SWEET MARRIAGE

SWEET MARRIAGE
BAB 119


__ADS_3

Tepat di hari sabtu, karena sudah sangat tak sanggup menahan kerinduan, Rafa langsung ke Bandung. Arin sendiri tak menghubungi suaminya usai kemarahannya, dan membaut Rafa semakin terbelenggu dalam penyesalan terdalam.


Hari dimana harusnya Ia menghadiri meeting penting perusahaan, harus sengaja di tinggal usai mendapat ijin dari Papanya dan meminta Adi menggantikan. Rafa memang memiliki kedudukan sedikit lebih tinggi di kantor, hingga harus terlibat dalam meeting penting perusahaan Papanya.


Pukul sebelas malam, Rafa baru tiba di kediaman Nenek Arin yang berada di sekitar perkebunan, Hanya pembantu yang menyambut kehadirannya, dan menunjukkan dimana istri dan anaknya tidur. Karena Mama Arin tidur bersama Ibunya di kamar, hingga Arin dan Alka harus rela hanya tidur berdua.


Langkahnya terhenti di sebuah kamar dengan pintu berwarna coklat ukiran, dan membuka perlahan. Dilihatnya istri dan anaknya tertidur pulas dengan saling memeluk. Perasaannya begitu lega mampu mendapati sosok kedua orang yang sangat Ia rindukan.


Rafa memilih duduk di samoing Alka dan mencium lembut pipi gemuk putranya, dan seketika terbangun saat laki laki brewok tipis tersebut tanpa sengaja menyentuh pipi putranya dengan brewoknya. Arin pun langsung terbangun mendengar suara Alka menangis dan sudah berada dalam pundak Ayahnya.


" Yank ?" seru Arin tak percaya melihat laki laki dalam kemeja juga jas tersebut menggendong putranya seraya menimang.


" Kamu kok di sini ? kapan datang ?" tanya Arin sudah berdiri di dekat suaminya melihat ke arah putra mereka.


" Baru sayang, Aku kangen " tulus Rafa menatap sendu pada istrinya.


" Aku juga kangen banget sama Kamu " ucap Arin memeluk tubuh suaminya dan di balas dengan Rafa melingkarkan tangan kiri pada pinggan ramping istrinya, sementara tangan kanan masih menyangga tubuh putra yang sudah sayup sayup ingin kembali terlelap.


" Aku buatin minum hangat buat Kamu ya " ucap Arin lembut sambil mengikat tinggi rambutnya.

__ADS_1


" Engga usah yank, Aku mau air putih aja tenggorokan Aku sakit " ucap Rafa membuat istrinya panik dan memegang keningnya,


" Kamu demam yank, sini Alka biar sama Aku nanti ketularan " ucap Arin khawatir dan meraih tubuh putranya.


" Tunggu sini, Aku buatin Alka susu dulu terus buatin Kamu teh jahe ya " ucap Arin langsung pergi membuatkan susu putranya yang tersedia di meja kamar.


Rafa duduk di tepi ranjang menyandarkan kepala dengan menjaga putranya. Tubuhnya sudah terasa tak enak dari semalam, namun tetap memaksa untuk datang menemui istrinya. Sudah teramat menggigil semenjak di perjlanan, hampir saja tadi Ia menabrak pohon karena tak bisa fokus. Namun untung saja bisa sampai dengan selamat walau harus melaju dengan kecepatan rendah.


Arin sudah memberikan susu untuk Alka dan bergegas ke dapur membuatkan suaminya minuman untuk sekedar menghangatkan badan, karena memang tak tersedia obat di rumah Neneknya. Bergegas Arin mempercepat untuk membuat minum untuk suaminya dan segera kembali ke kamar.


" Minum dulu yank " lembut Arin mengangkat kepala suaminya yang bersandar.


" Dingin banget Aku yank " rintih Rafa melipat kedua tangan di depan dada.


" Aku kangen banget sama kalian, jangan di marahin tubuh Aku benar benar engga enak banget yank " lirih Rafa di bantu istrinya untuk menaikkan kaki ke atas ranjang, usai melepas sepatu masih melekat pada kaki suaminya.


" Kamu pakai tidur, Aku jaga di sini sayang " ucap Arin duduk di tepi ranjang samping suaminya.


" Kamu tidur juga, tapi agak jauhan yank. Atau Aku tidur di ruang tamu aja ya biar Kamu sama Alka engga tertular " ucap Rafa cepat mendapat penolakan istrinya.

__ADS_1


" Engga, Kamu sakit yank engga baik kena udara malam. Lagian disini juga udaranya dingin banget. Kamu tidur ya, biar Alka Aku geser jauh " ucap Arin di angguki suaminya.


" Dingin yank " rintih Rafa menutupi seluruh tubuh dengan selimut.


" Iya tapi badan Kamu panas banget yank, jangan pakai selimut tinggi kaya gitu " ucap Arin merebahkan diri di tengah suami juga putranya yang telah Ia beri pembatas pada dinding karena posisi ranjang menempel pada dinding.


" Biar hangat " ucap Arin memeluk suaminya.


" Engga Kamu nanti ketularan, Kamu jauh jauh sana. Nanti ASI nya Alka terpengaruh lagi " ucap Rafa melepas pelukan istrinya.


Tak mau istrinya ikut sakit yang akan membuat Alka juga sakit, Rafa memilih membalikkan tubuh memunggungi Arin dan memberikan pembatas guling di antara mereka berdua. Arin tak tertidur karena menjaga suami juga anaknya. Matanya yang kantuk, coba di buka lebar oleh seorang istri juga ibu yang tak tega meninggalakan kedua belahan hatinya itu dan terlelap.


***


Esok hari, tepatnya pukul 07.00, Arin meminta bantuan suoir Neneknya membawa Rafa ke rumah sakit karena tubuh makin lemas suaminya. Wajah pucat juga suhu tubuh semakin tinggi tak berdaya, membuat Arin khawatir juga Mamanya yang sudah melihat sendiri kondisi Rafa.


Arin menitipkan Alka pada Mamanya dan membawa suaminya ke rumah sakit terdekat untuk bisa mnedapat pertolongan. Di rumah sakit, cepat Rafa mendapatkan pengobatan dari Dokter jaga IGD dengan memintanya ke lab memeriksakan darah yang ternyata positif typus, yang mengharuskan dirinya menginap di rumah sakit. Sudah tak mampu lagi tersadar begitu selesai tes darah, Rafa hanya tertidur karena tak sanggup menahan kondisi panas dalam tubuhnya.


Arin menghubungi orangtua suaminya dan mengabarkan jika Rafa kini tengah idrawat di rumah sakit di Bandung. Begitu mendengar kabar menenatunya, kedua orangtua Rafa pun langsung berangkat ke Bandung saat itu juga. Rafa memang tak terlalu peduli akan kesehatannya ketika sibuhk, dan hanya ada Arin selalu mengingatkan setiap hari untuk vitamin juga makan. namun tak adanya Arin membuat Rafa telat makan hingga hanya makan ketika malam hari, dan selalu kehujanan sampai tubuhnya sudah memprotes ingin istirahat.

__ADS_1


Arin masih menyayangkan tingkah nekat suaminya yang datangdalam kondisi sakit. Melihat suaminya terbaring tak berdaya dengan selang infus, Ia membayangkan banyak hal buruk yang mungkin terjadi dalam perjalanan suaminya kemarin. tak sangguo lagi membayangkan dan cepat membuyarkan pikirannya, Arin mencium lembut kening suami yang masih juga belum sadar tersebut. Bibirnya begitu pucat, dan wajah terasa panas membuat Arin khawatir akan kondisi suaminya. Tak pernah didapatinya Rafa sakit sampai seperti ini selama mereka bersama, yang mungkin hanya terserang flu saja paling parah.


Matanya berkaca kaca tak tega melihat kondisi suaminya, tangan terasa pansa itu di genggamnya erat, sembari bibir berucap untuk meminta suaminya cepat sehat demi dirinya juga Alka. Arin sendiri merasa bersalah juga bertanggung jawab akan apa yang menimpa suaminya. Perasaan begitu bodoh juga menyiksa kuat karena meninggalkan suaminya sendiri, bahkan sama sekali tak menghubungi hanya untuk menanyakan kabar juga mengingatkan makan serta vitamin, usai pertengkaran mereka.


__ADS_2