SWEET MARRIAGE

SWEET MARRIAGE
BAB 77


__ADS_3

Satu minggu berlalu dengan pikiran Rafa yang masih saja terus tertuju pada Arin dan Adi. Arin yang tak tega melihat suaminya begitu murung mengajak untuk pergi jalan jalan sambil mengunjungi mama mertuanya di rumah Rafa.


Dalam perjalanan, Rafa masih saja tak banyak bicara seperti hari hari sebelumnya yang sellu menggoda Arin dan anak dalam kandungan nya.


" Yank, kamu sebenarnya mikirin apa sih? aku engga suka lihat kamu kaya gini " ucap Arin lembut dengan menatap lekat Rafa yang tengah mengemudi.


" Engga ada sayang, aku cuma bingung gimana nanti kalau kamu lahiran aku harus apa " kilah Rafa yang memang tak ingin membuat Arin khawatir dan tahu sebnarnya.


" Sayang, yang lahiran kan aku bukan kamu kok kamu yang mikir sih " sahut Arin tersenyum.


" Aku kan suami kamu yank, wajar aku mikirin istri aku yang gendut " sahut Rafa tersenyum ke arah Arin sambil mencubit gemas pipi Arin.


" Sayang kamu " ucap Arin meraih tangan Rafa dan meletakkan pada perut nya yang terasa sedikit mulas namun tak memberitahu Rafa karena memang Ia lebih sering merasakan mulas seperti ini.


" Sayang nya Ayah lagi apa kok geraj gerak terus? " ucap Raf memegangi oerut Arin dengan gerakan aktif janin di dalamnya.


" Dia tahu Ayah nya lagi banyak mikir takut cepet tua makanya di marahin tuh kamu" seru Arin sekenanya.


" Ayah kan mikirin kamu sayang, kamu yang sehat ya Ayah udah engga sabar mau main bareng kamu " sahut Rafa tersenyum dengan terus mengusao perut Arin.


Rafa dan Arin memasuki halaman rumah mama Rafa dan bergegas untuk turun di bantu oleh mertuanya yang menunggu Arin dan membukakan pintu mobil untuk menantu kesayangan nya.


" Udah turun banget nak perut nya " seru mama Rafa melihat perut Arin lalu mengusapnya lembug.


" Iya ma kurang satu minggu lagi. Mama masak apa? Arin lapar " ucao Arin cengengesan dan di bawa mama nya ke dalam untuk menyiapkan makan menantunya.


Rafa menyusul Arin yang di tuntun oleh mama nya dengan hati hati menuju ke dalam rumah dan duduk di mini bar rumah Rafa bersama istrinya sementara mama Rafa menyiapkan makanan untuk Arin dan Rafa. Melihat Arin mengernyitkan alis, membuat Rafa khawatir dan turun dari duduknya berdiri di samoing Arin sambil memegang perut istri nya.

__ADS_1


" Kamu kenapa sayang? " tanya Rafa khawatir melihat Arin mengernyitkan alis dan mengatur nafas.


" Sakiy yank " seru Arin lirih makir membuat Rafa khawatir dan berteriak memanggil mama nya.


Mama Rafa segera menghamoiri Arin dan Rafa yang masih duduk di mini bar dengan mereka memegang perut Arin yang besar membuat mama Rafa begitu khawatir.


" Kenapa nak? " tanya mertuanya khawatir melihat Arin dan berdiri di dekat menantu yang terus memegangi perut nya.


" Sakit ma " seru Arin lirih dengan mengatur nafas serta memejamkan matanya.


" Rafa kita ke rumah sakit sekarang, kaya nya Arin mau melahirkan " seru mama Rafa semakin membuat anak nya cemas dan khawatir.


" Apa? " teriak Rafa terkejut dan dipukul pundak nya oleh mama nya.


" Berisik, kasihan anak kamu di dalam kaget denger kami " seru mama Rafa.


Mama Rafa berteriak memanggil supir agar mengantar meteka ke rumah sakit begitu melihat ketuban menantunya pecah. Dengan perlahan Rafa membantu Arin memasuki mobil lalu duduk di samping istri nya.


Selama perjalanan Rafa terus saja cemas dengan detak jantung tak beraturan.


" Sakit yank " rintih Arin menggenggam kuat pergelangan tangan Rafa.


" Iya sayanh, sebentar lagi kita sampai ya " seru Rafa lalu meminta supir mamanya lebih cepat mengemudi karena takut anak nya akan segera lahir.


" Atur nafas nak " setu mama Rafa dengan mengajari Arin mengatur nafas nya sementara Rafa yang masih saja cemas dan gugup.


Arin terus merintih kesakitan dan semakin menggenggam kuat pergelangan tangan Rafa membuat suaminya semakin khawatir dan tak tega melihat Arin begitu tersiksa.

__ADS_1


Sampainya di rumah sakit, Arin langsung dibawa perawat ke ruang persalinan untuk mengecek bukaan yang ada dengan Arin tak ingin melepaskan tangan suaminya hingga masuk kedalam. Dokter yang di pilih mama Rafa memasuki ruang bersalin dan memeriksa kondisi Arin yang terus merintih kesakitan tanpa melepas tangan Rafa yang tak tega melihat istri nya seoerti itu.


" Kita tunggu saja ya, ini baru bukaan 6 " ucap Dokter usai memeriksa Arin.


Dokter menyarankan Arin agar berjalan di sekitar tempat tidur untuk memoercepat proses pembukaan. Rafa yang masih dengan setia merelakan tangan hingga terluka karena genggaman kuat dari istrinya menahan rasa sakit terus menemani Arin untuk berjalan dengan pelan mondar mandi di sekitar tempat tidur rumah sakit. Meski dengan perasaan tak tega melihat istri nya Rafa mencoba kuat dengan memberi Arin semangat.


" Sakit banget yank, aku engga kuat " rintih Arin lirih dengan melinangkan air mata semakin membuat Rafa tak tega.


" Kamu kuat sayang, Kamu harus kuat " seru Rafa melingkarkan tangan di pundak Arin dengan tangan kiri yang di pegang Arin kuat membantunya terus berjalan.


Batin Rafa terus memanjatkan doa agar anak dan istri nya sehat juga selamat. Arin menghentikan langkahnya dan memegang kuat ujung tempat tidur merasakan dorongan begitu kuat dari anak nya di dalam perut.


Perawat meminta Arin untuk naik ke atas ranjang dengan bantuan Rafa juga perawat di sana. Dokter yang telah kembali menghampiri Arin memeriksa kembali bukaan Arin dan ternyata sudah waktunya untuk melahirkan.


Dengan aba aba dari dokter Arin mengatur nafas dan mengejan sesuai dengan perintah dokter. Suami yang masih setia menjadi pegangan Arin selama proses persalinan tak kuasa melihat perjuangan istrinya begitu luar biasa hanya untuk mengeluarkan buah hati mereka. Air mata yang melinang di wajah cemas Rafa mengiringi doa yang terus Ia ucapkan dalam hati.


" Ayo terus bu, terus " terdengar ucaoan Dokter dengan begitu sabar membantu persalinan Arin.


Arin mengeluarkan semua tenaga nya untuk mengejan dengan terus menggenggam kuat telapak rangan Rafa yang setia di samping nya.


" Sayang " seru Rafa tak tega melihat perjuangan Arin dengan mengurai air mata.


Tenaga yang seakan hanya tinggal sedikit saja dari tubuh Arin, terus Ia kerahkan demi buah hatinya hingga terdengar suara tangusan bayi yang begitu keras melegakan hati Rafa dan Arin yang terkulai lemas di atas ranjang persalinan.


" Terimakasih sayang " ucao Ratmfa mendekatkan wajahnya dan mencium kening Arin yang tersenyum bahagia meski dengan air mata harus yang keluar dan tenaga telah terkuras habis.


" Selamat ya bu, anak nya laki laki dan sehat " ucap perawat yang membawa bayi masih terdapat darah ke arah Arin dan Rafa semakin mebuat kedua orangtua baru itu menitikan air mata bahagia bercampur haru melihat bayi mungil yang masih sangat merah menangis dengan begitu indah terdengar di telinga Arin dan Rafa.

__ADS_1


" Anak kita sayang " seru Rafa bahagia bercampur haru yang di angguki oleh Arin dengan senyumnya.


__ADS_2