
Di rumah Mama Adi, semua sudah menggelar tikar di halaman menikmati makan bersama. Untuk menciptakan suasana baru yang lebih akrab, sengaja Mama Adi mengusulkan makan di teras rumah saja. Semua makanan sudah teata di tengah, dengan semua orang berkeliling makan menggunakan tangan.
" Enak banget dah makan kaya gini, kaki naik sama makan pakai sambal " ucap Alex melipat lutut dan menahan siku dengan piring Ia taruk pada telapak tangan kiri.
" Enak bangetnya gratis lagi yank " sahut Viona tertawa bersama Alex.
" Miskin Lo " celetuk Adi dengan posisi sama seperti Alex.
" Tapi kurang nih Tante, sambal engga pakai terasi jadi hambar " ucap Arin menikmati sambal bersama Alex, Adi juga Vio.
" Kan Rafa engga suka terasi, daripada nanti engga ikut makan kan kasihan " ucap lembut Mama Adi menghapal semua tentang sahabat sahabat putranya yang di anggap anak.
" Rafa juga gak suka sambal Tante, lihat aja tuh makannya kaya kambing. Pantes kaya orang makannya daun tiap hari " celoteh Alex melihat ke arah piring Rafa.
" Kaya gini tuh lebih sehat tau gak " bela Rafa sudah menjalani gaya hidup vegetarian mengikuti Arin.
" Tuh enak laki Gue makannya kaya gitu, kalau Gue malas masak tinggal giring aja ke taman " celoteh Arin berbicara dengan tersenyum, lalu tertawa bersama lainnya.
" Iya laki Lo tinggal diiket lehernya, suruh dah tuh abisin tanaman " tawa Alex.
" Jahat banget Lo semua, Gue marah nih " memelas Rafa menatap istri juga sahabatnya.
" Jangan Fa, Lo kalau marah suka abisin genteng rumah " ucap Adi, ditatap bingung oleh semua.
" Iya dimakan ama Dia " tambah Adi menjelaskan.
" Garing! " seru Arin, Alex, Rafa dan Viona bersamaan.
" Adi, Adi " seru Mama Adi tersenyum menggelengkan kepala.
" Jahat Lo semua, Gue marah nih " memelas Adi mengikuti Rafa.
" Makan, makan biarin Dia ngomong sendiri " seru Arin melanjutkan makan di susul lainnya tanpa memperdulikan Adi.
__ADS_1
" Jahat banget Lo pada ! " protes Adi masih tak dihiraukan semua yang menikmati makan kembali.
Merasa di abaikan, Adi melanjutkan makannya sendiri. Sudah kembali seperti dulu dengan celotehan celotehan tidak penting, namun mengundang tawa bersama dan menggila.
Ketika tengah enak menikmati makan dengan candaan juga celotehan sekenanya, terlihat pelayan bergegas membuka pintu pagar dan masuk kembali mobil Yessi yang di kendarai oleh Bundanya. Semua orang di teras melihat ke arah mobil yang hanya terlihat seorang amat dikenal mengemudi.
Adi dan Mamanya memilih untuk mencuci tangan dan menghampiri mobil baru masuk tersebut. Raut wajah penuh tanya menghiasi wajah semua oranga yang tak mengerti mengapa Bunda Yessi kembali sendirian. Tetap mengamati, dua pasang suami istri itu saling bertanya menggunakan isyarat mata.
" Bunda kenapa ?" tanya Adi begitu mertuanya keluar dan memeluknya.
" Jeng, wajah jeng kenapa seperti ini ?" tanya Mama Adi melihat sisi wajah berbekas tamparan.
" Bisa Kita bicara bertiga? " tanya wanita dengan melepas pelukan dari laki laki tinggi di hadapnnya.
Adi dan Mamanya membawa Bunda Yessi ke dalam. Keduanya menuntun wanita dengan mata sembab itu masuk, melewati wajah penuh tanya keempat orang di halaman rumah.
" Kalian lanjutkan makan ya, Kita masuk dulu " senyum Mama Adi mengatakan dengan lembut pada keempatnya.
" Ada apaan tuh ? " tanya Alex.
" Tau, anaknya udah mati kali gantung diri di pohon toge " santai Rafa tetap melihat ketiganya masuk.
" Bukan mati yank, malah kenyang makan toge " tawa lirih Arin.
" Si Rafa kalau ngomong suka yang iya iya aja " tawa Viona.
" Kagak kagak yank, nih udah kaya Adi sekarang garing otaknya " protes Alex, diiringi tawa lirih Arin juga Rafa agar tak terdengar hingga kedalam rumah.
" Tau ah, makan lagi " memelas Viona melahap makan.
" Habisin Vio, dirumah engga ada " ucap Arin masih tertawa kecil.
Di dalam rumah, sengaja Mama Adi mengajak Bunda Yessi untuk bicara di lantai dua agar tak terdengar pelayan rumah mereka. Kamar pribadi Adi, diusulkan Adi untuk mereka bisa bicara bersama. Kedua wanita sudah duduk di tepi ranjang, dengan Adi menarik kursi berbentuk bola miliknya dan duduk di hadapan kedaunya.
__ADS_1
" Bunda kenapa? luka ini kenapa Bunda ?" lembut Adi bertanya memegang kedua tangan mertua yang ada di pangkuan.
" Adi, jeng, maafin suami juga anak saya. Saya tidak tahu kenapa mereka jadi seperti ini, suami Saya terlalu menyayangi Yessi, namun kasih sayangnya terlalu buta. Sebenarnya Yessi tidak hamil dan hanya berbohong untuk mempertahankan Kamu nak, Dia takut kehilangan Kamu sampai rela berbohong dengan saran dari Ayahnya " tangis Bunda Yessi, membuat Adi dan Mamanya saling tatap terkejut.
" Ma, ma, maksud Bunda Dia engga benar benar hamil dan cuma berbohong aja selama ini ? dan Ayah juga ikut bohong ?" terbata Adi tak menyangka juga tak sanggup mempercayai, dibalas anggukan wanita di hadapannya.
" Maafkan mereka nak, sekarang apapun keputusan kalian, Bunda akan menerima. Kamu berhak mendapat seseorang lebih baik dan hidup berbahagia " tulus Bunda Yessi menatap dalam ke arah laki laki dengan ekspresi bingung juga tak menyangka di hadapannya.
" Aku engga tahu harus ngomong apa Bunda, Aku benar benar engga sangka mereka bisa seperti itu. Bunda, percaya sama Adi, sama sekali Adi engga pernah khianati Yessi buat mau kejar Arin atau meu nikahi Arin, Mam tahu semua itu. Adi udah coba jelasin semua ke Yessi tapi emang Yessi engga mau ngertiin Bunda. Apa yang tadi di omongin Yessi soal Aku, Arin sama semua anak anak di bawah itu engga ada yang bener, Aku engga ngerti apa salah Aku Bunda sampai harus diperlakukan seperti ini " panjang lebar Adi menjelaskan, tak mau mertuanya salah paham dan mempercayai tuduhan Yessi.
" Bunda tau nak, Bunda sudah melihat sendiri semua selama ini. Kalau Kamu mau mengejar Arin juga pasti sudah dari dulu bukan sekarang. Maafkan Bunda gak pernah kasih tahu apapun selama ini, jujur Bunda kira Kamu sudah tau sendiri nak " sesal Bunda Yessi dengan air mata mengalir, di peluk oleh besannya.
" Sudah jeng, semua sudah terjadi tidak ada yang harus di sesali. Mungkin memang sudah jalan anak anak harus seperti ini " lembut tulus Mama Adi menenangkan besannya.
" Maafin Adi Ma, Bunda, Adi sudah engga sanggup lagi dan harus menceraikan Yessi, daripada Kita semua harus menderita karena ulah Yessi dan Ayah " ucap Adi memantapkan hatinya.
" Bunda setuju nak, tapi kalau bisa lain kali saat Kamu memilih pasangan hidup, Kamu harus kenal baik dulu biar kejadian seperti ini tidak terulang lagi " nasehat Bunda Yessi memegang sisi wajah Adi berperasaan.
" Apapun yang terbaik buat Kamu, Bunda pasti dukung nak " lembut Mamanya mengatakan.
Merasa kecewa namun juga lega karena bisa terpisah dari Yessi dengan dukungan penuh keluarga dan sahabat sahabatnya. Adi benar benar tak menyangka jika Yessi mampu melakukan hal menjijikan hingga berbohong akan kehamilan. Tersirat sebuah pemikiran jika sampai mereka tak terpisah, lalu seperti apa jadinya kebihongan Anton juga Yessi, karena bagaimanapun kehamilan pastinya membesar.
Saran tidak benar benar di dengarkan dulu dari Alex juga Rafa untuk mengenal Yessi lebih dulu, sebelum melanjutkan hubungan lebih. Alex juga Rafa sudah sempat membaca karakter keras dalam diri Yessi yang membuat keduanya selalu tak ingin datang kerumah Adi usai sahabatnya itu menikah.
Alex dan Rafa sendiri pernah mendengar Yessi memaki Bundanya melalui sambungan Telpon, saat mereka bersama di kafe milik Alex. Kala itu Yessi meminta ijin untuk mengangkat telpon di luar, dan membuat Rafa juga Alex penasaran. Keduanya sengaja mengikuti Yessi karena takut jika Yessi menerima telpon dari laki laki atau pacarnya.
Namun ketika mendengar kata Bunda terucap, keduanya membulatkan hebat mata dengan saling tatap. Mendengar Yessi memaki karena Bundanya meminta untuk Yessi cepat pulang, namun tak ingin pulang lebih dulu. Dari situ mereka sudah mencurigai sikap asli Yessi, dan mencoba mengatakan pada Adi agar memahami karakter calon istrinya lebih dulu.
Kini Ia meyakini betul jika sesuatu yang terburu buru dan memaksakan keadaan takkan pernah berujung baik. Hingga kini harus ikut menelan kepahitan pernikahan sama halnya dengan Alex dulu. Tapi Adi mengambil hikmah juga pelajaran besar dalam pernikahannya yang harus kandas, karena tak mengenal sebelum memilih dan memiliki.
Tekad sudah bulat dan ingin segera mengatakan sejujurnya pada Papanya sendiri nanti. Mama Adi pun tak menunjukkan sikap kekecewaan ataupun amarah juga kesedihan dari keputusan Adi seperti Mama Alex dulu, Ia memilih menguatkan dan mendukung setiap keputusan putranya. Ia hanya menginginkan Adi mampu menjalani semua dengan kuat dan sabar, yang diyakininya jika Adi takkan pernah sendiri dalam menghadapi ini karena sahabat sahabatnya selalu ada untuknya.
Sahabat yang setia mendampingi, dan menguatkan satu sama lain adalah harta terbesar Adi sampai kapanpun. Juga merupakan harta lainnya karena memiliki sahabat yang tulus dan mungkin tak bisa dengan mudah didapatkan lagi. Adi tak ingin lagi berusaha menjauhi semua sahabatnya seperti dulu, bahkan demi apapun itu. Ia akan mencari pendamping yang bisa menerima dirinya juga sahabat sahabat juga keluarganya dengan tulus kelak. Melupakan segala kesedihan juga kekecewaan yang menyakitkan kini, membuka sebuah lembaran baru lebih baik.
__ADS_1