
Berhari hari Adi mempersiapkan segala keperluan unttuk pernikahannya di dampingi dua sahabatnya. Keduanya masih setia berlelah diri mendampingi Adi sepulang kerja, untuk berkeliling mencari segala kebutuhan kamarnya juga demi mempersiapkan kedatangan Yessy ke rumah Adi sebagai seorang istri.
Dari ranjang yang di ganti hingga memenuhi kamar dengan meja rias juga almari untuk istrinya, sudah di persiapkan Adi dengan beberapa isi pakaian juga keperluan make up. Tak satupun tertinggal dari laki laki yang begitu antusias menyambut status barunya sebagai suami.
Walau sudah menyibukkan diri setiap hari, Rafa tak bisa menampik rasa kesempian akan tak hadirnya Alka juga Arin disisihnya. Karena Nenek Arin masih betah bersama Alka, mengharuskan dirinya tetap tinggal di Bandung bersama Ibu juga anaknya.
Ketika tengah asik bersama Adi juga Alex di kamar Adi, dering ponsel Rafa dari istrinya membuyarkan sementara obrolan tiga sahabat itu.Cepat, Rafa mengangkat telpon istri yang tak di jumpai nya selama empat hari ini.
" Kamu udah di apartemen ?" tanya Rafa langsung begitu menjawab telpon dari istrinya.
" Belum yank, maaf ya Aku nginap lagi di rumah Nenek " sendu Arin merasa bersalah, membuat suaminya membuang napas kasar.
" Engga usah pulang, lanjutin aja di sana " sinis laki laki tengah merebahkan diri di atas ranjang Adi itu bersama dua sahabat yang menatapnya heran.
" Yank, engga gitu. Emang Nenek belum mau di tinggal, Nenek udah Tua yank jadi engga tega kalau engga nuruti Dia " sendu kembali Arin makin merasa bersalah, karena ijin awalnya hanya semalam.
__ADS_1
" Aku bilang kan engga usah pulang ! jadi engga usah jelasin apapun ! " jengkel Rafa emosi karena terlalu merindukan anak juga istrinya.
Adi dan Alex menatap penuh tanya ke arah Rafa yang sudah beranjak dari ranjang menahan amarah. terlihat jelas dalam setiap ukiran wajah laki laki tengah berdiri meletakkan satu tangan di pinggang itu, jika dirinya kini tengah sangat ingin marah karena begitu ingin bertemu anak juga istrinya.
" Ya Ampun yank, kenapa malah marah sih ? Aku juga bukan sengaja tinggal di sini lama lama, kalau bukan karena Nenek yang minta juga Aku udah pulang kok " jelas Arin merendahkan nada, tak ingin terpancing amarah oleh suaminya.
" Udah Aku bilang engga usah pulang Arin! engga ada bedanya Aku udah punya anak sama istri atau engga, tetap aja Aku hidup sendirian, apa apa sendirian ! awas aja Kamu berani pulang ! " tegas rafa seraya berteriak, mengejutkan Adi juga Alex.
" Kok malah kaya gini sih Kamu ? Aku engga suka ya Kamu muai bentak bentak Aku kaya gini " jengkel Arin dari ujung telpon.
" Terserah Aku mau bentak mau apa juga, Kalau bukan Kamu yang keterlaluan, engga mungkin Aku marah kaya gini! udah tahu punya suami tapi malah pergi lama banget ! pokoknya awas aja Kamu berani pulang! " panjang lebar Rafa menunjukkan kekecewaan juga amarahnya.
" Terserah Lo Rin! " pungkas Rafa mengakhiri panggilan sepihak.
Masih tetap memperhatikan Rafa, keduanya mengembangkan banyak pertanyaan pada benak mereka masing masing akan sikap sahabatnya. Tubuh di hempaskan kasar Rafa ke atas ranjang sambil mengusap rambutnya ke atas, menekan kuat.
" Kenapa sih Lo Fa ? tumben banget Lo marah marah kaya gini ke bini Lo ?" tanya Adi masih duduk di atas ranjang melihat ke arah sahabatnya.
__ADS_1
" Lo bayangi aja, janji cuma satu malam tapi udah empat hari Dia engga pulang. Tiap malam cuma ngabari kalau bakal nginap semalam, besoknya ngomong lagi semalam. jengkel Gue lama lama, Gue juga kangen sama Dia, sama anak Gue " panjang lebar Rafa menjelaskan.
" Udah sih Fa, tinggal di samperin aja kesana apa susahnya sih ?" sahut Alex perlahan merebahkan dirinya kembali di samping Rafa.
" Mana sempat sih lex ? tugas kampus banyak di kantor juga kerjaan numpuk banget, belum lagi proyek baru Kita. Gue juga pengen nyamperin kesana, tapi kerjaan sama kampus engga ada yang bisa di tinggal " jawab Rafa merasa bingung mencari waktu untuk menyusul istrinya, di tengah banyaknya pekerjaan dan tugas yang menuntut deadline cepat.
" Iya juga, ya tapi jangan marah marah kaya gitu lah Fa, kasihan bini Lo di sana juga jagain Alka bukan main " nasehat Adi lembut.
" Gue engga niat marahin Dia. Sekarang Gue nyesel udah ngomong kasar ke Dia dan marah marah, sekarang Gue takut kalau Dia beneran engga bakal pulang lagi. Lo bersua tahu kan kalau Arin engga pernah main main sama ucapannya ? " panjang lebar kembali Rafa menatap ke arah langit langit kamar Adi sendu dalam penyesalan.
" Ah Lo mah, kalau udah gini aja ribet sendiri. Ditinggalin kaya Gue baru tahu rasa Lo, bini Lo bukan cewek jelek yang kagak laku Fa. Banyak banet cowok yang antri deketin bini Lo, biar kata Dia udah nikah sama punya anak juga. Lo lihat sendiri kan di kampus kaya gimana hebohnya pas Arin datang anatr dompet Lo dulu ?" panjang lebar Alex mengingatkan.
Rafa hanya terdiam mendengar ucapan Alex, sendirinya amat menyesal sudah membentak keras istrinya hanya karena terlalu merindukan. Tak pernah sedikitpun jauh dari anak dan istrinya selainke kampus dan bekerja, Rafa merasakan kekosongan ketika harus menatap tiap ruang apartemen. Suara tawa Alka juga Arin terasa masih nyata dalam setiap sudut apartemen, dan membuatnya tersiksa akan rasa rindu hingga memutuskan selalu menginap di rumah Adi ataipun Alex tetap bertiga tanpa ketinggalan satupun.
Sementara Arin di rumah Neneknya, menghilangkan cepat rasa jengkel juga amarah pada suaminya karena tak ingin ketahuan oleh Nenek juga Mamanya, jika kini Ia tengah bertengkar dengan Rafa. Arin tahu jika dirinya memang salah sudah mengundur kepulangan, namun semua bukan dilakukan sengaja oleh seorang Ibu muda yang kini sudah menggendong tubuh putranya.
Arin sendiri juga sangat merindukan Rafa, dan ingin segera kembali. namun tak bisa menolak kemauan Nenenk satu satunya itu. Mengingat jika Neneknya hanya tinggal bersama pelayan juga supir saja di rumah. Masih tetap tak mengerti akan kemarahan suaminya hingga sampai menyebut namanya, yang tak pernah dilakukan oleh rafa selama ini. Sangat dipahami Arin, jika sampai suaminya memanggil Nama saja, sudah pasti amarah nya terlalu kuat menguasai dirinya.
__ADS_1
Ibu muda tersebut juga sudah berjanji pada Yessy, untuk mendampingi di hari hari dirinya menjelang pernikahan. Tapi tetap saja Arin tak bisa lagi menjanjikan apapun pada suami juga teman baru yang akan menjadi istri sahabat baiknya bersama Rafa itu. Karena memang Arin tak mengerti sampai kapan akan ditahan dirumah Neneknya yang lebih sering sakit akhir akhir ini. Mama Arin pun sangat ingin menjaga Ibunya saat ini, karena tak ingin kehilangan momen berharga untuk bisa merawat dan berbakti. Arin sendiri sudah semoat di minta pulang dulu oleh Mamanya bersama Papanya yang pulang dulu, tapi Arin menolak karena Neneknya masih tetap mau bersama putra kesayangannya yang mampu memberikan senyuman pada wajah Nenek yang selalu ada ketika Ia membutuhkan.