SWEET MARRIAGE

SWEET MARRIAGE
BAB 160


__ADS_3

"Ke rumah Adi dulu ya, sakit dia" ucap Rafa sembari mengemudi.


"Masa? kagak percaya gue" santai Alex menatap Rafa.


"Lo kira gue percaya? bini gue yang nyuruh kesana biar tau tuh anak beneran sakut apa engga" jelas Rafa, membuat Alex tersenyum lebar.


"Berangkat dong" ucap Alex menaik turunkan kedua alis sembari berekspresi antusias.


Rafa melajukan kendaraan langsung ke rumah Adi, memastikan sendirj ucapan sahabatnya melalu telpon tadi. Arin tidak mempercayai Adi yang bahkan tak terlihat sakit walau rambut sudah di acak acak tidak karuan. Untuk itu Arin meminta suaminya agar melihat sendiri dan memastikan kalau Adi tidak benar benar sakit. Kalaupun sakit juga sudah kewajiban mereka mengunjungi.


Alex mendengar kabar sakutnya Adi jelas tak mempercayai, karena ia menghapal betul bagaimana watak Adi sama halnya dengan Rafa dan Arin yang memahami Adi. Rafa dan Alex bersemangat untuk menangkap basah sahabatnya yang baru menikah tersebut.


Hampir satu jam perjalanan, keduanya sudah tiba di kediaman orang tua Adi. Sengaja Rafa memarkir kendaraan sedikit jauh dan berjalan kaki ke rumah Adi agar sahabatnya itu tidak bisa mempersiapkan diri. Kedua laki laki tinggi tersebut berjalan beriringan dan berdiri tepat di depan pagar rumah Adi.


"Tuh sakitnya sahabat li model gitu tuh" ucap Rafa mengintip dari sela sela pagar bersama Alex.


"Emang tukang boong tuh bocah, mentang mentang baru nikah betahnya berduaan mulu" sahut Alex nenggelengkan kepala.


Keduanya mengintip dari sela pagar, yang bahkn tak mengintip pun sudah terlihat jelas wajah Adi bersama istrinya di teras. Keduanya terus membicarakan Adi yang jelas terlihat tidak sakit, bahkan tengh di suapi istrinya seperti anak kecil di teras rumah.


"Sumbangan om" ucap Rafa dibalik pagar, cepat dilihat oleh Adi dab Shanum, namun tidak terlihat siapapun.


"Pak bilang engga terima sumbangan, suruh pergi aja" ucap Adi pada sopir rumahnya.


"Baik den" sahut sopir paruh baya tersebut.


"Pak, suruh tunggu sebentar aku ambil uang di dalam ya" lembut Shanum berucap.


"Kagak usah, kebiasaan lagi tar" cegah Adi ketika istrinya beranjak dari duduk.


"Sayang, gak boleh gitu dong" ucap Shanum.


"Ya udah deh aku yang kasih, aku ada uang di saku" ucap Adi beranjak.


Adi tak melihat Rafa ataupun Alex yang bersembunyi di balik dinding. Suara Rafa pun dibuat sedikit besar tetap berteriak sumbangan. Adi menggerutu karena acara manjanya harus tertunda sebentar, dan cepat berlari ke arah pagar rumah. Ketika pagar sudah terbuka, Rafa dan Alex kembaki berbisik ingin menerobos masuk namun ternyata Adi yang membuka.

__ADS_1


"Rafa, Alex"seru Adi cengengesan menggaruk tengkuk.


"Aduh gue bilang kagak usah repot Fa, gue baik aja cuma demam" tambah Adi cepat mengubah suara lemas lalu batuk batuk.


"Kita kesini bawain obat buat lo, biar lo cepet sembuh" sahut Rafa, di angguki Alex.


"Repot amat lo berdua, sini deh kalau lo maksa" senyum Adi mengukurkan tangan.


Tangan sudah menengadah di hadapan Alex juga Rafa, hendak mengambil obat yang dimaksud sahabatnya itu. Alex mengeluarkan tangan dari balik tubuhnya, dan meletakkan cacing yang Ia pegang mengenakn plastik ke atas telapak tangan Adi.


Mata Adi seketika membulat melihat cacing berwarna hitam panjang di telapak tangannya. Ia menjerit sekencang kencangnya, lalu mengibaskan tangan dan bergidik jijik. Rafa dan Alex sengaja mencari cacing lebih dulu untuk membalas sahabat mereka, yang jelas jelas sangat takut terhadap hewan tanah tersebut.


"Sayang kenapa?" tanya Shanum heran melihat Adi berjingkrakan sambil mengusap semua badannya jijik.


"Gila lo berdua! mau bunuh gue lo?!" teriak Adi makin menggelakkan tawa Rfa dan Alex yang tetap berdiri di depan pagar.


"Siapa sih? kamu kenapa?" tany kembali Shanum tak melihat siapapun.


"Rafa sama Alex tuh yank, masa aku dikasih cacing sih?!" jengkel Adi mengernyitkan kedua alis.


"Kagak usah disuruh masuk!" tegas Adi masih jengkel.


"Jahat dia,kita balik deh" memelas Alex berpura pura.


"Eh, engga apa apa silahkan masuk, kan udah datang jauh jauh juga" ucap Shanum mencegah.


"Jangan percaya sama mereka, usir aja yank" rengek Adi.


"Apaan tuh Di?!" goda Rafa seketika Adik terperanjat memegang pundak istrinya bersembunyi dibalik tubuhnya.


"Manja banget lo, alasan sakit tapi jingkrak jingkrak. Mana ada orang sakit lincah babget kaya lo" tembak Alex, ceoat Shanum menoleh suami yang menundukkan wajah.


"Kamu sakit? kayanya engga deh yank, dari tadi kamu biasa aja tuh" ucap Shanum memegang seluruh wajah Adi.


"Bohong, aku mau sama kamu engga pengen kerja" memelas Adi memajukan bibir seperti anak kecil.

__ADS_1


"Halah, modus lo" celetuk Alex.


"Kerja sono, gue tungguin. Enak aja laporan numpuk libur mulu lo" tambah Alex.


"Adi boleh kerja kan Shanum ya?" lembut Rafa.


"Boleh dong Fa, kalian masuk dulu ya biar bang Adi siap siap" ucap Shanum lembut, mengejutkan Rafa dan Alex saling tatap.


"Bang?!" seru Rafa dan Alex bersamaan.


"Udh diam lo berdua" protes Adi.


"Abang batagor Fa" bisik Alex tertawa bersama Rafa saat Shanum sudah masuk lebih dulu.


"Bang becak bang" tawa Rafa membalas.


"Diem lo pada, kagak tau apa itu tuh panghilan hormatny bini. Bini lo berdua kagak panggil gitu kan?" bangga Adi menunjuk ke arah kedua sahabat yang masih tertawa.


"Bini kita sih manggil sayang, hubby, lovely, darling, honey kagak abang abang batagor kaya lo" celoteh Alex high five bersama Rafa.


"Honey, honey, mana ada?! racun lo berdua, kagak ada manis manisnya" sahut Adi kesal.


"Udah sono mandi kita tungguin" ucap Alex mengarahkan mata kedalam, mengisyaratkan sahabatnya cepat masuk.


"Aduh kepala gue pusing, meriang banget" cepat Adi berlagak lemas tak berdaya duduk di kursi teras.


"Lo masih ada cacing di saku kan tadi?" tanya Rafa, ceoat Adi beranjak.


"Gue sehat, gue mandi sekarang" cepat Adi berdiri dan kabur kedalam.


"Temen lo tuh" senggol Rafa ke lengan Alex.


"Abang batagor" tawa Alex membalas dan disusul tawa Rafa.


Keduanya duduk di teras untuk menunggu Adi yang tengh bersiap. Pelayan rumah menghampiri dengan dua cangkir kopi di letakkan di atas meja diantara keduanya. Membalas dengan senyum juga ucapan terima kasih, lalu meraih kopi di atas meja bersamaan.

__ADS_1


Di dalam kamar Adi menggerutu kesal sembari mandi, sementara Shanum menyiapkan pakaian kerja suaminya. Adi berencana menghabiskn waktu satu hari bersama istrinya, harus menelan kepahitan karena rencananya gagal total sebelum ia melaksanakan. Terus ia mengumpat pada dua sahabatnya, kesal sangat kesal.


__ADS_2