
Ekstra Chapter bag. 1
Ketiga sahabat masih berhubungan baik layaknya saudara itu, mengajak anak dan istri mereka untuk berlibur ke puncak demi menghilangkan kepenatan dari kesibukan mereka bekerja. Mereka tahu jika waktu mereka bersama anak istri hanya ketika malam dan akhir pekan, untuk itulah mereka bersama menyusun waktu untuk liburan bersama.
Sebuah villa milik papa Rafa menjadi tempat mereka bersantai sejenak, menikmati kehidupan bersama keluarga kecil masing masing. Sekitar pukul 20.30 tepat di hari jumat, mereka sudah tiba di villa. Sengaja mereka berangkat sepulang kerja karena ingin menikmati lebih lama udara sejuk di puncak.
Ketiganya memilih untuk masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri lebih dulu sebelum menikmati malam mereka bersama. Rasanya sudah lama ketiga sahabat itu tidak pernah tidur satu atap seperti dulu, setelah memiliki istri. Meskipun dulu saat Rafa sudah menikah, Adi dan Alex terkadang menginap di apartemen Rafa. Namun saat keduanya menikah, sudah tak pernah lagi mereka menginap bersama.
"Yank, anak anak engga usah mandi ini udah malam jadi aku seka aja ya" ucap Arin pada suaminya yang langsung melepas kemeja kerja.
"Kamu juga engga usah mandi yank udah malam, aku aja yang mandi kan abis pulang kerja" sahut Rafa melangkah mendekati istrinya yang tengah melepas pakaian Silfia.
"Masih wangi juga kamunya, engga perlu mandi" tambah Rafa mencium tengkuk istrinya.
__ADS_1
"Curi kesempatan aja deh" senyum Arin menoleh ke arah laki laki yang duduk di tepi ranjang tepat di belakangnya.
"Engga apa apa dong, punya istri cantik tuh harus sering sering di gituin biar cowok tau kalau kamu udah nikah punya anak dua" tersenyum Rafa masih berada dekat dengan tengkuk istrinya.
"Mau bahas lagi?" tatap Arin ke arah suaminya tajam, cepat Rafa menggelengkan kepala.
"Engga, siapa juga yang mau bahas. Orang aku mau mandi" sahut santai Rafa beranjak dari tempat tidur dan melenggang pergi ke arah kamar mandi.
Arin membuang napasnya kasar menatap kepergian suaminya. Seseorang yang berusaha mendekati Arin membuat Rafa selalu menyindir kesal ke arah istrinya. Anak dari relasi kerja papanya, selalu menghubungi Arin untuk bertanya hal hal tidak penting yang kadang membuat Rafa sangat geram.
Di kamar lain, Adi yang hendak mandi lebih dulu membantu untuk membersihkan tubuh Fikri bersama dengan Shanum. Kehadiran bocah kecil berusia 3 tahun tersebut menambah kehangatan di antara keduanya, yang selalu meluangkan waktu untuk bisa bersama mengurus anak mereka bersama.
"Mau tambah satu lagi gak kaya si Rafa?" goda Adi menaik turunkan kedua alisnya, ditertawakan oleh Shanum sambil mengenakan pakaian untuk anaknya.
__ADS_1
"Nunggu gede dulu sayang, masa iya mau nambah lagi sih?" sahut Shanum menggelengkan kepala.
"Tuh si Alex, bininya hamil lagi engga apa apa kok. Aku masih kuat biayain kalau kita punya anak banyak" tersenyum menatap istrinya.
"Insha Allah sayang, dikasihnya aja mau berapa ya" lembut Shanum menjawab suaminya.
"Duh gemes deh, udah kaya Ali kamu kalau kaya gini" gemas Adi mencubit dagu istrinya, ditatap aneh seketika.
"Kok Ali sih?" protes Shanum mengernyitkan kedua alis.
"Itu bini nya Dude harianto sayang" sahut Adi malah di tertawakan istrinya lepas.
"Di puji malah ketawa girang banget, seneng kamu ya? aku puji tiap hari deh" sahut Adi merasa tak ada yang salah dan tetap tersenyum melihat istrinya terbahak.
__ADS_1
"Iya, iya aku seneng banget kamu puji. Makasih ya sayang, kamu suami paling baik" sahut Shanum tidak mengatakan apapun lagi.
Mengatupkan bibir mencoba untuk menghentikan tawa, Shanum kembali merawat putra pertamanya. Sedangkan Adi tidak sedikitpun merasa jika ucapannya salah sama sekali. Memang ia tak pernah melihat langsung siapa orang orang yang dipergunakan untuk menggoda istrinya. Adi hanya mendengar dari Rafa dan Alex yang selalu mengatakan jika Adi kini mirip dengan pasangan Ali dan Dude.