
" Alex pernikahan bukanlah permainan yang bisa kamu minta kapan pun kamu mau dan kamu akhiri jika kamu bosan " tegas mami Alex ketika Alex dan Reta sudah tiba dan membahas permintaan Alex melalui ujung telfon tadi.
" Alex tahu mi, tapi bukankah mami bilang kalau hal baik itu dikerjakan lebih cepat akan jauh lebih baik ya " sahut Alex mengulang perkataan Mami nya ketika hari pertunangan.
" Oke, tapi gimana sama Reta, apa kamu setuju untuk cepat menikah dengan Alex sayang? " tanya Mami Alex mengarah pada Reta yang duduk di samping Alex.
" Reta terserah Alex sama orang tua saja mi " jawab Reta yang mencoba memahami maksud dari Alex dengan meminta percepatan pernikahan mereka.
Dengan menghela nafas panjang mami Alex menatap kedua remaja di hadapan nya.
" Oke, kita telfon orang tua kamu ya " seru mami Alex meraih ponsel di meja dan menyambungkan video call dengan mama Reta di luar negri.
Mami Alex mulai menjelaskan tujuan nya menghubungi mama Reta ketika ia mulai menerima panggilan tersebut. Dengan rinci ia menceritakan tentang keinginan Alex mempercepat untuk menikahi Reta dalam minggu ini yang sontak membuat orang tua Reta di sana membulatkan mata terkejut dengan keputusan Alex. Dengan penjelasan panjang lebar, orang tua Reta yang awal nya menolak karena ingin melihat Reta lulus lebih dulu akhir nya menyetujui pernikahan tersebut dan memutuskan kembali besok.
Dengan hati lega Alex melebarkan senyum karena akan bisa memiliki Reta sepenuhnya. Sedangkan Reta yang memang tak menginginkan hal tersebut hanya menyunggingkan senyum paksa.
Alex memutuskan untuk mengantar calon istri nya pulang karena ia harus menjemput Adi malam hari nya di bandara bersama Rafa.
" Lo kenapa sih? engga seneng? " tanya Alex di balik kemudi mengantar Reta kembali ke apartemen.
" Seneng " singkat Reta tanpa menatap ke arah Alex.
__ADS_1
" Lo terpaksa kan? "tanya Alex lagi merasa tak puas dengan jawaban Reta.
" Engga, udah cepetan gue ngantuk banget " pinta Reta yang tak ingin membahas lagi.
" Apa gue salah mau nikahin lo secepat nya? kalau lo engga suka ya udah kita tinggal balik ke rumah, kita bilang sama emak gue kalau lo engga setuju " tambah Alex sedikit jengkel dengan sikap Reta.
" Gue bilang engga masalah Lex gue seneng. Sekarang gue ngantuk, gue mau pulang " teriak Reta ke arah Alex yang terus saja tidak puas dengan jawabannya.
" Oke, engga usah teriak teriak gue engga budek " balas Alex jengah dan melajukan cepat kendaraan nya ke apartemen Reta sekalian menjemput Rafa untuk bersama pergi ke bandar nanti.
Reta yang tak menginginkan pernikahan tersebut mencoba berkompromi dengan hati nya agar mampu menerima keputusan yang telah di buat kedua keluarga. Perasaan tak ingin terikat dan menjalani rumah tangga yang ia sendiri tak tahu bagaimana cara membina rumah tangga membuat nya ingin marah marah apalagi ketika Alex mulai memojokkan diri nya dengan pernyataan pernyataan melalui pemikiran Alex sendiri.
Sampai nya di tempat parkir apartemen, Reta cepat membuka pintu mobil dan berjalan menuju lift meninggalkan Alex karena tak ingin jika Alex mulai membahas dan memojokkan dirinya yang di anggap Alex tak suka dengan pernikahan mereka karena ketidak siapan mental Reta.
" Ini yang paling engga gue suka dari cewek " gumam Alex pelan yang memang tak ingin ribet dengan urusan perempuan dan membuat nya tak pernah dekat dengan siapa pun.
Dengan menarik nafas kuat dan membuang nya kasar Alex mengangkat telfon dari Rafa yang berdering membuyarkan pikiran tentang Reta.
" Dimana lo? " tanya Rafa dari ujung telfon karena waktu tiba di apartemen ia sudah tak mendapati mobil Alex yang tadi siang sempat ia jumpai bersama Reta.
" Kangen lo sama gue? gue di parkiran habis ini naik. Sabar lo habis ini puas puasin peluk gue " sahut Alex mencoba bersikap seperti biasa.
__ADS_1
" Najis. Buruan gue tunggu " sahut Rafa yang ingin mencari teman main PS di rumah karena Arin yang tak bisa lagi menemaninya bermain seperti biasa semenjak perutnya membesar, ia tak pernah bisa duduk lama dan selalu berganti tempat untuk berjalan meregangkan pinggang.
Usai Rafa menutup telfon, Alex mulai turun dan melangkah menuju lift untuk menuju apartemen Rafa yang berbeda lantai dengan Reta. Sampai nya di depan pintu Rafa ia membuka sendiri pintu tersebut dan mulai memasuki apartemen yang ada Arin berjalan mondar mandir sembari memegangi pinggang nya di ruang tamu.
" Kenapa lo ndut? " tanya Alex heran melihat Arin.
" Pegel gue " singkat Arin memercingkan wajah menahan sakit pada punggung dan pinggang nya.
" Laki lo mana? bini bunting malah di tinggal " sahut Alex langsung menghampiri Arin.
" Ada masih mandi " jawab Arin masih dengan mondar mandir.
" Duduk lo, sini gue bantuin kaki lo udah bengkak gitu " ucap Alex memperhatikan kedua kaki Arin yang membengkak.
Alex memegang kedua pundak Arin dengan kedua telapak tangan nya untuk membatu Arin duduk di sofa lalu mengambilkan satu baskom air hangat untuk Arin merendam kaki bengkak nya. Dengan telaten Alex meletakkan kaki Arin kedalam baskom berisi air hangat dan merendam nya.
" Lo tuh jangan capek capek, udah gendut masih jalan jalan, kaki lo engga kuat nopang badan gede lo " seru Alex duduk di samping Arin yang tersenyum pada nya.
" Iya iya, makasih ya Alex ganteng " seru Arin mencubit gemas pipi Alex di samping nya.
Alex, Adi dan juga Rafa memang senantiasa menjaga dan melayani Arin semenjak ia keluar dari rumah sakit. Mereka tak pernah absen menemani Arin berjalan sore atau pun pagi jika memang tak ada kuliah, karena mereka bertiga berharap Arin dan bayi dalam kandungan nya selalu sehat dan aman sampai lahiran nanti.
__ADS_1
* Mohon dukungan nya buat author dan karya baru author yang judul nya "Cinta dalam Kebencian " terus dukung semua karya author dan like serta komen kalian sangat berharga buat author jadi jangan lupa like dan komen nya ya biar author semangat dan rajin up buat kalian. Terimakasih *