
" Udah yuk Kita makan, jangan sedih sedih terus kan engga enak dilihatnya " ucap Mama Adi, melepaskan pelukan kelima orang itu seketika.
" Bikin rujak Tante, Vio yang bikin " sahut Arin tersunyum dengan semangat.
" Kagak usah, bini Gue masak air aja sampai gosong, Gue kagak jadi ngopi pagi ini " celetuk Alex, cepat dilirik Viona.
" Orang Kamu sendiri loh yang salah yank, tahu Aku lagi bikin kopi malah di panggil ke kamar suruh bantu pakai baju dulu, ya udah kering deh tuh panci " sahut Viona membela diri.
" Manja banget Lo, kalah anak Gue pakai baju aja di bantuin " ucap Rafa mendorong lengan Alex.
" Lagian beli mesin kopi sana, pelit banget Lo " ucap Adi ke arah Alex.
" Lah ngapain ? Gue mau ngopi tinggal ke tempat Rafa terus Gue bawa tempat Gue " celetuk Alex santai.
" Idup Lo engga ada modal dari dulu, makan nebeng, kopi nebeng, nge game nebeng, noton TV nebeng, untung tidur Lo kagak nebeng " ucap Adi.
" Gue bukan kagak modal Di, tapi memanfaatkan yang ada. Gue ini orang kaya Di cuma nyamar aja jadi rakyat jelata, Lo tau tuh sofa yang Lo pakai duduk di ruang tamu tuh harganya berapa ? " ucap Alex membanggakan diri, cepat semua melihat ke arahnya.
" Berapa ? " tanpa serempak keempat orang masih berkerumun dekat itu.
__ADS_1
" Kagak tau, orang itu punya yang punya apartemen dulu di kasih Gue. Sofa tengah aja punya emak Gue " santai Alex, di timpuk bantal sofa barengan oleh Adi, Rafa juga Arin.
" Kecewa Aku yank, kecewa " ucap Viona berlebihan dengan menekankan kata seraya meletakkan tangan di dada, lalu pergi ke dapur menyusul Mama Adi.
" Lah bini Gue udah ketularan gila nya Lo Rin " ucap Alex ketika melihat istrinya bersama lainnya.
Semua malah menertawakan Viona bersama, seorang Vio yang dulu terlihat kalem dan jarang bicara terkadang mengejutkan Rafa, Arin juga Alex ketika hal gila ditunjukkan saat bersama. Seolah sebuah virus, kegilaan sahabat itu ketika berkumpul, sudah membuat Vio ikut gila.
Namun Alex malah senang dengan sikap gila dari istrinya, sampai bisa bersama untuk berkumpul tanpa celah ataupun perbedaan. Sebuah pernikahan yang tak hanya seriusa saja, tapi bisa menjadi sahabat untuk bersama tertawa. Saling melengkapi satu sama lain.
Meninggalkan ketiga lelaki duduk berjajar di sofa, Arin menyusul ke dapur ikut memasak bersama Viona juga Mama Adi. Ketiganya memasak dengan sesekali bercanda, dengan Viona memperhatikan dengan seksama untuk belajar. Arin yang sudah terbiasa memasak, membuat sendiri bumbu rujak yang biasa Ia buat dan nikmati bersama Adi, Rafa juga Alex ketika berkumpul di apartemen.
" Kamu sedang hamil, tidak baik duduk seperti itu. Kamu harus bisa pelan pelan sekarang " lembut Bundanya mengingatkan, tetap Yessi berekspresi kesal dengan membuang napasnya kasar menatap ke arah lain.
" Dia gak hamil, jadi mau ngapain terserah Dia. Kamu jangan terus terusan marahi Yessi ya, atau Aku yang bakal marahi Kamu balik " ucap Ayah Yessi baru memasuki rumah, mengejutkan istrinya yang masih berdiri melihat ke arah putrinya.
" Apa sih maksudnya kalian berdua? kalian berdua bohongi keluarga Adi? kalian ini masih punya hati gak sih ?" tak percaya Bunda Yessi dengan perasaan juga kecewa.
" Bunda lihat kan Adi masih suka sama Arin dan bahkan mau tinggalin Aku cuma buat Arin ? kalau Aku sama Ayah engga pakai cara ini, pasti Adi udah pergi buat kejar itu si Arin genit " ucap Yessi dengan nada tak enak.
__ADS_1
" Yessi! keterlaluan Kamu! memang pantas Adi tinggalin Kamu! " teriak wanita dengan perasaan sanagat kecewa itu, langsung di tampar oleh suaminya.
" Sudah Aku bilang jangan marahi Yessi, malah bentak! mau ngelawan Kamu ke suami sendiri?! " tegas Anton melotot dengan amarah terlukis jelas pada wajahnya.
" Ayah lihat apa yang sudah Ayah lakukan, itu bukan untuk kebaikan Yessi tapi cuma buat menghancurkan Yessi sendiri. Mana ada seorang Ayah mendukung kesalahan putrinya sendiri, bahkan bersekongkol untuk berbohong! Bunda harus bilang semua ini ke Adi " ucap Bunda Yessi memegang sisi wajahnya yang terasa sakit akibat tamparan keras suaminya.
" Bunda! berani Bunda bilang ke Adi semua ini, Yessi akan pergi dari rumah! Adi suami Aku Bunda, dan engga ada satupun yang bisa buat pisahin Aku sama Adi termasuk Bunda! " teriak keras Yessi menunjuk ke arah Bundanya dengan berdiri.
" Kamu bukan butuh suami, tapi butuh psikiater " kecewa Bunda Yessi dengan menggelengkan kepala.
" Berani Kamu bilang kaya gitu ke anakku ?! masuk sana Kamu! " teriak Anton keras.
Bergegas Bunda Yessi kelar rumah, mengunci rapat rumah dengan kunci masih menggantung di luar pintu. Ia langsung menyalakan mesin mesin mobil, usai merampas cepat kunci dari saku celana Anton.
Merasa bersalah pada keluarga Adi, Bunda Yessi ingin mengatakan semuanya. Walaupun menyayangi putrinya, tapi Ia tak ingin jika putrinya harus tetap berbohong dan menyakiti banyak orang.
Anton dan Yessi yang terkunci di dalam rumah, mencoba mencari kunci cadangan karena tidak bisa keluar melalui jendela tertutup tralis. Keduanya tidak mau jika semua apa yang mereka lakukan terungkap begitu saja. Anton sendiri ingin tetap mempertahankan Adi karena takut takkan ada yang mau menerima putrinya.
Kasih sayangnya terhadap Yessi benar benar menutup akal sehatnya, hingga menghalalkan segala cara untuk memberikan kebahagiaan putrinya sendiri. Meski mengenal betul watak putrinya, Anton terus berusaha menutupi dari semua orang. Bahkan Ia selalu memperingatkan Yessi agar tak menunjukkan sifat aslinya di depan keluarga besar.
__ADS_1
Dalam perjalanan, Bunda Yessi tak henti merasa kecewa dan menitikan air mata. Bertekad bulat untuk mengungkapkan semua dan menyerahkan keputusan pada Adi juga keluarganya. Berpikir jika memang perpisahan menjadi sebuah pilihan terbaik, karena Ia tak ingin Adi yang di anggapnya sangat baik juga menghormati orang tua harus merasakan kesedihan. Bagaimanapun juga, Adi selalu memperlakukannya dengan baik dan menganggap sebagai Ibu kandung. Ia ingin Adi mendapatkan kebahagiaan lain walau harus melihat putri dan suaminya marah setiap hari.