
Setelah pintu berhasil ia buka paksa, dengan cepat Rafa masuk dan menghampiri Arin yang sudah menyelimuti tubuh nya di atas tempat tidur.
" Duduk, jelasin apa maksud kamu nuduh aku terus sama Kania! " tegas Rafa menarik selimut Arin.
" Gila ya lo? " ucap Arin jengkel dan mulai duduk di atas tempat tidur.
" Kenapa kamu terus tuduh aku? Apa yang udah lakuin sampai kamu semarah ini? jelasin ke aku" seru Rafa yang masih emosi.
"Lo pengen balik sama dia kan? oke lo pergi sana balik sama dia, gue juga engga pernah suka sama lo selama ini, gue benci sama lo!! Gue bakal gugurin nih anak, nyesel gue hamil anak lo! " teriak Arin penuh emosi yang tanpa sadar langsung ditampar keras oleh Rafa karena sangat emosi mendengar perkataan Arin yang melukai perasaannya. " Berani lo mukul gue? " teriak Arin menangis dan memegang pipi kiri yang ditampar Rafa.
" Maafin aku yank, aku engga sengaja" seru Rafa menyesal dan berusaha memeluk Arin.
" Lepasin gue! Gue benci sama lo! " teriak Arin mendorong kuat tubuh Rafa dan menghempaskan dirinya ke atas tempat tidur memunggungi Rafa dan menangis sekuatnya.
__ADS_1
" Maaf yank. aku engga sengaja. Kamu tampqr aku balik, kamu pukul aku yank. Tolong maafin aku, aku benar benar engga ada maksud pukul kamu" pinta Rafa sangat menyesal tanpa sadar tersulut amarah akibat perkataan Arin dan menampar Arin keras.
" Pergi! " teriak Arin beriringan dengan isak tangis nya.
" Engga, aku engga mau pergi sebelum kamu maafin aku" pinta Rafa
" Oke, gue yang bakal pergi dari hidup lo selamanya" ucap Arin dan bergegas turun keluar kamar tanpa peduli kehamilannya lagi
Dengan cepat Rafa mengejar Arin dan menarik tubuh Arin ke dalam pelukannya.
" Engga!! aku engga akan lepasin kamu dan biarin kamu pergi! " teriak Rafa terus mengeratkan pelukannya. " Kamu tenang yank, kasihan anak kita kalau kamu kaya gini, kamu pikirin anak kita juga yank" pinta Rafa dengan tangan kanan menekankan kepala Arin ke atas dada nya. " Maafin aku, kamu jangan bilang kalau kamu menyesal mengandung anak kit, jangan bilang kamu benci aku, jangan bilang pergi dari aku, hati aku sakit yank dengar kamu ngomong gitu" tambah Rafa yang mulai mengurai air mata nya.
" Gue capek fa, capek banget sama hubungan kita. Gue mau kita pisah aja fa, gue bakal rawat anak lo sendiri" pinta Arin terisak tangis dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
" Engga yank, engga. Kamu engga boleh ngomong gitu. Kamu udah janji gak akan pergi lagi dan rawat anak kita bareng. Kenapa sekarang kamu ngomong gini sih yank? " ucap Rafa " Aku sayang sama kamu, sama anak kita. Aku butuh kalian aku engga bisa tanpa kalian. Aku mohon jangan ngomong gitu yank" pinta Rafa yang semakin mengurai air mata nya dengan hati yang sangat sakit atas permintaan Arin " kita duduk ya yank" ajak Rafa tak ingin Arin kelelahan.
Arin menuruti Rafa yang menuntunnya duduk di tepi tempat tidur dengan Rafa berjongkok di hadapan Arin lalu menggenggam kedua tangan Arin.
" Anak kita butuh orang tua lengkap, dia butuh kita. Aku mohon demi anak kita kamu jangan seperti ini yank" pinta Rafa menatap dalam mata Arin. " Jangan tinggalin aku" tambah Rafa memeluk pinggang Arin meletakkan kepalanya di atas perut Arin.
" Perut aku sakit" ucap Arin pelan memejamkan kedua mata nya dan menggigit bibir bawahnya merasakan kram pada perut nya yang langsung membuat Rafa khawatir. " Aku mau tiduran" pinta Arin memegangi perut nya.
" Aku panggil dokter ya yank, kamu tunggu sini" seru Rafa khawatir lalu merebahkan tubuh Arin di atas tempat tidur dan dengan cepat menelfon dokter keluarga nya untuk datang.
Sembari menunggu dokter tiba Rafa membantu Arin untuk minum agar merasa lebih enak, ia terus memegang tangan Arin dengan cemas takut jika terjadi apa apa pada istri dan anak nya. " Kamu harus kuat yank" pinta Rafa dengan sangat cemas.
Tak lama dokter pun tiba karena memang tinggal tak jauh dari apartemen Rafa, dengan cepat Rafa membuka pintu dan mengantar dokter untuk menemui Arin di kamar. Sesampai nya kamar dokter mulai memeriksa Arin dengan Rafa yang naik ke atas tempat tidur duduk di samping kepala istrinya memegangi tangan Arin.
__ADS_1
Setelah memeriksa dokter menjelaskan jika kram yang di rasakan Arin berasal dari stres berlebih dan meminta Rafa untuk selalu menjaga kondisi emosi Arin yang selalu berubah selama kehamilan, dan membawa Arin ke dokter kandungan agar mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut tentang kehamilannya. Usai memeriksa Arin dokter mulai berpamitan dan di antar Rafa sampai pintu lalu kembali lagi ke sisi Arin yang mulai mencoba terlelap.