Setelah Dokter keluar, Rafa tetap tak bergerak dari posisi miring memunggungi istrinya walau harus menahan ingin ke kamar mandi. Arin masih nyaman memeluk suaminya, dan meletakkan wajah mendekat pada tengkuk Rafa, hingga napas hangatnya mampu dirasakan jelas oleh Rafa.
" Tuh bocah, tidur biasa tingkahnya kaya gitu ?" penasaran Alex melihat kaki Arin menimpa kaki sahabatnya dengan tangan melingkar pada perut seperti memeluk guling.
Rafa hanya tersenyum membalas sahabatnya dengan tangan masih terhubung dengan infus, mengusap lembut punggung tangan istrinya di depan perutnya. Mendengar Arin mengigau memanggil Alka, ketiganya mengembangkan senyum seraya tak percaya bahkan dalam tidur pun Arin masih mengingat putranya.
" Tidur aja yang di cariin Alka, lah Lo kagak pernah di cariin " celetuk Alex tersenyum.
" Namanya emak juga gitu kali Lex, mau tidur mau apa juga tetap anaknya diingat. Lagian tuh si Arin tiap hari sama Alka jelas yang di hapal Alka lah, mau hapalin Rafa juga ogah udah tua " sahut Adi tanpa ekspresi dengan santainya, tak menyadari tatapan jengkel Rafa.
" Enak banget Lo tidur ada yang nemenin, bentar lagi juga Lo tidur ada yang nemenin. Lah Gue kapan ?" ucap Alex masih belum mendapat ijin menikah.
" Bener juga Lo, bentar lagi Gue tidur ada yang nemenin. Aduh jadi engga sabar gimana rasanya di peluk pas tidur kaya Rafa " ucap Adi melambungkan angan dengan tersenyum.
" Mesum otak Lo! tahu banget nih apa yang Lo bayangin " protes Alex mendorong tubuh sahabatnya kasar, di tertawakan oleh Rafa.
__ADS_1
Adi tetap saja melambungkan anagn tentang memiliki istri yang hanya sebentar lagi akan terwujud. Bibirnya terus mengembangkan senyuman dalam angannya sendiri. Terlalu asik dan tak memperdulikan kedua sahabat yang menatapnya. Masa pingit yang sudah berjalan, membuat Adi tak bisa menghubungi Yessy walau hanya untuk menanyakan kabar saja.
***
Rafa bersama anak istri, juga sahabatnya kembali pulang usai kemarin Rafa diijinkan keluar dari rumah sakit. Sengaja kemarin tak langsung kembali, karena ingin menginap satu malam di rumah nenek Arin sambil menunggu fisik Rafa benar benar pulih.
Esok adalah hari pernikahan Adi, untuk itu Rafa memaksa untuk bisa kembali hari ini juga. Meski esok pernikahannya, Adi malah pulang bersama dan tetap tak mau pulang lebih dulu walau Mamanya sudah meminta.
Mama Arin satu mobil bersama dengan supir pribadi keluarga Arin, karena suami mereka tak bisa datang menjemput sebab masih berada dalam satu ruang meeting yang sama. Keduanya memang menjalin kerja sama bisnis selama ini bersama Papi Alex juga Papa Adi.
Beberapa jam perjalanan, Rafa sampai di rumah Mama Arin. Sedangkan Alex meminta ijin kembali bersama Adi ke rumah sahabatnya itu. Adi tak mengijinkan Rafa yang hendak ikut dan meminta untuk sahabatnya istirahat lebih dulu, sebelum esok Ia mendampingi dalam pernikahan.
Hanya bersama dengan Arin, lelaki terlihat lebih sehat itu mulai memasuki kamar. Sedangkan Alka tidur di kamar Neneknya, karena memang sudah lelap semenjak di perjalanan tadi.
" Yank, Aku besok ke rumah Adi pagi ya " ucap Rafa sudah dibantu istrinya berganti pakaian.
" Iya yank, Aku juga ikut " sahut Arin sembari mengenakan kaos pada suaminya"
" Engga usah Yank, Kamu sama Alka aja terus datang waktu akad nya. Kan masih pukul sepuluh akadnya besok " sahut Rafa menatap istrinya.
" Ya Aku engga bisa tinggalin Kamu dong yank, Kamu baru sehat. Terus kalau entar kenapa kenapa gimana? kalau Kamu sampai lupa makan lagi gimana? " jawab Arin mengkhawatirkan lelaki tengah duduk di tepi ranjang tersebut.
__ADS_1
" Engga, Aku engga mau sakit lagi. Kalau sakit engga boleh sentuh Alka sama Kamu, kan engga enak makanya engga mau sakit lagi dan gak bakal telat makan juga " jawab Rafa mendapat peringatan keras Mamanya.
" Ya udah terserah Kamu, sekarang minum obat terus tidur ya " sahut Arin mengambilkan obat di atas meja dan menyuapi suaminya.
" Mau kemana ?" tanya Rafa melihat istrinya melangkah usai memberikan obat.
" Taruh gelas yank, habis itu lihat Alka sebentar. lagian Mama mertua disini masa iya Aku mau tidur juga sih sama Kamu ? kan gak enak yank sama Mama " jawab Arin masih memegang gelas dan menghentikan langkahnya.
" Engga mau, temenin Aku dulu. Nanti kalau udah tidur baru Kamu boleh keluar, sekarang usap usap dulu rambut Aku sampai ketiduran " manja Rafa menatap memelas pada istrinya, dandi balas senyuman usai membuang napas kasar.
" Kaya Alka aja sih " gerutu Arin meletakkan gelas di atas meja dan kembali menghampiri suaminya.
Arin lebih dulu naik ke atas ranjang, dan disusul suaminya langsung menyandarkan kepala menyusup manja di dada istrinya. Tangannya melingar pada pinggang istri sudah mulai membelai lembut rambutnya.
Sementara Adi dan Alex sudah menyibukkan diri bersama lainnya di gedung yang akan di gunakan sebagai tempat resepsi esok hari. Adi melihat seniri bagaimana persiapannya, dan cukup puas karena sesuai dengan apa yang Ia minta.
Mama Adi yang melihat wajah lelah juga mengantuk Adi dan Alex, meminta keduanya beristirahat dengan di antar supir. Adi dan Alex memang tengah di dera rasa lelah teramat usai perjalanan jauh dalam kemacetan, terlebih mereka juga sama sama kurang tidur. Dua sahabat itu menuruti kemauan wanita tengah memeriksa detail segala persiapan pernikahan putranya itu. Keduanya pun kembali pulang dan tidur bersama di kamar tamu rumah Adi, karena kamar milik Adi sudah terkunci rapat oleh Mamanya, tak boleh di masuki lagi oleh Adi semenjak terakhir Ia menginap bersama dua sahabatnya.
__ADS_1