
Pagi hari Rafa sudah bersiap dengan pakaian kerja juga koper yang telah disiapkan oleh Arin untuk suaminya menginap mengurus proyeknya di luar kota bersama Alex dan Adi. Sementara Alka dan Arin juga sudah bersiap dengan tas mereka karena akan menginap di rumah mama Arin selama suaminya tak di rumah agar ada yang membantu mengurus Alka.
" Yank, Aku nanti ada kelas Muay Thai siang hari, jadi kalau Kamu telfon engga Aku angkat jangan marah marah kaya kemarin kemarin " ucap Arin dalam perjalan keruamh mamanya.
" Iya, tapi jangan sering sering dong yank yang ada Aku jadi sasaran Kamu nanti " sahut Rafa sembari mengemudikan mobilnya.
Arin lebih memilih olahraga Muay thay untuk mengembalikan bentuk tubuhnya pasca melahirkan Alka karena Ia anggap selain bisa berolahraga juga bisa menambah ilmu untuk melindungi diri ketika sedang keluar tanpa suaminya. Meski tak menyetujui istrinya melakukan olahraga dimana instrukturnya adalah seorang laki laki yang mengharuskan Arin memakai pakaian ketat ketika berlatih, namun Rafa tak berani mencegah istrinya tersebut.
Sampainya di rumah mama Arin, Rafa membantu anak dan istrinya turun lalu mengambil tas berisi keperluan Alka yang Ia letakkan di bahu sembari menggandeng istrinya masuk ke dalam rumah dengan mama Arin yang sudah menyambut mereka. Mama Arin langsung mengambil alih cucunya untuk Ia gendong dan meminta Rafa dan Arin masuk. Kedua pasangan itu langsung ke kamar Arin untuk meletakkan barang barang Alka di sana.
" Kamu jangan nakal yank " pesan Rafa ke istrinya yang sedang menata barang barang Alka di meja kamarnya.
" Iya yank, tapi nongkrong boleh dong mumpung Alka sama mama " goda Arin ke suaminya tersenyum.
" Engga boleh, ada mama mertua bukan berarti Kamu bisa bebas yank. Yang ada nanti Kamu di dekati cowok lagi" tegas Rafa yang tak ingin Arin mencadi inacaran lelaki karena kecantikan dan bentuk tubuh istrinya yang lebih menggoda kini semakin membuatnya teramat posesif.
Arin melangkah ke arah suaminya yang tengah menata beberapa baju Alka di almari pakaian dan memeluknya dari belakang.
" Aku cuma mau sama Kamu sayang, suamiku yang makin hot " goda Arin seksi dengan memainkan jari telunjuk di punggung Rafa.
Rafa membalikkan tubuhnya menghadap Arin yang memasang wajah dengan dibuatnya tampak seksi dan menggoda tersebut.
__ADS_1
" Gini yang buat Aku engga pernah tahan sama Kamu yank " ucap Rafa menarik pinggang istri yang tersenyum genit untuk menggoda suaminya.
" Masa sih ?" seru Arin semakin menggoda suaminya dengan memainkan telunjuk di dada bidang Rafa.
Rafa menarik napasnya dalam kemudian menikmati bibir istri yang melingkarkan tangan di tengkuknya itu. Tubuh Arin yang memutar atas bimbingan suaminya berganti posisi menempel ke almari yang sebelumnya punggung Rafa ada di sana.
" Yank, udah kan mau kerja " ucap Arin mengingatkan suami yang telah kembali naik tersebut,
" Tanggung yank " seru Rafa dengan napas terengah karena birahi yang lagi lagi memuncak hanya karena godaan kecil istrinya.
Rafa sendiri tak mengerti kenapa selalu menginginkan istrinya tanpa bosan dan merasa lelah sedikitpun.
Dengan cepat Arin merapikan pakaian dan mendorong suaminya menjauh. Rambut panjang berantakannya mulai Ia tata kembali sebelum membuka pintu dan meraih Alka yang tengah menangis dalam dekapan neneknya. Dengan frustasi karena terpaksa menghentikan keinginannya. Rafa merapikan kembali kemeja serta celana kerjanya. Ia memijat tengkuknya menahan hasrat yang sudah sampai di ujung kepala karena tangisan putranya.
" Alka ih, engga pas waktunya nak " gumam Rafa lirih sembari memijat tengkuknya.
Arin keluar dengan kondisi yang sudah rapih dan meraih tubuh gemuk Alka dalam dekapan mamanya. Alka yang menangis tanpa henti karena Arin lupa memberinya ASI tadi karena buru buru untuk berangkat mengingat suaminya sudah di tunggu oleh papa mertua di kantor sebelum pergi keluar kota.
Mama Arin kembali turun, membiarkan cucunya untuk minum dan menyiapkan makan di bawah untuk anak dan anak menantunya yang jelas belum makan sarapan karena telah berangkat pagi pagi sekali.
__ADS_1
" Berangkat sana yank, kesiangan di marahin papa loh " tegur Arin pada suaminya yang terlihat frustasi duduk di ujung tempat tidur.
" Ogah " singkat Rafa jengah.
" Ih Ayah marah sama Kamu tuh nak " seru Arin menggoda Alka sambil berjalan ke arah tempat tidur untuk memberikan ASI putranya.
" Lagian kenapa engga kasih Alka minum daritadi sih yank " dengus Rafa dengan wajah jengah ke arah istrinya yang memberikan ASI pada putranya.
" Lupa yank, lagian kan Kamu engga bolehin kasih ASI di mobil katanya nanti kelihatan orang " seru Arin.
" Ya kan bisa di tutupin pakai apron buat menyusui itu yank ! terus gimana dong ini kalau engga tuntas pusing yank ! " tegas Rafa dengan wajah kesal frustasinya.
Arin membalas suaminya hanya dengan menaikkan kedua bahu dan alis nya bersamaan sambil tersenyum melihat wajah suaminya. Dering telfon dari Adi makin membuat Rafa kesal dan menjawab sahabatnya dengan nada ketus ketika sahabatnya menanyakan tentang posisi Rafa yang sudah di tunggu oleh Alex juga papanya di kantor. Laki laki yang masih kesal itu mengatakan jika jalanan sedang macet akan sedikit terlambat dengan nada ketusnya lalu menutup sepihak panggilan telfon dari Adi yang menggerutu di ujung telfon karena sikap Rafa.
" Kenapa ?" tanya Alex yang ada di ruang kerja papa Rafa bersama Adi melihat sahabatnya terus menggerutu kesal.
" Tau nih anak salah minum obat kali, pagi pagi udah marah aja " gerutu Adi menatap ponse yang sudah di matikan oleh Rafa sepihak.
" Palingan kagak dapat jatah " sahut Alex asal.
" Kamu kalau engga dapat jatah marah marah Lex ?" tanya papa Rafa tersenyum ke arah Alex yang cengengesan.
__ADS_1
Adi hanya menggelengkan kepalanya karena tak memahami tentang pembicaraan Alex juga papa Rafa karena Ia belum menikah dan tak mengerti bagaimana rasanya jika tak mendapat jatah seperti maksud Alex. Ketiga pria yang sudah siap dengan pakaian kerja rapi tersebut masih setia menunggu kehadiran Rafa yang masih frustasai karena hasratnya yang terpenuhi.