
Setelah selesai pembicaraan dan memutuskan pernikahan, semua di persilahkan untuk menikmati jamuan yang sudah di sediakan. Adi perlahan dengan mengendap mencoba mendekati Yessy yang berdiri sendirian di dekat pintu ruang tamu menjaga keponakannya bermain di teras rumah.
" Ngapain ?" lirih Adi sudah berdiri di dekat Yessy menyisakan ruang di antara mereka berdua.
" Itu lagi jagain Levi " sahut Yessy lembut menunjuk keponakannya yang tengah asik dengan bola di luar rumah.
" Calon Ibu yang baik " goda Adi tersenyum, di balas senyuman oleh Yessy dengan di perhatikan oleh lainnya tanpa mereka berdua ketahui.
" Cantik banget Lo malam ini, gue sampai engga kenal sama Lo tadi " kembali Adi menggoda sambil malu malu.
" Muka Lo kenapa jadi kaya gitu sih Di ? kaya ABG lagi kasmaran aja " senyum Yessy melihat wajah malu malu Adi, dan cepat di rubahnya tegas.
" Enak aja Lo bilangin Gue ABG, gini gini calon Bapak dari anak Lo " celetuk Adi, menggelengkan kepala yessy sambil tersenyum lalu mengarahkan pandangan pada bocah kecil berusia tiga tahun di depan rumah.
" Duh geram banget Gue sama Lo, pengen banget Gue peluk " tambah Adi malah cepat Yessy menjauhkan tubuhnya.
" Lo jangan macam macam Di, Gue panggil Ayah nih " tersenyum Yessy menakut nakuti calon suaminya.
" Lo mah kalau udah nikah jangan dikit dikit ngadu sama Ayah kali, yang ada jandi janda Lo " lirih Adi memelas.
Lagi lagi Yessy hanya membalas dengan senyuman akan ucapan juga segala ekspresi Adi. Keduanya memang sama sama tak pernah merasakan apa itu berpelukan ataupun lebih dari itu, karena memang sama sama tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun sebelumnya.
Kebahagiaan tersirat jelas dalam ukiran wajah Yessy ataupun Adi, walau sama sama memendam perasaan gugup dalam diri mereka masing masing. Apalagi Yessy yang tak pernah menyangka akan menikah muda dengan laki laki yang baru dekat dengannya. Namun Yessy meyakini jika Adi pilihan terbaik untuk hidupnya.
****
Esok hari, Yessy bersama Ibu juga Mama Adi pergi ke sebuah toko perhiasan bersama dengan Adi juga. Ketiganya menjemput Adi di kantor, karena sengaja Adi tak membawa kendaraan. Sedangkan Papa Adi juga Ayah Yessy mulai mencari cari gedung untuk mereka mengadakan pernikahan anak mereka.
__ADS_1
Meeting seharusnya di jalankan bersama Alex juga Rafa di luar kantor, terpaksa tak bisa diikuti oleh Adi yang sudah mendapat ijin Papa Rafa untuk pulang lebih dulu dan mempersiapkan pernikahan.
Begitu sudah bertemu dengan Adi yang menunggu di depan kantor usai mengantar dua sahabatnya keluar bertemu klien, Mama Rafa langsung meminta putranya menggantikan mengemudi dengan Yessy di samping kemudi. Sebelum memacu kendaraan, tak lupa laki laki dengan setelan jas navy tersebut memberikan salam pada calon mertuanya, juga melempar senyum pada gadis sudah lebih dulu tersenyum ke arahnya di samping jok kemudi.
" Kemana Ma ?" tanya Adi sudah mengendarai mobil keluar dari lingkungan kantor Papa Rafa.
" Toko perhiasan yang tadi Mama omongin dulu deh Di, habis itu baru ke butik ya " jawab wanita sudah duduk di baris kedua mobilnya itu.
"Makan dulu ya Ma, Aku lapar banget dari siang belum makan " pinta Adi yang hanya menikmati sarapan roti dengan susu saja.
" Kok belum makan ? ini udah sore kali Di, emang Lo engga ada istirahat ?" tanya Yessy, membuat kedua Ibu di belakang melempar senyum dan saling tatap mendengar perhatian gadis yang menatap calon suaminya.
" Engga istirahat Gue, tadi dari kampus langsung kerjain bahan meeting sama klien jadi engga sempat makan " jelas Adi melajukan kendaraan ke sebuah warung lesehan dekat kantor tempatnya dan dua sahabatnya biasa beristirahat bersama.
" Kok masih Lo Gue ? kan udah mau jadi suami istri ? kaya Rafa sama Arin dong panggilnya sayang " goda Mama Adi di belakang, membuat malu keduanya.
" Tapi bener juga loh, kan Kalian udah mau nikah jadi harus punya panggilan sayang sendiri " tambah Bunda Yessy menggoda.
" Bunda...." seru Yessy malu malu.
Adi dan Yessy saling melirik akan godaan kedua wanita yang masing saling tersenyum di belakang. Tak mau terburu buru dengan panggilan sayang, namun keduanya juga mulai terpikir akan godaan Ibu mereka berdua yang dinilai ada benarnya.
Sampainya di warung lesehan bergaya kuno tersebut, Adi membantu Mama juga mertuanya turun. Lebih dulu Adi berjalan masuk dan mengambil menu yang di berikan pelayan, memilih tempat di dekat kolam tempat biasa dirinya bersama Alex dan Rafa duduk. Suara gemericik air dari air terjun buatan dekat kolam itu, mampu menenangkan pikiran ketiga sahabat yang telah terpenuhi dengan banyak pekerjaan kantor.Untuk itu lah mereka selalu makan di tempat lesehan bergaya kuno dengan sentuhan alam tersebut.
Keempatnya mulai memesan makanan dan berbincang untuk menunggu hingga makanan mereka tiba. Keempatnya memulai pembicaraan ringan tentang watak Adi juga yessy masing masing yang di ceritakan oleh Ibu mereka berdua, agar sama sama saling memahami.
" Yessy mau tinggal sama Mama kan kalau udah menikah? Papa Adi kan kerja di luar negri, jadi biar Mama ada temannya " tulus Mama Adi pada calon menantunya yang mengangguk tersenyum di samping Adi.
__ADS_1
" Iya Ma, Yessy mau " sopan Yessy tersenyum, melegakan hati Adi.
" Bentar Ma, Rafa " pamit Adi menunjukkan panggilan masuk dari Rafa dan diijinkan untuk mengangkat.
" Adi selalu sibuk Ma ?" tanya Yessy usai calon suaminya pergi menjawab panggilan dari Rafa yang ingin menanyakan tentang pekerjaan.
" Kadang sibuk, kadang juga engga nak. Tapi Dia juga sering keluar Kota kalau ada proyek di luar " jelas lembut Mama Adi.
" Sama kaya Rafa juga Alex ya Ma ?" tanya Yessy sering bertanya pada Arin ketika teman barunya itu tak di antar oleh suaminya.
" Iya, mereka satu tim nak. Adi sama Alex engga mau dikirim ke perusahaan keluarga di luar dan milih buat jadi pegawai aja di perusahaan Papa Rafa. Mama harap kesibukan Adi engga jadi masalah buat kalian ya ' lembut kembali Mama Adi tak ingin kejadian Alex juga menimpa putranya.
" Yessy ngerti kok Ma, dan akan berusaha menjadi istri juga menantu yang baik nanti " tulus Yessy mengembangkan senyum bangga Bundanya.
" Terimakasih sayang " tulus Mama Adi memegang tangan calon menantunya yang memiliki sifat lemah lembut.
Adi sendiri baru menyadari jika Yessy adalah seseorang dengan kelembutan hati sama seperti Arin, dan makin mengagumi calon istrinya itu. Meski mencoba menepis kemiripan keduanya, namun semakin Adi mengenal Yessy, makin terlihat banyak kemiripan antara Yessy juga Arin yang tak mau menjadi bayang bayang dalam kehidupannya. Sudah dapat di pastikan jika kini Adi sudah melepaskan sepenuhnya perasaan pada Arin, dan ingin bahagia menjalin pernikahan layaknya Arin juga Rafa.
Usai menerima telpon, laki laki sudah melepas jas kerja ketika turun dari mobil itu, menghampiri ketiganya bersamaan dengan makanan yang datang. Langsung saja mereka menikmati ayam bakar kesukaan Yessy yang sengaja di pesan oleh Adi. Di sela makan mereka, tak malu Adi juga Yessy saling meluapkan perhatian mereka bersama. Walau hanya sekedar mengambilkan makan ataupun minum saja, namun cukup membuat kedua wanita yang terus memperhatikan itu merasa bahagia akan kedekatan keduanya.
Hampir dua jam berada di tempat makan, keempatnya langsung menuju toko perhiasan setelah memastikan perut mereka lega. Cincin pasangan yang sudah di pesan Mama Adi jauh jauh hari hanya tinggal di ambil saja, dengan menambahkan sedikit perhiasan untuk mas kawin putranya nanti.
Adi sengaja membiayai sendiri segala kebutuhan pernikahannya dengan uang gaji yang tak pernah Ia ambil sama sekali selama ini. Ia ingin seperti Rafa yang bertanggung jawab akan semua biaya, meski dulu Rafa di biayai keluarga untuk pernikahan, namun Ayah satu anak itu sudah mengembalikan penuh segalanya meski awalnya mendapat penolakan orang tua nya. Tapi Rafa berhasil meyakinkan untuk bisa bertanggung jawab akan sedmua biaya hidup, meski harus mengganti semua biaya pernikahan juga resepsinya, hingga hanya bisa di terima oleh orang tuanya.
Walaupun menerima uang dari Rafa, kedua orang tuanya sengaja menyimpan sendiri uang putranya tersebut untuk di gunakan keperluan Alka nanti dan di anggap sebagai tabungan putranya. Karena memang menikahkan putranya di anggap sebagai tanggung jawab mereka, sama halnya dengan orang tua Adi. Namun kedua orang tua mereka tak menolak niat baik putra mereka dan mendukung penuh.
Sebuah butik sudah di masukki bersama keempatnya untuk mencoba kebaya yang akan di gunakan Yessy ketika akd pernikahan. Adi sengaja diminta menunggu di luar, ketika ketiganya masuk melihat kebaya Yessy, agar nanti menjadi sebuah kejutan untuk Adi. Segala persiapan benar benar matang di buat oleh kedua keluarga yang berniat memingit kedua calon mempelai tersebut satu minggu sebelum hari pernikahan. Sengaja mereka buat lama agar keduanya bisa saling merindukan dengan lebih.
__ADS_1