
Arin yang masih menyusui Alka karena anaknya belum cukup puas minum, membiarkan Rafa yang mengenakan jas hitamnya sebelum beranjak pergi karena sudah ditunggu di kantor.
" Aku berangkat dulu " jengah Rafa ke arah Arin yang menatap suaminya aneh sambil membuang napas kasar.
" Kalau mau kerja jangan marah marah yank, pamali " seru Arin menahan suaminya pergi dengan memegangi tangan Rafa.
" Tunggu Alka dulu ya, Dia udah ngantuk ini " seru Arin melihat mata anaknya mulai sayu.
" Engga usah " sahut Rafa jengkel dan mencium Alka berlalu pergi meninggalkan Arin yang masih menyusui Alka dengan berulang membuang napas kasar karena tingkah suaminya.
Rafa dengan cepat turun yang sudah ada mertuanya menunggu di meja makan.
" Fa, sarapan dulu nak " tegur mama Arin melihat menantunya berjalan cepat seraya berlari ke arah depan.
" Udah kesiangan Ma " jawab Rafa menghampiri kedua merua yang berada di meja makan.
" Ya udah minum susu aja jangan kosong perutnya " pinta mama Arin berdiri meraih satu gelas susu putih hangta dan diberikan kepada menantunya.
Rafa menyembunyikan kekesalannya lalu menguk hingga habis susu yang di berikan oleh mama mertanya tersebut lalu mencium tangan dan pipi mama mertuanya berlanjut untuk mencium tangan papa mertua yang masih duduk di depan meja makan sambil memegang koran di tangannya.
" Rafa berangkat dulu ya Ma, Pa " pamit Rafa.
" Iya hati hati " teriak mama Arin karena menantunya yang langsung berjalan dengan cepat ke arah pintu.
" Rajin banget menantu Kamu ma " seru papa Arin tersenyum melihat anak menantunya dan di balas senyuman oleh istrinya lalu mengambilkan makan untuk suaminya karena harus berangkat ke kantor juga.
Arin yang merasa khawatir karena suaminya pergi dalam keadaan jengkel, berusaha menghubungi Adi agar tak membiarkan Rafa mengemudi ketika berangkat keluar kota karena kondisi emosi Rafa akan membahayakan mereka bertiga. Arin juga berpesan pada Adi agar mengabari dirinya ketika Rafa sudah sampai di kantor. Alka yang sudah tertidur dan melepas ujung dada bundanya karena lelap, dengan pelan diletakkan Arin ke atas tempat tidur dan diberi batas dengan tumpukan bantal serta guling sebelum Ia turun meninggalkan putra yang membuat Ayahnya begitu jengkel seperti anak kecil.
__ADS_1
Arin menuruni anak tangga dan meminta tolong pada asisten rumah tangga rumah orangtuanya menjaga Alka sebentar karena Ia merasa tengah lapar ingin memakan sarapan sebentar. Setelah asisten rumah tangga orangtua nya naik ke atas, Arin duduk di meja makan untuk makan bersama orangtuanya di sana.
"Rafa tadi makan gak ma ?" tanya Arin sambil mengambil nasi ke atas piring.
" Engga nak, udah kesiangan katanya cuma minum susu aja " jelas mama Arin yang tengah makan bersama suaminya.
" Oh, Ma nanti Aku nitip Alka sebentar ya ada kelas Muay thai soalnya siang hari " pinta Arin pada mamanya meski sudah sering menitipkan anaknya pada mertua ataupun mamanya ketika Ia berlatih.
" Oke, tapi suami Kamu udah ijinin Kamu pergi belum ?" tanya mama Arin yang selalu mengingatkan putrinya agar selalu ijin setiap kali hendak pergi agar tak sampai bertengkar dengan suaminya hanya karena kesalah pahaman mereka.
" Udah ma, Dia udah ijinin Aku kok " sahut Arin melanjutkan makan.
Arin yang masih kepikiran dengan suaminya, mencoba untuk tenang karena tak ingin jika orangtuanya tahu jika suaminya tadi pergi dalam keadaan hati yang kesal karena tak bisa melampiaskan keinginan dan hasratnya yang selalu meningkat dengan cepat.
Sementara Rafa yang sudah sampai di kantor, memasuki ruangan papanya yang sudah ada kedua sahabatnya di sana menatap kehadiran Rafa dengan wajah jengkel yang tak bisa Ia tutupi karena sepanjang jalan Ia hanya menggerutu kesal.
" Pengen tahu aja " sahut Rafa jengah dengan menyandarkan tubuh di sandaran sofa seraya memijat kepalanya.
" Lo sakit apa marah sih ? tadi bini Lo telfon Gue engga boleh biarin Lo nyetir " sahut Adi melihat Rafa memijat kepalanya.
" Kagak semua " singkat Rafa.
" Iya lebih baik kalian berdua aja gantian mengemudi jangan Rafa entar ada apa apa lagi " seru papa Rafa juga memperhatikan putranya terlihat kurang semangat sembari terus memijat keningnya karena merasa tengah pusing ketika hasratnya tak terpenuhi.
Papa Rafa memulai untuk menjelaskan apa saja yang harus ketiga sahabat itu lakukan selama di luar kota dan mengatakan jika mungkin akan menambah waktu menginap mereka sedikit lebih lama karena akan ada klien yang memantau kesana pada hari yang belum mereka sepakati. Dengan wajah pasrah karena tanggungjawab, mereka bertiga mengiyakan permintaan papa Rafa selaku atasan mereka.
Pukul 10, mereka bertiga beranjak pergi dari kantor mengendarai mobil Alex karena tak ingin membawa mobil sendiri sendiri mengingat tujuan mereka sama.
__ADS_1
" Makan dulu yuk, lapar Gue " ajak rafa yang memang merasa sangat lapar.
" Lah fa, Lo bungkus aja LO makan di jalan ini udah siang entar engga selesai urusan kita " sahut Adi sambil mengemudikan mobil.
" Iya iya Gue ngerti, Lo minggir di tempat makan dulu " pinta Rafa yang duduk di jok belakang.
Adi menghentikan laju mobilnya di parkiran sebuah tempat makan yang di tunjuk oleh Rafa agar sahabatnya bisa membungkus makanan.
" Beliin Gue Lex " ucap Rafa menyodorkan selembar uang seratus ribu ke arah Alex.
" Ogah " singkat Alex tak pernah suka di suruh suruh oleh siapapun.
" Beliin aja sono, yang ada Kita telat " tegur Adi melihat wajah Rafa yang malas dari spion tengah mobil.
" Ah rese Lo berdua " gerutu Alex terpaksa turun.
" Kopi Lex " teriak Adi kepada Alex yang memasang wajah jengahnya lalu menutup pintu mobil dan berjalan masuk ke rumah makan tersebut.
Adi yang sedari tadi memperhatikan Rafa mulai menegur sahabat yang duduk dengan menyandarkan kepala di jok mobil dengan mata terpejam.
" Lo berantem sama Arin ?" tanya Adi yang memang menumbuhkan pertanyaan pertanyaan di kepalanya.
" Engga " singkat Rafa masih pada posisi awalnya.
" Lo telfon deh bini Lo kasihan Dia khawatir sama Lo, tadi pesen ke Gue suruh kabari kalau Lo udah sampai kantor " tambah Adi yang tak enak harus menghubungi Arin ketika ada Rafa dan melih agar Rafa yang menghubgi istrinya sendiri agar sahabatnya tak mulai cemburu.
" Hm " singkat Rafa malas mengingat ketika tubuhnya di dorong oleh Arin saat miliknya sudah massuk sedikit.
__ADS_1
Rafa masih memejamkan matanya dengan malas tak ingin menghubungi Arin lebih dulu dengan kondisinya yang masih belum tenang dan akan menghubungi istrinya saat Ia bisa menenangkan hati agar tak sampai bertengkar dengan Arin. Hasrat yang tiap hari semakin membesar pada istrinya membuat dirinya terkadang hilang akal saat begitu menginginkan tubuh Arin yang terlihat sexi berisi itu. Meski kadang merasa kasihan pada Arin yang harus selalu melayani keinginannya, tapi Rafa juga tak bisa menahannya meski sudah begitu sangat berusaha bahkan rela jika harus dikunci di luar oleh Arin ketika menyusui Alka, namun ketika kembali melihat tubuh istrinya gairah tinggi kembali menghinggapi Rafa yang terkadang membuatnya begitu frustasi dengan tubuh bawahnya selalu cepat bereaksi meski istrinya tak melakukan apapun.