
Pagi hari sekitar pukul 08.00, Arin menghampiri Yessi di tempat Adi. Ia melihat Adi tengah mencuci mobil di halaman rumah, dan menghampiri laki laki dengan bokser serta kaos oblong itu.
" Lah, Lo kok di rumah? bukannya di luar Kota ya? " tegur Arin sembari memarkirkan motor.
" Pulang dulu Gue, Lo ngapain? nyari Gue apa bini Gue? " tanya Adi berdiri di hadapan Arin.
" Oh, Gue nyari Yessi mau antar tas nya kemarin kebawa sama Gue, ada HP Dia juga katanya. Mana bini Lo? " jawab Arin membawa tas samping kecil berwarna hitam.
" Repot amat Lo, tinggal panggil Gue doang entar Gue ambil di tempat Lo kan bisa, bini Gue lagi mandi Lo masuk aja" sahut Adi, di balas senyuman Arin.
" Gue nitip Lo deh Di, masih mau pergi ke rumah temen Gue mumpung Alka sama nyokap " jawab Arin menyerahkan tas pada Adi.
" Gue anterin aja dari pada Lo naik motor sendiri bahaya tahu gak? cewek naik motor sendiri gimana ceritanya Lo?" jawab Adi sembari meraih tas istrinya, di jawab gelengan juga senyum oleh Arin.
" Engga usah, salam ke nyokap sama Yessi ya " senyum Arin melangkah menuju motor matic miliknya.
" Keras kepala banget sih Lo?! Gue bilangin laki Lo rasain entar " ucap Adi menahan motor Arin.
" Laki Gue udah tahu kalau Gue mau pergi, Gue udah telpon Dia tadi. Udah Gue balik dulu keburu siang " sahut Arin menyalakan mesin motornya.
" Awas Lo sampai kenapa kenapa di jalan! " ucap tegas Adi, hanya dijawab tangan seperti hormat oleh Arin sembari tersenyum lebar.
Terus melihat Arin hingga keluar pagar rumah, Adi masih khawatir dan berharap sahabatnya itu selamat hingga kembali ke rumah.
Adi menghentikan sejenak kegiatannya mencuci kendaraan, dan meletakkan tas milik istrinya di kamar. Yessy yang hendak turun, berpapasan dengan Adi yang tengah membawa tas di tangan, lalu di raih oleh Yessi tersenyum senang.
" Arin kesini? mana? " tanya Yessi tersenyum mengambil tas dari tangan laki laki berdiri di anak tangga tersebut.
" Lo kalau bawa barang tuh pulangnya di cek, jangan suka repotin orang kan engga enak. Lagian Arin kan harus urus Alka di rumah " ucap Adi menatap wajah segar istrinya.
" Iya maaf, kemarin habis latihan Aku lupa soalnya buru buru pulang " jelas Yessi.
" Tas sendiri bisa lupa, gimana ceritanya Lo? kalau hidung Lo kagak nempel juga bakal lupa gitu? heran Gue " ucap Adi menggelengkan kepala.
" Namanya orang lupa gimana sih Di? kok malah marah marah gitu? kemarin Mama telpon Aku suruh pulang cepat, terus ya udah Aku ganti baju terus pergi lupa kalau tasnya masih di kursi " jelas Yessi panjang lebar melihat wajah kesal Adi.
" Ah tau deh terserah Lo, Gue mau lanjut nyuci mobil " pungkas Adi dan kembali menuruni anak tangga.
Yessi melihat kepergian laki laki yang semalam begitu manis padanya, namun berubah drastis menjadi jengkel hanya karena Ia melupakan tas di tempat latihan yang tak di mengerti oleh Yessi.
Adi sendiri tak memahami mengapa dirinya begitu kesal, mengetahui Yessi melupakan barang pribadinya hingga membuat Arin datang jauh jauh untuk mengantar.
Yessi sendiri memang meminta tolong pada Arin untuk mengantarkan tasnya, karena hari ini Adi di rumah dan tak ingin keluar setelah malam bersama mereka lalui. Dengan tetap bertanya tanya. Yessi kembali ke dalam kamar dan meletakkan tasnya, lalu menghubungi Arin untuk mengucapkan terimakasih melalui pesan chat.
Di bawah, Adi melanjutkan kembali mencuci kendaraannya sambil mendengarkan musik melalui earphone. Yessi menghampiri dengan membawakan suaminya teh, dan berdiri di dekat tubuh laki laki tengah memegang selang air tersebut untuk memberitahu. Tapi lagi lagi Adi yang terkejut, mengubah cepat wajahnya menjadi kesal lalu melepas keras earphone pada telinganya.
" Kamu kenapa sih Di pengen banget marah marah? tadi pagi masih baik aja " tanya Yessi tak mengerti.
" Gue cuma engga suka Lo repotin orang buat keperluan Lo, apalagi itu Arin. Lo tau kan Dia harus jaga Alka sendirian di rumah soalnya Rafa di luar Kota? engga kasihan Lo? " jawab Adi seraya bertanya dengan nada kesalnya.
__ADS_1
" Ya Aku minta maaf Di, Aku juga nanya dulu ke Arin sebelum minta tolong dan Dia bilang mau ke rumah Mamanya pagi ini, jadi sekalian Aku minta tolong bawain tas. Lagipula Dia juga mau DO ke daerah sini, di rumah temannya " jelas Yessi panjang lebar dengan wajah bersalah.
" DO? maksud Lo? " terkejut Adi membulatkan mata.
" Arin kan sekarang jualan online, jadi Dia sering DO buat antar barang yang dekat dekat " jelas Yessi membuat Adi terkejut tak percaya.
" Kenapa? bokap nya tajir, Rafa juga gajinya banyak, mereka punya bisnis kuliner juga " tak mengerti Adi.
" Engga tau Di, Aku cuma tau Dia sekarang jualan on line aja. Alasannya apa juga Aku engga tau " jawab Yessi kembali menjelaskan.
" Teh nya Aku taruh di meja, keburu dingin mending di minum dulu " tambah kembali Yessi.
" Iya makasih, Lo masuk aja Gue mau lanjut ini dulu " jawab Adi tersenyum.
" Kamu suka sama Arin? " tanya Yessi tiba tiba.
" Engga usah ngaco deh Lo, Dia sahabat Gue wajar Gue kaget Dia kerja soalnya punya anak kecil " jawab Adi melanjutkan kembali membersihkan kendaraannya.
" Aku engga tahu gimana hubungan kalian berempat, tapi kalau emang Kamu ada rasa sama Arin lebih baik dihilangkan karena Dia istri sahabat Kamu sendiri Di. Lagian Kita juga udah nikah, jadi kalau bisa jangan punya perasaan sama perempuan lain " panjang lebar Yessi, makin membuat Adi kesal dengan membuang napasnya kasar.
" Gue udah bilang kalau Gue sayang sama Lo, cinta sama Lo, dan Kita juga baru kemarin lakuin hubungan itu, terus sekarang Lo udah curiga sama Gue? Gue ngapain sih? nanya gitu doang emang artinya Gue suka gitu? Gue juga perhatian sama Rafa sama Alex, terus Lo mau bilang kalau Gue juga suka gitu sama mereka? Gue punya perasaan khusus gitu? Gue emang suka tapi sebagai sahabat Gue engga lebih dari itu! " kesal Adi panjang lebar setengah berteriak dan terdengar Mamanya yang baru keluar rumah.
" Ini apa apaan sih Adi kok berantem kaya gini? ada apa? kalian baru aja nikah kok udah kaya gini sih? " tegur wanita sudah rapi hendak pergi arisan tersebut menghampiri.
" Tau ah Ma, tanya aja sama Dia nih. Lama lama kaya Reta tau gak, curiga ngajak berantem, bikin kesel orang aja. Engga tau apa Aku lagi capek gini " sahut kesal Adi menghentikan kegiatannya dan berlalu pergi masuk ke dalam rumah.
" Maafin Adi ya nak, Dia kalau lagi capek memang suka uring uringan engga jelas. Tapi biasanya cuma sebentar kok " lembut Mama Adi membelai rambut menantunya.
" Ya udah Mama keluar dulu ya, Kamu masuk gih bujuk Adi " lembut kembali Mama Adi.
" Iya Ma, hati hati " sahut Yessi tersenyum.
Yessi menunggu hingga mertuanya pergi lebih dulu sebelum kembali ke dalam rumah untuk menemu Adi. Melihat kekesalan Adi untuk pertama kalinya, Yessi merasa tak enak dan bersalah telah melontarkan pertanyaan juga pernyataan tak pantas pada suaminya.
Yessi kembali masuk dan langsung menuju kamar untuk meminta maaf pada Adi. Dilihatnya Adi berdiri di depan almari tengah mencari pakaian, dan dipeluknya dari belakang laki laki sudah melepas kaos hendak mandi itu.
" Maafin Aku Di, kalau emang ada salah ngomong sama Kamu. Aku cuma engga mau kehilangan Kamu aja " tulus Yessi memeluk suaminya dari belakang.
" Gue bau, Gue mau mandi " sahut Adi masih jengkel mengingat perkataan istrinya.
" Engga mau, sebelum Kamu maafin Aku " tetap Yessi memeluk dan di lepaskan oleh Adi tangan di atas perutnya itu, berbalik lalu memeluk gadis dengan wajah bersalah itu.
" Gue juga minta maaf udah bentak Lo kaya tadi, mereka bertiga sahabat Gue dari dulu dan Gue engga suka Lo ngomong macem macem soal hubungan Kami " tulus Adi panjang lebar.
" Iya, maafin Aku Di. Kita jangan berantem lagi ya " tulus Yessi masih dalam pelukan Adi.
" Iya, ya udah Gue mandi dulu " jawab Adi melepaskan pelukannya.
Yessi tersenyum dan mengangguk menyetujui ucapan suaminya. Adi sendiri masih tetap tidak bisa memahami dirinya sendiri. Ia terus mencoba melupakan perasaannya pada Arin, namun semakin keras Ia mencoba ternyata perasaan itu semakin menyiksa.
__ADS_1
Bahkan demi bisa melupakan perasaan terhadap Arin, selepas menikah Adi tak pernah sekalipun bertemu dengan gadis sudah Ia cintai dari kelas 1 SMA itu. Batinnya sungguh tersiksa akan perasaan terlalu dalam yang ingin Ia lepaskan.
Tak mau menyakiti Yessi akan perasaan belum bisa sepenuhnya mencintai, Adi masih belum jujur pada istrinya dan berencana menutup rapat semua hingga dirinya tiada kelak.
Dalam kamar mandi, Adi tak langsung mandi dan lebih dulu duduk di sisi bath up sembari mengisi air. Pikirannya melambung jauh akan Arin yang kembali mengisi benaknya seperti hari hari sebelumnya. Merasa bersalah pada istrinya sendiri akan perasaan kembali timbul, ketika melihat Arin hari ini.
" Gue udah coba lupain Lo, tapi kenapa Lo muncul lagi sih?! Gue engga mau kesiksa kaya gini terus! Gue cuma minta Lo bahagia biar Gue juga bahagia Rin, bukan lihat Lo kerja kaya gini! " batin Adi melamun melihat bayangan Arin terlalu jelas dalam pikirannya.
" Gue engga boleh kaya gini, Gue udah nikah dan Dia juga istri sahabat Gue. Sampai kapan Gue mau punya perasaan kaya gini? emang berat, tapi Gue harus bisa lupain Lo! " tambah kembali batin Adi.
Mencintai seseorang terlalu tulus hingga bertahun tahun, memang tak semudah membalikkan telapak tangan ketika ingin melupakan. Bayangannya selalu saja hadir, ketika semakin kuat berusaha untuk membuangnya. Senyum itu terasa semakin indah dan menyiksa bagi Adi saat mengingat kembali Arin.
Mencoba menghindar, namun ternyata percuma karena perasaan itu tumbuh lagi hanya dengan pertemuan sekilas. Ingin bisa mencintai Yessi saja dalam hidupnya, tapi ternyata tak bisa mudah untuk dilakukannya.
Ketika Adi tengah mandi, dering ponsel dari Alex di angkat oleh Yessi yang masih menunggu di dalam kamar. Walaupun ragu ragu untuk menjawab, namun panggilan berulang dari Alex memaksanya mengangkat juga panggilan telpon di ponsel tepat berada di atas meja kamar tersebut.
" Eh bocah, Lo pecah kendi berapa kali samapi kagak balas pesan Gue satupun?! Gue nungguin laporan Lo nih, buruan kirim " celetuk langsung Alex ketika telpon sudah terhubung.
" Maaf Lex, ini Yessi. Adi nya lagi mandi barusan masuk " jawab Yessi, mengejutkan Alex di ujung telpon.
" Eh, sorry sorry Gue kagak tahu kalau Lo yang angkat. Bilangin aja sama Adi suruh buka email yang Gue kirim lewat pesan ya, udah di tungguin buat ketemu klien sore ini soalnya " jawab Alex masih terkejut mendengar suara Yessi.
" Iya entar Gue sampein ya kalau Adi udah keluar " sahut Yessi pada orang di ujung telpon tengah memukul mukul punggung Rafa.
" Iya deh, makasih ya " pungkas Alex langsung menutup panggilan cepat.
Di kamar hotel, Rafa masih mengerjakan laporan pada laptop di atas tempat tidur itu protes ketika tak henti Alex memukul punggungnya.
" Sakit Gue! Lo kira Gue samsak apa Lo pukul pukul seenak jidat Lo! " protes Rafa menatap Alex di sampingnya.
" Lah Gue asal ngomong aja pecah kendi, taunya yang angkat bini nya Adi. Ngerti kagak ya Dia maksud Gue? ah jadi kagak enak nih Gue " sahut Alex merasa bodoh.
" Makanya kalai telpon orang udah nikah tuh dengerin dulu suaranya, baru ngomong. Lah Lo udah kaya kompor aja " celetuk Rafa.
" Ah Gue kagak enak, sumpah. Kalau Arin mah Gue santai biar mau ngomong apa aja, la nih bininya Adi, Gue kagak kenal banget tuh anak gimana jadinya Gue engga enak sekarang " jawab Alex panjang lebar pada sahabatnya yang sudah kembali memusatkan perhatiaan pada pekerjaan.
" Lo biasa aja kalau bini Gue, orang Lo berdua sama aja" gumam lirih Rafa.
" Gue jadi kangen bini Lo, telpon gih Gue mau lihat Alka juga buat semangat pagi Gue " ucap Alex memukul lirih pundak Rafa.
" Kagak ada bini Gue lagi DO sama antar tas bininya Adi, si Alka lagi di rumah mertua Gue " jelas Rafa, membulatkan mata Alex.
" Bini Lo ke rumah Adi? " terkejut Alex tahu jika Adi berusaha menghindar bertemu dengan Arin, ingin mencoba menjalin rumah tangga tanpa bayang bayang perasaan pada Arin lagi.
" Lah iya orang si Yessi tinggal di sana, lagian Dia DO juga dekat dekat tempat Adi tinggal " jawab Rafa.
" Tega banget sih Lo, bini Lo kerja kaya gitu? harusnya ya bini tuh udah urus anak ama suami aja kagak usah kerja, lah ini bini malah di suruh kerja, gaji Lo kurang? " celoteh Alex melihat ke arah Rafa.
" Biarin sih, bini Gue biar kagak stres di rumah diam aja cuma sama Alka pas Gue engga ada, makanya Gue ijinin. Lagian bini Gue engga tiap hari DO. Dia biasanya cuma kerja di rumah jual barang doang kagak usah keluar, paket juga di ambil di rumah. Yang penting kagak lalai sama kewajiban jadi istri sama Bunda aja, Gue dukung " jelas Rafa panjang lebar.
__ADS_1
" Kalau Gue sih bini Gue cuma ngurusin Gue sama anak doang, kagak kaya Lo serakah. Udah kerja, bokap sama mertua tajir, usah kuliner lima cabang, eh bini masih kerja aja " sahut Alex, di balas senyuman daja oleh Rafa sambil mengerjakan pekerjaannya.