SWEET MARRIAGE

SWEET MARRIAGE
BAB 120


__ADS_3

Dering ponsel Arin dalam saku celananya, menyadarkan dirinya dari tatapan sendu pada suaminya. Mertuanya tak mengetahui pasti dimana rumah sakit yang dimaksud oleh Arin, karena lokasi terlalu terpencil, juga tak terdapat sinyal internet pada jaringan ponselnya.


Arin memutuskan untuk menyusul mertuanya dan menunggu di depan rumah sakit, usai lebih dulu meminta perawat menemani suaminya. Tanpa memutuskan sambungan telpon, Arin menunggu di tepi jalan hingga melihat mobil mertuanya terhenti tepat di hadapan Arin di sebrang jalan.


Ibu muda tersebut berjalan menghampiri, namun tak menyadari adanya mobil sudah berulang kali membunyikan klakson, ketika melihat perempuan dengan ponsel itu menyebrang. Seketika tubuh Arin terpental kepinggir jalan karena benturan keras dari mobil yang menabraknya.


" Arin! " teriak Mama Rafa histeris melihat tubuh menantu kesayangannya tergeletak berlumuran darah di trotoar.


Cepat orang berkerumun, dan menarik paks pengemudi yang hendak melarikan diri usai menabrak Arin. Kepala terbentur kuat di pinghir trotoar menimbulkan banyaknya darah keluar. Semua bergegas mengangkat tubuh Arin kedalam rumah sakit.


Perawatan cepat dilakukan oleh Dokter untuk menyelamatkan Arin yang sudah banyak kehilangan darah. Mama Rafa sangat panik menunggu di depan ruang operasi bersama suaminy, meninggalkan begitu saja mobil di pinggir jalan.


Pengemudi yang hendak melarikan diri itu, diseret cepat ke kantor polisi oleh orang orang yang tadi menyeretnya turun keluar. Mama Arin segera menberitahu besannya jika Arin tengah berada di ruang operasi karena kecelakaan. Dengan terkejut lemas, Mama Arin menyusup ke rumah sakit, dengan membawa Alka serta karena tak ada yang menjaganya lagi.


Beberapa lama menunggu, Dokter yang mengoperasi Arin pun keluar dengan masih mengenakan pakaian hijau menghampiri kedua orang tua yang berdiri tepat di dekat pintu operasi.


" Maafkan Kami, pasien terlalu banyak mengeluarkan darah. Kami tidak bisa menyelamatkan " ucap Dokter memecahkan tangis Mama Rafa seketika.


" Papa, ini engga mungkin Pa " tangis Mama Rafa meraung raung.


Mungkin ini adalah tanda dari ucapan Rafa sendiri yang meminta istrinya untuk tak kembali pulang. Setelah mengatakan hal itu, Rafa pun menjadi tak tenang berhari hari hingga memutuskan untuk pergi menyusul dalam keadaan sakit.


Mama Rafa tak tahu bagaimana cara memberitahu besannya juga putranya yyang masih terbaring tak berdaya di dalam ruang rawat.


Tak berapa lama, Mama Arin sudah tiba dengan menggendong tubuh cucunya. Ia tak mengerti akan apa yang terjadi hingga besannya bersimpuh di lantai dalam tangis.

__ADS_1


" Ada apa? " tanya Mama Arin dengan tubuh gemetar ketakutan.


" Arin, Arin meninggal " tangis Mama Rafa melemahkan seketika tubuh wanita masih menggendong cucunya tersebut.


" Engga mungkin! " teriak kuat Mama Arin, memecahkan tangis Alka terkejut yang langsung di raih oleh Papa Rafa.


" Kenapa? kenapa bisa seperti ini?! " tangis Mama Arin meraung dan berlari menghampiri tubuh putrinya masih dalan ruang operasi.


" Arin bangun nak, Mama di sini. Alka di sini, Mama mohon bangun sayang " tangis Mama Arin mengoyak tubuh putrinya yang sudah pucat tanpa nyawa.


Diluar Papa Rafa mencoba menghubungi Adi, agar membawa Papa Arin ke Bandung. Papa Rafa tak mau jika besannya datanh sendiri yang malah akan mengakibatkan banyak hal buruk di jalan. Dengan panik, Papa Rafa menekan nomor dari sahabat putranya itu.


" Adi, tolong antar Papa Arin ke rumah di Bandung " lirih Papa Rafa tak berdaya dengan nada lemah.


" Ada apa Om? " tanya Adi tak mengerti akan nada suara yang di gunakan bos juga Papa dari sahabatnya.


" Bercanda kan Om? ini bercanda kan? " tanya Adi tak mempercayai, membuat Alex terperanjat dari duduk melihat ekspresi sahabatnya dengan air mata.


" Engga mungkin Arin meninggal Om! " tegas Adi tak bisa membendung lagi air matanya, mengejutkan Alex dengan meraih pinsel Adi berbicara pada Papa Rafa.


" Om ini bohong? " tanya Alex tek percaya.


" Engga Alex, tolong bawa Papa Arin ke Bandung sekarang " ucap Papa Rafa mengakhiti panggilan.


" Bohong! semua ini bohong! " teriak Alex menggelegar dalam cafe miliknya.

__ADS_1


" Adi Lo bilang ke Gue semua ini bohong Di! baru kemarin Gue telponan sama Dia! ini bohong kan Di?! " teriak Alex mencengkeram kuat kerah kemeja kerja sahabat sudah duduk tak berdaya.


" Gue engga ngerti Lex! " bentak Adi keras.


Seorang pelayan cafe Alex menghampiri, dan cepat Alex memintanya mengemudi mengantar ke Bandung dan lebih dulu datang kerumah Arin menjemput Papa Arin.


Papa Arin yang memdengar kabar tentang putrinya langsung melemah, hingga harus di tahan tubuhnya oleh Adi juga Alex yang masih tak mempercayai semuanya.


Di rumah sakit, tubuh tak bernyawa Arin sudah mulai di bersihkan atas permintaan keluarga. Rafa masih tak terbangun sedikitpun hingga tak mengetahui apa yang terjadi pada istrinya.


Terus mencoba menguatkan diri, Mama Arin mengurus tubuh putrinya bersama dengan petugas rumah sakit. Ia ingin semua sudah bersih sampai Arin di antar kerumah Neneknya, dan sudah meminta supir lebih dulu pulang mengabarkan hal ini pada Nenek Arin.


Terlihat banyak tetangga berduyun duyun datang ke kediaman Nenek Arin, menunggu hingga tubuh Ibu muda yang pergi terlalu singkat karena kepala yang terbentur keras itu, tiba dari rumah sakit.


Mama Rafa mencoba tetap berada di samping mertuanya, tanpa berani mengatakan apapun. Ia tak ingin dituduh sebagai penyebab kehilangan nyawa menantu yang sangat di cintai.


Andai saja Dia tak meminta Arin keluar untuk membimbing jalan, dan melambaikan tangan pada menantunya. Mungkin menantunya takkan menghampiri dan menyebrang, tanpa melihat adanya mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi.


Dan mungkin saja putranya takkan menjadi duda, serta cucunya tak lagi dapat merasakan kasih sayang dari bundanya. Merasa bersalah akan apa yang terjadi, namun tetap memendamnya dalam karen tak ingin hubungan keluarga menjadi hancur.


Beberapa jam menunggu, tubuh Arin sudah beraih dan di antar ke rumah Neneknya bersama ambulance juga Mama serta mertuanya ikut di dalam. Keduanya tak henti menahan tangis di samping tubuh kaku perempuan begitu sabar merawat suami dan anaknya selama ini.


Semua terlalu cepat dan hanya dalam hitungan jam saja, Arin sudah pergi untuk selama lamanya. Benturan yang mengakibatkan pecahnya pembuluh darah, menjadi pemicu cepatnya Arin pergi.


Tak akan ada lagi tawa Arin, takkan ada lagi senyum cantik juga tingkah manja yang biasa Ia lakukan pada Mama juga mertuanya. Takkan ada lagi panghilan Bunda dari Alka, juga kemanjaan serta kemesraan Arin dan Rafa yang selali membuat iri semua orang.

__ADS_1


Tak tahu bagaimna reaksi Rafa jika mengetahui semua hal ini, keluqrga begitu memahami bagaimana cinta Rafa pada istrinya. Terlebih kini Ia masih terbaring lemah tak berdaya hanya dengan suster mendampingi. Bagaimana cara keluarga menyampaikan juga tak snggup terpikirkan oleh mereka.


__ADS_2