
Di rumah sakit yang hanya tinggal Arin dan Rafa yang mulai asik dengan laptop nya duduk di sebuah sofa rumah sakit mengerjakan tugas kuliah sementara menunggu Arin yang mulai di bersihkan tubuh nya oleh seorang perawat atas permintaan papa Arin karena yang takut untuk membantu Arin membersihkan badan usai kecelakaan yang di alami sang istri. Ia takut jika sampai membuat Arin merasakan sakit kembali ketika ia menggerakkan tubuh Arin ketika membersihkan nya.
Rafa dengan wajah cool nya terus menatap ke layar laptop dengan jemari yang menekan keyboard mengetik beberapa tugas nya.
" Ganteng ya mbak? " tanya Arin pada seorang perawat yang terus menatap ke arah Rafa sementara perawat lain nya membantu Arin membersihkan tubuh.
" Eh iya bu? " tanya perawat yang membawa beberapa obat serta cairan infus untuk di berikan pada Arin namun menunggu hingga si pasian selesai di bersihkan tubuh nya pura pura tak mengerti ucapan Arin.
" Itu mas yang ada di sana ganteng kan? " tanya Arin menjelaskan pertanyaan sebelum nya.
" Oh iya bu " jawab perawat tersebut tersenyum malu membuat Arin tersenyum.
" Maaf bu, bisa bantu saya memiringkan tubuh ibu? " tanya seorang perawat yang hendak membersihkan tubuh Arin.
" Yank! " teriak Arin memanggil Rafa yang dengan sigap ia meninggalkan laptop nya dan berlari ke arah ranjang Arin.
" Kenapa sayang? " tanya Rafa yang terkejut melihat tubuh Arin hanya terbalut handuk yang melintang menutupi dada sampai paha Arin.
" Bantu mbak nya nih, engga kuat angkat aku " seru Arin tersenyum menggoda perawat yang juga membalasnya dengan senyuman lebar.
" Berat memang dia mbak" seru Rafa tersenyum mulai membantu tubuh Arin untuk miring menghadap dirinya agar perawat bisa membersihkan bagian belakang tubuh Arin yang tak mengenakan apa pun kecuali handuk yang hanya di lebarkan saja.
Rafa yang masih berdiri di samping Arin takut jika ia membutuhkan bantuan lagi merasa canggung ketika perawat mulai membuka penutup tubuh Arin dan mulai mengenakan satu persatu pakaian Arin. Ia merasakan sedikit pergerakan pada bagian bawah nya dan bergumam dalam hati " Pas kaya gini ngapain lo bangun sih" gumam Rafa dalam hati lalu pamit untuk kembali mengerjakan tugas yang harus ia kirim ke teman kampus nya agar di satukan dengan kelompok.
Arin yang sangat hafal dengan semua ekspresi Rafa mengijinkan suami nya pergi dengan senyum tipis di wajah nya. Arin tahu jika Rafa tak pernah mampu menahan keinginan ketika melihat tubuhnya dalam keadaan terbuka.
__ADS_1
Usai merawat Arin dan perawat lainnya memberi obat serta mengganti cairan infus, mereka pun undur diri meninggalkan Arin dan Rafa di ruang tertutup rumah sakit.
" Sayang, ambilin minum dong " pinta Arin ke arah Rafa yang langsung berjalan ke arah nya membawa laptop memutuskan untuk mengerjakan di samping tempat tidur Arin agar istri nya tak perlu berteriak ketika membutuhkan sesuatu.
" Ini yank " seru Rafa sambil menyodorkan satu botol air mineral yang telah ia beri sedotan agar Arin lebih mudah untuk meminum.
" Adik kamu berontak lagi ya " goda Arin setelah meminum beberapa teguk Air membuat Rafa cengengesan.
" Wajar dong yank, kalau aku lihat kamu kaya tadi engga ada reaksi baru aneh kan " kilah Rafa yang masih merasakan sesak di bagian bawah.
" Mau? "goda Arin dengan tatapan menggoda.
" Mau yank, tapi engga bisa " jawab Rafa lesu yang malah di tertawakan Arin.
" Yank, lagi lagi nyiksa aku kamu ya " gerutu Rafa ketika Arin menghentikan ciuman nya.
" Kamu lucu sih yank kalau lagi nahan pengen " goda Arin tertawa melihat wajah Rafa frustasi.
" Kalau engga sakit udah habis kamu yank" gumam Rafa menatap wajah istrinya lekat.
" Cepet sembuh yank, aku udah kangen " tambah Rafa dengan rengekan nya.
" Iya sayang " jawab Arin tersenyum menatap wajah suami yang kian bertambah tampan.
" Ciuman boleh gak yank? perut kamu engga bakal sakit kan? " tanya Rafa yang sangat ingin mencium bibir merah menggoda Arin.
__ADS_1
" Yank " panggil Arin lembut ketika tangan suaminya mulai menari indah di atas tubuhnya.
" Sakit yank? " tanya Rafa masih mendekatkan wajah nya pada wajah Arin.
" Enak " goda Arin tersenyum menggigit tipis bibir bawah nya yang lalu Rafa melanjutkan kembali aktifitas nya.
Ciuman lembut yang saling mereka balas berubah sedikit memanas ketika Rafa mulai memainkan lagi tangan nya lembut membuat Arin merasa sedikit bergetar pada tubuh nya atas tingkah Rafa, yang membuat suaminya harus memindahkan tangan ke pinggang Arin menahan agar perut istrinya tak mulai bergerak.
" Gila lo bini sakit lo hajar juga " terdengar suara di dalam ruangan inap Arin memaksa Arin dan Rafa berhenti dengan tangan yang menarik selimut hingga menutupi dada Arin
" Sialan lo, masuk engga ketuk dulu" gumam Rafa ke arah Alex yang duduk dengan menaikkan kedua kaki nya ke atas sofa.
" Udah, lo aja yang ke asikan "seru Alex jengkel karena lagi lagi harus melihat kejadian seperti itu.
" Ngapain lo kesini? bukan nya lo nemenin Reta ya" tanya Rafa yang mulai duduk di samping Arin.
" Ngapain gue sama dia? due antar dia sampai apartemen habis itu gue balik lah ke rumah. Lo engga lihat nih gue udah ganteng wangi gini? " seru Alex menunjukkan baju yang baru ia ganti.
" Gue pikir lo sama dia soalnya baru jadian " sahut Rafa yang mengira jika Alex telah jadian dengan Reta semalam.
" Engga gue, pikiran lo aja kejauhan " kilah Alex yang memang menutupi kedekatannya mereka atas keinginan Reta.
" Kirain doang, habis nya lo kelihatan nya ngebet banget sama tuh anak gue pikir ya udah lo speak speak semalam " jawab Rafa mulai menghadap laptop di samping Arin yang hanya menyimak saja pembicaraan dua sahabat di ruangan nya.
__ADS_1